Mereka pulang ke penthouse dalam diam.
Pak Saman berhenti di lobby ganda di basement penthouse—lift VIP khusus penghuni puncak. Aria turun dari Bentley dengan tas belanja yang masih dia pegang dari Plaza Senayan, tas yang sekarang terasa seperti barang dari dunia berbeda. Kael keluar di belakangnya, kemejanya yang putih masih berlumuran darah, walaupun dia menutupi dengan jaket panjang dari boot mobil.
"Saman."
"Iya, Pak."
"Bersihkan parkiran. Hubungi Bagas."
"Iya, Pak."
Pak Saman pergi. Bentley keluar dari lobby. Kael menggandeng tangan Aria—bukan menggenggam erat seperti di mobil, tapi menggandeng pelan seperti gestur normal pasangan—mengantarnya ke lift VIP.
Naik lift. Lantai 35.
Kael membuka pintu penthouse dengan sidik jari. Aria masuk lebih dulu. Kael di belakang, menutup pintu dengan punggung—gestur yang Aria tidak rencana perhatikan tapi yang dia perhatikan.
Aria berbalik. Kael berdiri di pintu, kemeja putih masih berlumuran darah—tidak terlihat di bawah jaket dari luar, tapi sekarang dia melepas jaket dan kembali kelihatan dengan jelas. Rambut acak. Napas berat dari adrenalin yang belum sepenuhnya hilang dari tubuhnya.
"Mas Kael."
"Aria."
"Anda... Anda butuh ganti baju."
"Iya."
Kael melepas kemejanya di tengah ruang tamu—gestur yang lebih praktis dari sopan, dia jelas tidak peduli sopan santun pakaian setelah malam yang dia baru lalui. Di sana, di tubuhnya—yang Aria belum pernah lihat sepenuhnya—Aria melihat lebih banyak luka. Bekas. Bukan baru. Tapi banyak.
Punggung dengan tujuh bekas tipis dari benda tajam. Lengan dengan dua bekas yang lebih besar. Sebuah tato kecil di bahu kanan—naga kecil dalam gaya tradisional Jepang, hampir hilang dari usia dan paparan matahari—yang Aria sekarang tahu adalah simbol Naga Hitam.
Kael berdiri di tengah ruang tamu. Telanjang dada. Menatap Aria yang masih di dekat pintu.
"Aria. Anda... Anda baik? Selain pelipis."
"Saya... iya."
"Kepala Anda. Pelipis kiri. Saya cek di mobil tadi—tidak parah, tapi perlu dibersihkan."
"Saya cuci dulu."
Aria pergi ke kamar mandi tamu di lantai bawah—lebih dekat dari kamar utama. Membasuh wajah, kepala. Darah dari pelipisnya—luka kecil sekitar dua sentimeter, tidak parah seperti yang Kael bilang. Aria menggunakan kapas dengan air hangat untuk bersihkan.
Saat Aria keluar dari kamar mandi, Kael sudah di dapur. Mengenakan kaos hitam baru yang dia ambil dari kamar tamu—kamar barunya selama dua minggu ini. Sedang menyeduh teh di teko keramik.
"Aria. Duduk di sofa. Saya bawakan teh."
Aria duduk di sofa kulit hitam yang sudah dia kenal. Kael membawakan teh hangat dari dapur—dua cangkir keramik, satu untuk Aria, satu untuk dia sendiri. Duduk di sofa di seberang dengan jarak yang sama dengan biasanya, satu setengah meter.
"Aria."
"Mas."
"Saya... saya minta maaf untuk hari ini."
"Untuk apa? Anda yang menyelamatkan saya."
"Aria. Saya yang membuat Anda jadi target dari awal. Kalau Anda tidak menikah dengan saya, Kobra Merah tidak akan tahu siapa Anda. Anda tidak akan diculik di mall."
Aria meletakkan tehnya di meja kopi. Berdiri. Berjalan ke sofa Kael—jarak tiga meter yang dia tutupi dalam dua langkah. Duduk di sebelah Kael, dengan jarak yang lebih kecil dari biasa—mungkin tiga puluh sentimeter di sofa yang sama.
Kael menatap Aria. Mata gelap yang Aria sekarang tahu adalah mata Kael yang khawatir, bukan Kael yang dingin.
"Aria—"
"Mas Kael."
"Iya."
"Boleh saya... boleh saya periksa luka Anda? Yang lama. Saya... saya tadi melihat punggung Anda saat Anda lepas kemeja. Bekas."
Kael diam. Lama—mungkin sepuluh detik.
Lalu mengangguk pelan.
Aria meletakkan tangannya di bahu Kael. Pelan—gerakan yang tidak agresif, gerakan yang memberi Kael kesempatan untuk menarik diri kalau dia mau. Mengangkat kaos belakangnya sedikit.
Punggung Kael. Bekas-bekas yang Aria sekarang lihat lebih jelas. Tujuh, delapan bekas. Beberapa horizontal—pukulan rotan atau ikat pinggang. Beberapa diagonal—pisau, dengan bekas jahitan medis lama.
"Mas. Yang ini..." Aria menyentuh bekas terbesar di punggung tengah. "Yang ini... pukulan?"
"Bapak saya. Lima belas tahun yang lalu. Saat saya... menolak misi pertama saya."
Aria menutup matanya sebentar. Tangannya masih di punggung Kael.
"Mas Kael."
"Aria."
"Saya... saya tidak akan bertanya."
"Aria."
"Iya."
"Anda boleh bertanya. Saya akan jawab."
Aria menyentuh punggung Kael dengan jari yang gemetar. Bekas itu di bawah jarinya—kasar, lama, sudah menyatu dengan kulit.
"Mas. Anda... Anda berapa umur saat itu?"
"Tujuh belas. Kelas tiga SMA."
"Misi apa?"
"Membunuh."
Aria membeku. Tangannya di punggung Kael berhenti bergerak.
"Mas..."
"Aria. Saya menolak. Itu pertama dan satu-satunya kali saya menolak. Bapak saya menghukum saya—dengan rotan, di basement rumah, selama satu jam. Lalu... lalu beliau memaksa saya melihat eksekusi yang seharusnya saya lakukan. Beliau yang membunuh, di hadapan saya. Untuk... untuk menanam pelajaran bahwa saya akan tetap melihat darah, dan dengan tangan saya atau tangan dia, sama saja."
Aria—yang tidak pernah kenal kekerasan dalam hidupnya—sekarang mendengar cerita pria yang dia menikahi dua minggu lalu tentang masa kecilnya yang dia tidak bisa bayangkan.
Tangan Aria—yang masih di punggung Kael—bergerak naik. Pelan. Ke bahu. Ke leher belakang.
Kael tidak bergerak. Tidak bernapas, atau napas yang sangat pelan.
"Mas."
"Iya."
"Saya... saya tidak tahu kenapa saya melakukan ini."
Aria—dengan tangan yang gemetar—mengangkat wajah Kael ke arahnya. Pelan. Tidak memaksa.
Mata mereka bertemu. Lebih dekat dari yang biasa—jarak yang Aria tidak rencanakan tapi yang tidak menarik.
Kael tidak menarik diri.
"Aria."
"Iya."
"Jangan."
"Mas?"
"Aria. Kalau Anda sentuh saya lagi, dengan cara seperti ini, saya tidak bisa hentikan. Saya... saya sudah dua minggu menahan. Saya tidak boleh."
Aria menelan ludah. Tangannya—yang masih di pipi Kael—tidak menarik.
"Mas Kael. Saya... saya tidak tahu apa yang saya rasa."
"Saya juga, Aria. Saya juga."
Mereka diam. Lama—mungkin tiga puluh detik. Tangan Aria di pipi Kael. Mata bertemu. Napas yang pelan-pelan jadi sinkron tanpa mereka rencanakan.
Akhirnya, Aria menarik tangan. Mundur dari sofa. Sentuhan yang putus terasa lebih dingin dari sentuhan yang ada.
"Mas. Saya... saya pulang ke kamar. Sekarang. Sebelum saya..."
"Iya, Aria. Pergi."
Aria pergi. Naik tangga ke kamar utama. Tutup pintu pelan.
Berdiri di belakang pintu yang tertutup. Tubuhnya gemetar. Bukan dari ketakutan—dia sudah tahu Kael tidak berbahaya untuknya.
Dari sesuatu yang lain. Yang lebih bahaya.