Pukul sembilan malam, Kael pulang. Aria mendengar pintu lift VIP terbuka di luar penthouse, lalu pintu masuk yang dia kunci-buka dengan sidik jari.
Aria sudah selesai dengan tugas kuliahnya—bab tiga skripsi, revisi yang dia rencana selesaikan minggu ini. Duduk di sofa living room, membaca buku yang dia ambil dari rak Kael—buku tentang sejarah samurai era Tokugawa, James Clavell. Bukan buku yang dia harapkan dari koleksi Kael, tapi menarik sekali—pria itu ternyata punya selera bacaan yang serius.
Kael masuk dengan tas kerjanya. Wajahnya... lelah. Lebih lelah dari pagi.
"Aria. Anda masih bangun? Ini sudah jam sembilan."
"Iya, Mas. Saya tunggu Anda untuk perban."
Kael meletakkan tas di meja konsol. Menatap buku di tangan Aria.
"Aria. Anda... baca tentang samurai? Anda ambil dari rak saya?"
"Saya pinjam dari rak Anda. Boleh? Saya tertarik mau baca yang Anda baca."
"Tentu. Anda boleh pinjam apa pun di rak. Itu cuma buku."
Aria menutup buku, melipat sudut halaman 78. "Mas. Anda... Anda mau makan dulu? Saya bisa pesan—"
"Sudah makan di kantor. Pizza dari Pizza Express bawah."
"Mas. Luka—saya boleh lihat?"
Kael menatap Aria. Lama—tujuh detik kira-kira.
Lalu duduk di sofa di sebelah Aria, dengan jarak satu meter. Membuka kemeja kerjanya satu per satu kancing—pelan, hampir hati-hati. Memperlihatkan luka di lengan kanan atas yang Aria lihat tadi pagi.
Aria—yang sudah menyiapkan kotak P3K dari kamar mandi tadi sore, dengan antiseptik betadine, kapas steril, plester perban, dan gunting kecil—duduk lebih dekat. Mulai membersihkan luka dengan kapas yang dia basahi betadine.
Tangan Aria menyentuh kulit Kael. Pertama kalinya.
Aria mencoba untuk fokus pada lukanya. Tidak menatap Kael. Tidak memikirkan kulit yang hangat di bawah jarinya. Tidak menyadari napasnya sendiri yang mendadak lebih cepat.
Tapi dia sadar—dengan jelas, dengan kesadaran yang dia coba abaikan—bahwa Kael tidak bergerak sama sekali. Tidak bernapas, atau bernapas sangat pelan. Diam total saat tangannya disentuh, seperti orang yang takut memecahkan sesuatu yang rapuh.
Aria membersihkan luka sampai bersih. Kael menahan rasa sakit—Aria bisa rasakan dari ketegangan otot di lengannya. Aria mengganti perban dengan plester baru. Selesai dalam lima menit.
"Mas. Sudah."
Kael tidak bergerak. Masih duduk dengan kemeja terbuka, lengan kanannya yang baru diperban di paha kirinya.
"Mas Kael?"
"Aria."
"Iya."
"Anda... Anda tidak takut sama saya?"
Aria menatap Kael. Mata yang sekarang lebih dekat dari yang biasa—jarak satu meter di sofa terasa lebih kecil daripada saat di ruang kerja.
"Mas. Saya seharusnya takut?"
"Iya. Saya... saya bunuh orang. Banyak. Sejak saya umur tujuh belas."
Aria menelan ludah. Tangannya yang masih di tepi perban berhenti bergerak.
"Mas. Berapa orang?"
"Tidak pernah hitung. Pernah saya coba hitung di kepala lima tahun lalu, lalu saya berhenti karena saya tidak mau tahu angka pasti."
"Mas. Mengapa? Mengapa sebanyak itu?"
"Karena ayah saya menyuruh. Karena organisasi membutuhkan. Karena... karena saya tumbuh dengan itu sebagai normal—sebagai bisnis keluarga, sama seperti anak konglomerat lain belajar mengelola pabrik atau jaringan retail."
Aria menutup kotak P3K. Meletakkan di meja kopi.
"Mas. Apakah Anda... menyesal? Saat Anda lakukan, atau setelah?"
Kael menatap Aria. Mata gelap. Penuh sesuatu yang Aria tidak bisa namai—mungkin kesedihan yang sudah lama, mungkin kelelahan moral.
"Aria. Saya tidak boleh menyesal. Itu kelemahan di organisasi seperti kami—penyesalan akan dipakai sebagai alat manipulasi."
"Mas. Tapi... antara menyesal dan tidak menyesal, mana yang Anda sungguhnya rasakan?"
Kael menutup matanya. Lama.
"Aria. Saya tidak tahu lagi. Saya sudah tidak bisa bedakan."
Aria berdiri. Mau pergi ke kamarnya untuk meletakkan kotak P3K kembali.
Kael menggenggam pergelangan tangan Aria. Pelan—gestur yang tidak memaksa, lebih seperti permintaan.
"Aria."
"Iya, Mas."
"Terima kasih. Untuk perban. Untuk... untuk mendengarkan."
Aria menatap Kael. Mata mereka bertemu—lebih lama dari yang Aria duga, lebih lama dari yang sopan untuk istri kontrak dan suami kontrak.
"Mas. Sama-sama."
Kael melepas tangan Aria—pelan, hati-hati, seperti dia takut menyakitinya.
Aria pergi ke kamarnya. Tutup pintu pelan di belakangnya.
Berdiri di belakang pintu yang sudah tertutup. Tangan dia masih hangat dari sentuhan Kael—dari pergelangan tangan yang dia genggam, dari kulit lengan Kael yang dia perban, dari kontak yang seharusnya tidak ada di kontrak.
Aria menatap dirinya di cermin di kamarnya.
"Aria. Anda bercanda. Anda tidak boleh... merasa apa pun untuk pria ini. Dia mafia. Dia bunuh orang. Dia bos kontrak Anda. Setahun lagi Anda akan cerai."
Tapi tubuhnya—yang masih hangat dari sentuhan Kael—bilang berbeda.
Aria tidur dengan jantung yang berdebar lebih cepat dari yang dia mau akui ke dirinya sendiri.