Tiga hari setelah penyergapan di mall, Aria bangun pukul lima pagi. Hujan turun deras di luar—suara hujan di kaca jendela kamar utama, suara air di pipa atap.
Dia tidak bisa tidur lagi. Tiga malam terakhir, dia tidur dengan terputus-putus—bangun setiap dua jam, memikirkan Kael, memikirkan apa yang akan terjadi, memikirkan dirinya sendiri yang dia tidak kenal lagi.
Aria turun ke dapur untuk minum air. Mengenakan kaos hitam Kael yang dia pinjam dari kamar tamunya tanpa izin (hari pertama dia di penthouse, dia ambil dari lemari yang dia kira lemari tamu) dan celana training sendiri.
Kael ada di sofa living room. Buku terbuka di pangkuannya. Tapi dia tidak membaca—Aria perhatikan, halaman tidak berganti dalam tiga puluh detik dia perhatikan dari tangga. Menatap hujan di kaca yang menghadap Sudirman.
"Mas Kael."
Kael berbalik. Wajahnya kelihatan tidak tidur—mata yang sedikit merah, rambut yang acak.
"Aria. Anda tidak tidur?"
"Anda juga tidak."
Kael menutup buku—Aria perhatikan judulnya: filsafat Stoik, Marcus Aurelius. "Saya jarang tidur. Saya sudah jelaskan minggu lalu."
Aria berjalan ke sofa. Duduk di seberang Kael—sama jarak seperti sebelumnya. Bukan di sebelah, belum.
"Mas."
"Iya."
"Saya... saya mau jujur sama Anda."
Kael menatap Aria. Tegang, tapi bukan menolak.
"Aria."
"Mas. Tiga hari ini saya... saya tidak bisa berhenti memikirkan Anda. Bukan tentang penyergapan, bukan tentang Kobra Merah. Tentang Anda. Tentang yang saya rasakan saat saya pegang punggung Anda Sabtu malam."
Kael tidak menjawab langsung. Buku di pangkuannya dia letakkan ke meja kopi.
"Mas. Saya tahu ini... ini tidak boleh. Kontrak kita bilang kita cuma formal. Saya tahu Anda janji tidak menyentuh saya. Saya tahu pernikahan ini... pernikahan ini palsu, ada untuk politik organisasi Anda."
"Aria—"
"Mas. Tapi saya... saya tidak bisa bohong sama diri saya lagi. Saya merasakan sesuatu untuk Anda. Yang... yang nyata. Yang bukan dari rasa terima kasih karena Anda menyelamatkan saya. Yang dimulai sebelum penyergapan, mungkin sejak Anda perban yang saya ganti malam itu."
Kael menatap Aria. Lama—lebih lama dari yang Aria duga.
Lalu berdiri. Berjalan ke seberang ruangan. Berhenti di kaca yang menghadap Jakarta. Menatap hujan yang turun deras.
"Aria. Saya juga."
Aria membeku di sofa.
"Mas?"
"Aria. Sejak hari pertama saya melihat Anda di ruang ayah saya. Di kebaya hitam yang Anda pikir terlalu sederhana untuk konglomerat. Mata Anda yang... saya tidak tahu kata yang tepat—mata yang tidak takut, walaupun seharusnya takut. Anda menatap balik saya saat saya menatap Anda untuk menilai. Tidak ada perempuan lain pernah lakukan itu di ruangan saya."
Kael berbalik. Menatap Aria dari jarak lima meter di ruangan.
"Aria. Saya... saya juga merasakan. Dari hari pertama. Saya menahan dua bulan."
"Mas Kael."
"Tapi Aria. Ini... ini berbahaya. Untuk Anda. Untuk saya. Untuk... rencana saya."
"Rencana?"
Kael menutup matanya. Lama.
"Aria. Saya akan jelaskan nanti. Tidak sekarang. Sekarang saya cuma bisa bilang—saya merasakan sama dengan Anda, dan saya takut."
Aria berdiri dari sofa. Berjalan ke arah Kael—menutupi jarak lima meter dalam tujuh langkah. Berhenti di hadapannya. Mata mereka—Aria 168 sentimeter, Kael 185 sentimeter—Aria harus mengangkat dagu untuk menatap.
"Mas Kael. Saya tidak peduli rencana Anda sekarang. Saya... saya peduli sekarang ini, di pagi hujan ini, di hadapan Anda."
Kael menatap Aria. Mata gelap yang Aria sekarang tahu adalah mata Kael yang takut, bukan Kael yang dingin.
"Aria—"
"Mas."
Aria mengangkat tangan kanannya. Menyentuh pipi Kael. Pelan—gerakan yang dia rencanakan tiga hari di kepalanya, gerakan yang dia tahu dia akan lakukan kalau Kael tidak menolak.
Kael menutup matanya. Bersandar pelan ke tangan Aria—gerakan kecil, tapi yang Aria rasa dengan jelas.
"Aria. Kalau saya cium Anda sekarang, saya tidak akan bisa kembali ke kontrak."
Aria menelan ludah. "Mas. Saya tidak meminta Anda kembali."
Kael membuka matanya. Mata yang sekarang lebih gelap dari biasanya—bukan dingin, tapi penuh.
Lalu, pelan—bukan terburu, dengan kelembutan yang Aria tidak duga dari pria yang membunuh empat orang tiga hari lalu—dia menundukkan kepala. Mendekatkan bibirnya ke bibir Aria.
Cium pertama.
Pelan. Hati-hati. Seperti dia takut Aria akan menarik diri di detik terakhir.
Aria—yang berciuman dengan dua pacar di kuliah, tapi tidak pernah berciuman seperti ini—menjawab dengan tubuh yang dia tidak kontrol. Tangannya pindah dari pipi Kael ke leher.
Kael memegang pinggang Aria—satu tangan, ringan, tidak menarik tapi tidak juga melepas. Cium itu—yang hati-hati di awal—jadi lebih dalam saat Aria menunjukkan dia tidak mau berhenti.
Aria meletakkan tangan kedua di dada Kael. Tangannya merasakan denyut nadi pria itu—cepat. Sama dengan denyut nadi Aria sendiri.
Mereka berciuman lama. Di depan kaca yang menghadap Sudirman. Hujan turun deras di luar. Lampu-lampu Jakarta yang masih menyala di gedung-gedung pukul lima pagi.
Akhirnya, Kael melepas. Menjauhkan kepala dengan jarak yang masih kecil—mungkin sepuluh sentimeter. Menatap Aria.
"Aria."
"Mas."
"Saya... saya cinta kau."
Aria menatap pria di depannya. Pria yang seharusnya cuma kontrak. Yang seharusnya cuma rute keluar untuk hutang ayahnya.
"Mas Kael."
"Iya."
"Saya juga. Saya cinta Anda."
Mereka berdiri di depan kaca. Memeluk. Lama—mungkin sepuluh menit. Hujan turun lebih deras di luar.
Tapi Kael tidak membawa Aria ke kamar. Tidak pagi ini.
"Aria. Pulang ke kamar Anda. Tidur."
"Mas?"
"Aria. Saya tidak mau buru-buru. Kita berdua butuh tidur dulu, butuh memproses. Dan saya... saya butuh memberitahu Anda sesuatu sebelum kita lebih jauh. Sesuatu yang akan mengubah cara Anda lihat saya."
"Apa, Mas."
Kael menatap mata Aria. Lebih dekat. Tangan masih di pinggangnya.
"Aria. Saya... saya akan menggulingkan ayah saya. Saya merencanakan kudeta internal. Itu akan terjadi dalam tiga bulan—sudah hampir siap."