Pagi pertama di penthouse Kael, Aria bangun pukul setengah tujuh. Aroma kopi dari dapur—Aria mengenali aroma kopi tubruk, kopi yang biasa Pak Hartono buat di restoran.
Aria turun ke dapur. Mengenakan kaos abu-abu sederhana dan celana jean—pakaian biasa yang dia bawa dari kontrakan Mangga Besar, bukan pakaian baru dari Pacific Place yang masih tergantung di walk-in closet.
Kael di dapur. Mengenakan kaos hitam dan celana training—lebih casual dari yang Aria pernah lihat. Memasak telur orak-arik di pan kecil di kompor.
Aria membeku di tangga.
"Mas Kael."
"Pagi, Aria. Anda bangun lebih cepat dari yang saya kira."
"Anda... masak?"
"Iya."
"Anda... tahu cara masak?"
Kael tersenyum kecil. Pertama kalinya Aria melihat Kael tersenyum—senyum nyata, bukan senyum sosial yang dia pakai di pernikahan.
"Saya bukan koki, tapi saya bisa telur orak-arik dan kopi. Itu menu sarapan saya tujuh tahun."
Aria duduk di kursi pantry—kursi kayu sederhana di island dapur. Kael menyajikan telur ke piring—porsi kecil, dengan sedikit garam dan merica. Memberi ke Aria.
"Aria. Ada roti gandum di atas pantry kalau Anda mau. Selai stroberi di kulkas, baru saya beli kemarin. Saya tidak tahu apa yang Anda suka."
"Mas. Telur cukup. Terima kasih. Saya juga mau kopi."
Kael menuang kopi dari teko ke cangkir. Memberi cangkir ke Aria. Lalu duduk di kursi seberang dengan piringnya sendiri dan cangkir kedua.
Mereka makan dalam diam selama tiga menit. Aria mengamati Kael dari sudut matanya.
Kael—di pakaian rumah yang sederhana, tanpa setelan hitam mahal yang dia pakai di kantor—kelihatan lebih muda dari tiga puluh dua tahun. Lebih manusia. Rambut yang biasanya disisir rapi sekarang sedikit acak dari bantal. Mata yang biasanya dingin sekarang lebih lembut, mungkin karena belum sepenuhnya bangun.
"Mas Kael."
"Iya, Aria."
"Saya... saya boleh tanya sesuatu?"
"Boleh. Anda istri saya, secara hukum. Anda boleh tanya apa pun—saya akan jawab kalau saya bisa."
"Mas. Anda... benar tidak punya pacar selama ini? Atau yang sebelumnya?"
Kael menatap Aria. Cangkir kopi di tangannya. "Aria. Saya tiga puluh dua. Belum pernah pacaran serius."
"Mas. Sungguh?"
"Sungguh."
"Tapi Anda tampan. Anda kaya. Pasti banyak yang—"
"Aria. Saya tahu banyak perempuan tertarik. Saya tidak buta—saya pernah lihat tatapan mereka di acara amal Wijaya Group, di kantor, di restoran. Tapi ayah saya selalu... screening. Beliau tidak mau saya menikah dengan perempuan yang akan jadi masalah politik untuk organisasi atau untuk dia secara pribadi."
"Mas. Saya... saya juga masalah politik?"
Kael menatap Aria dengan ekspresi yang Aria tidak bisa baca penuh. "Aria. Anda... berbeda."
"Berbeda?"
"Anda tidak punya keluarga politik. Tidak ada saudara di pemerintah, tidak ada bibi yang dewan komisaris bank, tidak ada paman yang konglomerat. Anda... aman secara politik, dari sudut pandang ayah saya."
"Mas. Itu tidak romantis untuk dibilang ke pengantin baru."
Kael tertawa kecil. "Aria. Kontrak ini bukan romantis. Saya pikir kita berdua sudah jelas tentang itu sejak hari pertama."
"Iya, saya tahu. Saya cuma menggoda Anda."
Kael menatap Aria. Senyumnya bertahan sebentar lagi—lima detik. Dia kembali ke kopinya.
Mereka makan dalam diam lebih lama. Aria menghabiskan telurnya, minum kopi yang ternyata enak.
Setelah makan, Kael bilang: "Aria. Saya ada rapat di kantor pukul sembilan. Pak Saman sudah siap mengantar Anda kalau mau—ke kampus untuk ambil dokumen skripsi, atau ke mall, atau ke tempat lain. Pak Saman akan ikuti instruksi Anda."
"Mas. Anda... pulang malam?"
"Iya. Biasanya. Sembilan, sepuluh, kadang lebih."
Aria menatap kopi di tangannya. Lalu bilang sesuatu yang dia tidak rencanakan:
"Mas. Sebelum Anda pergi—saya boleh lihat luka di tangan kanan Anda?"
Kael membeku. Cangkir kopi berhenti di pertengahan ke bibirnya.
Aria—yang kemarin malam, saat Kael membuka kancing manset di butik, tidak sengaja melihat luka di lengan atas Kael yang masih segar—sekarang tidak menyembunyikan kekhawatirannya.
"Aria. Itu bukan apa-apa. Cuma goresan kecil."
"Mas. Itu luka segar dengan jahitan medis. Saya melihat dengan jelas di butik, tapi saya tidak bilang apa-apa karena ada sales. Saya mungkin bisa bantu ganti perban kalau perlu."
Kael menatap Aria. Lama—sepuluh detik. Cangkir di tangannya akhirnya dia letakkan ke meja.
Lalu—pelan—mengangkat lengan kanan kaosnya sampai ke bahu.
Luka di lengan atas kanan. Berisi jahitan medis—rapi, jelas dilakukan oleh dokter profesional. Sekitar tujuh sentimeter panjangnya. Belum sembuh sepenuhnya—masih ada bekas darah kering di pinggir, kulit di sekitar yang kemerahan.
"Mas Kael. Itu... pisau?"
"Iya."
"Kapan?"
"Empat hari lalu. Hari Selasa malam."
Aria menutup mulutnya dengan tangan—reflek yang dia tidak bisa hentikan.
"Mas. Anda... Anda mafia. Anda bertarung sendiri? Bukan mengatur dari kantor?"
Kael menutup lengannya kembali dengan kaos. Mengusap dengan tangan kiri. "Aria. Saya bukan bos yang duduk di kantor sambil minum wiski dan menonton orang lain berkelahi. Saya... saya operasional. Saya turun ke lapangan kalau ada yang kritis."
"Mas. Itu... itu tidak biasa untuk anak konglomerat."
"Aria. Saya tidak biasa. Itu yang ayah saya selalu bilang ke saya, dengan nada yang dia tidak yakin pujian atau kritik."
Aria menatap Kael lama. Mencoba memproses pria yang dia menikahi yang—ternyata—lebih kompleks dari yang dia kira.
Lalu, sesuatu yang dia tidak rencanakan, dia berkata:
"Mas. Boleh saya lihat lagi nanti malam? Saya bisa ganti perban dengan benar. Saya pernah ikut kursus first aid di kampus tahun lalu—untuk persyaratan kaderisasi BEM."
Kael menatap Aria. Mata gelap yang Aria tidak bisa baca.
"Aria. Saya... saya tidak butuh."
"Mas. Saya yang mau. Saya istri Anda—setidaknya formal selama setahun. Setidaknya perban bisa saya bantu."
Kael diam. Lebih lama dari kemarin malam di sofa.
"OK. Nanti malam. Pukul sembilan biasanya saya pulang. Tapi saya minta maaf kalau lebih malam."
Kael berdiri. Pergi ke kamarnya untuk berpakaian kerja.
Aria duduk di pantry. Menatap cangkir kopinya yang sudah dingin. Memikirkan.
Pria yang dia menikahi tidak seperti yang dia bayangkan saat di ruang kerja Pak Wijaya seminggu lalu. Lebih kompleks. Lebih... sedih, kalau Aria boleh menamai apa yang dia lihat di mata Kael pagi ini.
Aria tidak yakin apakah itu lebih baik atau lebih buruk untuk setahun ke depan.