Aria duduk di sofa. Kael di sofa di seberang—mereka tidak bisa duduk di sofa yang sama, tidak setelah ciuman, dia butuh jarak fisik untuk bicara. Pukul enam pagi sekarang. Hujan masih turun, tapi sudah lebih ringan.
"Mas. Anda... Anda akan menggulingkan ayah Anda."
"Iya, Aria."
"Mengapa?"
Kael menarik napas. Lama.
"Aria. Saya tumbuh di Naga Hitam sejak saya umur sebelas—saat ayah saya pertama kali bawa saya ke pertemuan organisasi. Saya melihat semuanya selama dua puluh satu tahun. Pembunuhan. Pemerasan toko-toko di Glodok dan Tanah Abang. Perdagangan manusia perempuan dari kampung-kampung Sumatera Utara untuk klub malam. Perdagangan obat dari Aceh ke anak-anak SMA di klub-klub Senopati. Saya melihat—sejak saya umur lima belas—bagaimana ayah saya membangun kekayaan dari penderitaan ribuan orang yang dia bahkan tidak peduli namanya."
"Mas."
"Aria. Saya... saya bagian dari itu. Tujuh belas tahun terakhir. Sebagai operatif. Sebagai prajurit ayah saya yang dia banggakan ke kolega. Saya... saya membunuh banyak orang—saya bilang ke Anda di sofa dua minggu lalu, saya tidak hitung pasti."
"Mas Kael."
"Tapi setelah ibu saya meninggal—lima tahun lalu, kanker payudara stadium empat—saya mulai berpikir berbeda. Ibu saya... ibu saya menyembunyikan banyak dari saya saat saya kecil. Beliau berusaha melindungi saya dari Bapak walaupun beliau tidak bisa sepenuhnya. Saya tahu sekarang—dari surat-surat yang saya temukan setelah beliau meninggal—ibu saya merencanakan kabur dari Bapak. Bersama saya. Tapi kanker datang lebih cepat dari rencana."
"Mas. Saya turut berduka."
"Aria. Lima tahun saya merencanakan. Pelan-pelan. Saya rekrut orang-orang dalam organisasi yang tidak puas dengan ayah saya—operatif yang Bapak permainkan, akuntan yang muak dengan korupsi internal, sopir-sopir lama yang loyal pada ibu saya bukan Bapak. Saya kumpulkan bukti—laporan keuangan ilegal, video pembunuhan dari CCTV organisasi yang Bapak pikir sudah dihapus, daftar korban dengan nama dan tanggal dan lokasi. Saya... saya akan menyerahkan ayah saya ke polisi yang tidak korup—ada satu komandan di Mabes Polri, Komandan Hartawan, yang sudah saya komunikasi diam-diam dua tahun. Lalu, saya akan mengubah Naga Hitam—bukan hancurkan total, karena terlalu banyak orang akan mati di pertarungan suksesi yang chaotic. Saya akan mengubahnya jadi... bisnis legal. Wijaya Group secara resmi tetap ada, tapi tanpa sayap kriminal."
Aria menatap Kael. Mencerna semua selama tiga puluh detik.
"Mas. Itu... itu rencana yang gila."
"Saya tahu, Aria."
"Bapak Anda—Pak Wijaya—beliau akan tahu suatu hari?"
"Iya, pasti. Itu sebabnya saya butuh Anda."
"Saya?"
Kael menatap Aria. "Aria. Pernikahan ini—Bapak saya minta saya menikah untuk politik internal. Saya tahu beliau akan minta saya menikahi anak kolega bisnis yang loyal—anak Mr. Tan dari Singapore yang punya investasi besar di kami, atau cucu Pak Hadi dari kelompok Surabaya. Saya menolak semua nominasi beliau. Saya bilang saya cuma akan menikahi perempuan yang... yang netral. Yang bukan dari dunia kami."
"Mas. Anda... Anda tahu bapak Anda akan pilih perempuan seperti saya?"
"Tidak persis Anda. Tapi tipe Anda. Saya berharap, dengan menolak menikahi anak kolega, Bapak akan cari yang seperti ini—perempuan dari keluarga yang punya hutang besar, yang tidak punya jaringan untuk melindungi diri, yang Bapak bisa kontrol lewat ancaman ke keluarga."
"Mas Kael. Anda menikahi saya... untuk rencana?"
Kael menatap Aria. Mata yang sekarang penuh hal-hal yang Aria belum bisa beri nama.
"Aria. Iya. Awalnya. Saya menikahi tipe perempuan tertentu—yang bisa saya selamatkan secara finansial setelah kudeta, dan yang punya alasan tidak terlibat dengan saya secara emosional. Tapi Anda... Anda ternyata berbeda dari yang saya rencanakan."
"Berbeda?"
"Aria. Saya tidak bayangkan akan jatuh cinta dengan pengantin saya. Saya bayangkan akan melindungi Anda—sebagai imbalan untuk Anda jadi alibi pernikahan saya selama tiga bulan—dan mengirim Anda dengan tunjangan setelah saya menggulingkan Bapak. Hidup Anda kembali normal di Glodok, restoran ayah Anda dibangun ulang, semua masalah selesai. Sederhana."
"Mas. Tapi—"
"Aria. Saya jatuh cinta. Hari ke-empat di butik Pacific Place. Saat Anda mencoba gaun sederhana yang Anda pilih sendiri, walaupun saya bisa membayar yang paling mahal. Saat Anda menatap saya di cermin dengan mata yang... yang tidak meminta apa pun dari saya, yang tidak melihat saya sebagai dompet atau sebagai bahaya. Saya... saya tidak siap untuk itu."
Aria menutup matanya. Air mata kecil di sudut.
"Mas Kael."
"Aria. Saya... saya minta maaf saya tidak jujur dari awal. Tentang rencana, tentang perasaan saya, tentang semuanya."
Aria membuka mata. "Mas. Saya juga tidak jujur dari awal. Saya pikir saya akan tahan setahun, lalu pulang ke Glodok dengan tunjangan dan ayah saya. Saya tidak menyangka saya akan... saya akan begini."
Kael menatap Aria dari sofa di seberang.
"Aria. Apa yang kita lakukan sekarang?"
"Mas."
"Iya."
"Saya... saya membantu Anda. Dengan rencana kudeta."
"Aria. Tidak. Berbahaya. Bapak saya akan membunuh siapa pun yang dia pikir terlibat."
"Mas Kael. Saya istri Anda. Resmi. Dengan nama saya di KTP Anda. Saya sudah... saya sudah dalam bahaya hanya karena saya menikahi Anda, terlepas dari rencana."
Kael menatap Aria. Lama.
"Aria. Saya akan melindungi Anda dengan semua yang saya punya."
"Saya tahu, Mas. Tapi saya juga akan melindungi Anda. Bukan karena utang nyawa di mall. Karena saya cinta Anda."
Mereka berciuman lagi—kali ini Aria yang berdiri dan menyeberang. Pelan. Lama.
Lalu Kael menggendong Aria—yang tidak protes, yang malah meletakkan kepalanya di dada Kael—ke kamarnya.
Bukan kamar tamu yang dia tidur selama tiga minggu.
Kamar utama. Yang seharusnya kamar Aria sendiri.
Mereka duduk di tepi ranjang king size. Kael menatap Aria—mata gelap yang sekarang lembut, sepenuhnya lembut.
"Aria. Saya... saya cuma mau tidur dengan Anda. Bukan tidur. Cuma berbaring. Saya ingin... saya ingin merasakan Anda dekat. Belum lebih dari itu."
Aria mengangguk—dengan tangan yang masih gemetar tapi mata yang sudah tidak takut.
Mereka berbaring. Pakaian masih lengkap—Kael dengan kaos hitam, Aria dengan kaos hitam Kael yang dia pinjam dan celana training. Kael memeluk Aria dari belakang. Tangan dia di pinggang Aria, ringan.
Aria menutup mata.
Dengan suami yang dia tidak pernah berniat mencintai. Yang akan menggulingkan ayahnya sendiri dalam tiga bulan. Yang akan mengubah dunia bawah Jakarta.
Dan yang sekarang, di pelukannya di kamar utama yang seharusnya kamar dia, terasa seperti rumah.