Dua minggu setelah pernikahan, Aria mulai... beradaptasi.
Pukul tujuh pagi: sarapan dengan Kael (kalau Kael sudah pulang dari semalam atau dia di rumah). Pukul delapan: berangkat ke kampus dengan Pak Saman, yang ternyata baik dan banyak bercerita di mobil tentang masa muda dia di Solo. Pukul empat sore: pulang. Pukul tujuh malam: makan malam (sendiri—Kael hampir tidak pernah ada). Pukul sembilan: Kael pulang. Sebentar bersama di sofa atau dapur. Tidur di kamar terpisah.
Hubungan dengan Kael... berubah pelan-pelan dengan cara yang Aria tidak bisa namai. Mereka bicara lebih banyak sekarang. Tentang buku—Aria sudah baca tiga buku dari rak Kael. Tentang film—Kael ternyata suka film dokumenter. Tentang masa kecil, sedikit—tapi Kael selalu menyimpan banyak, hanya kasih cerita potongan.
Aria belum bertemu Pak Wijaya senior lagi sejak pernikahan. Itu bagus.
Suatu Sabtu, Aria pergi ke mall di Plaza Senayan. Sendirian—Pak Saman ada urusan urgent dengan Kael yang Aria tidak ditanya detilnya, dan Aria meyakinkan Kael bahwa dia bisa sendiri ke mall yang sangat ramai di siang hari Sabtu.
"Aria. Saya tidak nyaman."
"Mas Kael. Mall ramai sekali Sabtu. Tidak ada yang akan apa-apa di sana—terlalu banyak saksi, terlalu banyak CCTV. Saya cuma butuh beli buku di Periplus dan makan ramen siang."
"Aria."
"Mas. Saya butuh kebebasan kecil. Saya dua minggu di sini hampir tidak keluar selain ke kampus. Tolong."
Kael akhirnya mengizinkan. Tapi memberi Aria HP cadangan dengan tombol darurat yang sudah dia program.
"Tombol ini, kau tekan, saya datang dalam sepuluh menit. Saya akan tahu lokasi Anda dari aplikasi—saya selalu tahu lokasi Anda lewat HP ini. Bukan untuk monitor. Untuk darurat."
"Iya, Mas. Saya mengerti."
Aria pergi naik Grab—Pak Saman tidak ada, dia tidak mau panggil sopir lain. Ke Plaza Senayan. Sopir Grab tidak tahu siapa Aria, tidak ada protokol khusus.
Toko buku Periplus di lantai 3. Aria menghabiskan dua jam membaca buku di sana, duduk di sudut yang sepi sambil minum kopi dari kafe sebelah. Membeli tiga buku—novel kontemporer Indonesia yang dia ingin baca. Lalu makan siang sendirian di restoran ramen di lantai 4. Ramen tonkotsu yang dia order extra pedas, makan pelan sambil baca buku baru.
Pukul empat sore, Aria turun ke parkiran B2 untuk pulang. Memesan Grab dari aplikasi—mobil sudah di jalan, ETA tiga menit.
Saat dia di lift turun ke parkiran, lift berhenti di lantai dasar. Pintu terbuka.
Empat pria masuk. Tiga puluhan, semua. Wajah biasa—orang Indonesia rata-rata. Pakaian kasual—kemeja, jeans. Tidak mencurigakan.
Aria—yang tidak biasa paranoid—tidak terlalu memperhatikan. Berdiri di sudut lift, dengan tas belanja di pundak, scrolling Instagram di HP.
Lift turun ke parkiran B2. Pintu terbuka.
Tapi salah satu pria menahan pintu lift dengan kakinya. Pintu tidak bisa tertutup, tapi juga tidak dibuka penuh.
Pria lain—yang berdiri di belakang Aria sejak lantai dasar—menutup mulut Aria dengan kain putih yang dia siapkan dari saku.
Aria mau menjerit. Tidak bisa. Kain yang menutup mulutnya berbau—ada zat di kain.
Tubuhnya—yang lebih kecil dari empat pria yang semua di atas seratus tujuh puluh sentimeter—diangkat seperti boneka.
"Aria Pradana. Naga Hitam tidak akan menyelamatkan kau hari ini di parkiran ini."
Pria itu—yang Aria tidak kenal—bicara dengan logat berbeda. Bukan Jakarta. Mungkin dari Surabaya atau Medan, Aria tidak yakin. Aksen yang lebih keras.
Mereka mengangkat Aria. Membawa dia keluar dari lift ke arah van hitam yang menunggu di parkiran—Aria bisa lihat dari sudut matanya, posisi sudah disiapkan.
Tapi sebelum mereka sampai van, Aria—yang masih sadar walaupun pusing dari zat di kain, dengan tangan kiri yang bebas—berhasil menekan tombol darurat di HP-nya yang dia genggam.
Lalu dunia jadi gelap.
***
Aria bangun dengan kepala sakit.
Dia di lantai parkiran. Lantai marmer dingin di pipinya. Kepalanya basah—dia tidak yakin dari apa, mungkin air, mungkin darah.
Suara—keras, tidak nyaman didengar—di sekitarnya. Pukulan. Tubuh menabrak benda. Geraman tertahan.
Aria membuka matanya pelan. Dunia kabur tiga detik, lalu fokus.
Empat pria yang menculiknya—sekarang di lantai. Berdarah. Tiga tidak bergerak. Satu masih bergerak sedikit, tapi dengan kaki di posisi yang Aria tahu patah.
Berdiri di tengah, dengan kemeja putih yang berlumuran darah—sebagian dari pria-pria di lantai, mungkin sebagian dari dia sendiri—dengan pisau Tactical kecil di tangan kanan, adalah Kael.
Kael yang Aria tidak pernah lihat.
Mata yang biasanya coklat tua sekarang... gelap yang berbeda. Seperti predator yang baru menyelesaikan perburuan. Bukan manusia—setidaknya bukan manusia yang Aria kenal selama dua minggu.
Tapi saat Kael melihat Aria sadar—mata mereka bertemu di sudut parkiran—matanya berubah dalam dua detik. Kembali ke Kael yang Aria kenal. Kael yang masak telur orak-arik. Kael yang baca samurai pukul satu pagi.
"Aria."
Kael melompati tubuh-tubuh di lantai. Berlari ke Aria. Berlutut di sebelahnya di lantai marmer.
"Aria. Anda... Anda baik?"
"Mas..."
Kael memeriksa kepala Aria dengan tangan yang masih kotor darah. Mengeluh pelan.
"Anda berdarah di pelipis kiri. Tapi tidak parah—luka kecil, mungkin saat mereka jatuhkan Anda."
"Mas. Mereka..."
"Kobra Merah. Saingan kami sejak lima tahun. Mereka tahu pernikahan kita walaupun kita rahasiakan, dan mereka pikir Anda titik lemah saya."
"Mereka mau saya?"
"Mereka mau menyakiti saya. Dengan menyakiti kau. Itu strategi standar di dunia kami."
Aria menatap Kael. Pria yang darah—entah dari pria-pria yang dia kalahkan, entah dari dia sendiri—menutupi setengah dari kemeja putih yang dia pakai.
"Mas. Anda... Anda tidak apa-apa?"
"Iya, Aria. Saya... saya cepat. Saya turun dari kantor segera setelah notifikasi tombol darurat. Empat menit dari Wijaya Group ke sini."
Kael mengangkat Aria—pelan, satu tangan di belakang lutut, satu di belakang pundak. Membawanya ke Bentley yang sudah menunggu di pintu parkiran.
Pak Saman di setir. Wajah pucat—dia jelas tahu apa yang baru terjadi.
"Pak Kael—"
"Saman. Pulang. Cepat. Bypass ring road."
"Iya, Pak."
Mobil bergerak. Aria di kursi belakang, dengan Kael yang juga masuk di sebelahnya. Kael memegang tangan Aria erat. Tidak melepas.
Aria menatap pria yang baru saja jadi monster di parkiran—mata yang sebentar bukan manusia—untuk menyelamatkan dia.
Dan untuk alasan yang dia tidak bisa jelaskan, peluk Kael—yang baru saja membunuh empat orang, atau setidaknya melukai sangat parah—terasa seperti satu-satunya tempat aman di dunia.
"Mas Kael."
"Iya, Aria."
"Terima kasih. Untuk datang."
Kael menatap Aria. Mata gelap yang sekarang lembut, sangat lembut.
"Aria. Tidak perlu. Anda istri saya. Saya akan datang berapa kali pun yang dibutuhkan."
Mereka pulang ke penthouse dalam diam. Dalam diam yang Aria sekarang sadari adalah diam orang yang sudah sama-sama melalui sesuatu yang tidak bisa dibatalkan.
Tapi ada sesuatu yang berubah di Aria malam itu. Sesuatu yang dia tidak mau akui sampai pun ke dirinya sendiri di cermin. Sesuatu yang berbahaya untuk kontrak setahun ini.
Karena Aria—gadis baik anak pemilik warung, yang tidak pernah jatuh cinta dengan tipe pria yang salah—sekarang sadar bahwa dia... mulai jatuh cinta dengan suaminya.
Suaminya yang mafia. Suaminya yang membunuh. Suaminya yang seharusnya cuma kontrak.
*[Bab 11+ adalah Premium]*