Tiga hari setelah malam Kael cerita rencananya, Aria pulang dari kampus pukul lima sore.
Penthouse kosong. Kael belum pulang—mungkin masih di kantor untuk rapat sore yang Aria tahu dia ada.
Aria mandi. Memakai pakaian rumah—kaos abu-abu sederhana yang dia bawa dari Mangga Besar dan celana pendek, bukan pakaian baru dari Pacific Place yang masih tergantung tidak terpakai.
Pukul tujuh malam, Kael pulang. Dengan setelan hitam yang biasa—rapi seperti pagi, walaupun rambut sedikit acak dari angin Jakarta sore yang dia lewati saat keluar mobil. Tas kerja di tangan kiri.
"Aria."
"Mas Kael."
Kael melepas jasnya, menggantung di gantungan dekat pintu masuk. Dasinya dia longgarkan tapi belum dia lepas. Berjalan ke arah Aria yang duduk di sofa dengan buku.
Tanpa kata, dia duduk di sebelah Aria—jarak yang sekarang nol, tidak ada kursi kosong di antara mereka. Memegang tangan Aria.
"Aria. Saya... saya pikir tentang Anda seharian. Sampai Bayu yang baru saya rapat tadi tanya apakah saya OK karena saya distracted."
"Mas. Saya juga. Dosen saya tadi nanya apakah saya kurang tidur."
"Aria."
"Iya."
"Boleh saya cium Anda?"
Aria tertawa kecil. Air mata kecil di sudut matanya—dia sendiri tidak yakin kenapa.
"Mas. Anda suami saya. Tidak perlu izin."
"Aria. Saya minta. Selalu. Itu yang saya bisa kasih untuk kompensasi pernikahan kontrak yang Anda tidak pilih."
Aria menatap pria di sebelahnya. Pria yang pelan-pelan dia kenal lebih dari sekedar bos kontrak.
"Iya, Mas."
Kael menundukkan kepala. Mencium Aria. Pelan dulu—seperti pagi tiga hari lalu di depan kaca. Lalu lebih dalam saat Aria tidak menarik diri.
Tubuh Aria—yang sudah menunggu hari-hari ini—merespons tanpa pikir. Tangannya di leher Kael, di rambutnya. Bibirnya menjawab.
Kael—yang biasanya kontrol sempurna—kelihatan akan kehilangan kontrol kali ini. Aria merasakannya. Napasnya yang lebih cepat. Tangannya yang gemetar di pinggangnya.
"Mas..."
"Aria."
"Mas Kael. Saya... saya mau."
Kael berhenti. Mengangkat kepala. Mata gelap yang sekarang penuh sesuatu—keinginan, ketakutan, kelembutan, semuanya bersamaan.
"Aria. Anda yakin? Sungguh-sungguh yakin?"
"Iya, Mas."
"Aria. Saya... saya tidak akan bisa kembali setelah ini. Tidak ke pernikahan kontrak yang netral. Tidak ke perpisahan yang gampang setahun lagi."
"Saya tahu. Saya tidak meminta Anda kembali."
Kael menatap Aria lama. Mengangkat tangan—pelan, dengan permintaan diam—menggendong Aria seperti pengantin baru. Membawanya naik ke kamar utama yang sekarang menjadi kamar mereka berdua.
Pintu kamar ditutup pelan.
Kael menurunkan Aria ke ranjang. Dengan kelembutan yang Aria tidak pernah duga dari pria yang tubuhnya penuh bekas luka.
Berdiri di hadapannya. Membuka kemeja kerjanya, perlahan—bukan terburu, seperti dia memberi Aria kesempatan untuk berubah pikiran di setiap kancing.
Aria tidak berubah pikiran.
Kael berlutut di tepi ranjang. Mencium kening Aria—gestur yang sama dengan upacara pernikahan tiga minggu lalu, tapi dengan arti yang sekarang sangat berbeda.
"Aria."
"Mas."
"Saya... saya gugup."
"Mas Kael. Anda?"
Kael tertawa pelan—suara yang Aria sayangi, suara yang Kael cuma tunjukkan ke dia.
"Iya. Saya gugup. Saya tidak... saya tidak pernah sayang kepada siapa pun saat ini. Saya tidak ingin salah. Saya tidak ingin Anda menyesal."
Aria meletakkan tangan di pipi Kael—untuk yang ketiga kalinya, gerakan yang sekarang sudah natural.
"Mas. Saya juga gugup. Saya... saya yang innocent, sebenarnya. Saya tidak pernah."
Kael menatap Aria. Mata gelap yang sekarang sangat lembut.
"Aria. Saya tahu. Saya akan... saya akan sangat hati-hati. Saya janji. Kapan pun Anda mau berhenti, saya berhenti."
Aria menutup matanya. "Mas. Saya mempercayai Anda dengan tubuh saya. Saya sudah mempercayai Anda dengan hidup saya sejak parkiran mall."
***
Lampu kamar redup—Kael mematikan lampu utama, hanya cahaya bulan yang masuk lewat tirai tipis dan satu lampu meja kecil di sudut yang berwarna kuning hangat.
Apa yang terjadi malam itu, Aria tidak akan tulis di catatan—tidak ke Lukas, tidak ke teman dekat di kampus, tidak ke siapa pun. Itu untuk dia dan Kael saja.
Yang dia ingat—di tahun-tahun ke depan, saat dia bercerita ke anak yang belum mereka tahu akan datang, atau saat dia mengingat di senyap pagi di mana pun dia berada—bukan detilnya. Tapi rasanya.
Rasanya seperti pulang ke rumah yang dia tidak tahu dia rindukan.
Rasanya seperti pertama kali dia tidak takut—sungguh-sungguh tidak takut—setelah malam restoran terbakar.
Rasanya seperti Kael memberi setiap napasnya, setiap denyut nadinya, untuk memastikan Aria di hadapan dia bahagia.
Aria menyebut nama Kael. Pelan. Berkali-kali. Seperti doa yang dia tidak pernah belajar di sekolah agama tapi yang keluar natural dari mulutnya.
Kael menyebut nama Aria. Lebih pelan. Seperti janji yang dia tidak ucapkan dalam kalimat panjang tapi yang ada di setiap sentuhan.
Dan saat Aria—yang baru saja menemukan apa rasanya tubuh dan jiwa berada di tempat yang sama, dengan satu manusia—menutup matanya, dia merasa untuk pertama kalinya bahwa pernikahan ini bukan kontrak kerja.
Pernikahan ini... pilihan yang dia buat malam ini.
Pilihan yang Kael juga buat.
***
Setelah, mereka berbaring. Aria di pelukan Kael—kepalanya di dada Kael, tangannya di perut Kael, kaki yang menyatu di bawah selimut. Napas berdua bersinkron tanpa mereka rencanakan.
"Mas Kael."
"Iya, sayang."
Pertama kalinya Kael memanggil Aria "sayang". Aria mencatat di kepalanya.
"Saya... saya tidak menyangka itu... rasanya seperti itu."
Kael tertawa pelan. Mencium kening Aria. "Aria."
"Iya."
"Saya cinta Anda. Lebih dari yang saya pikir saya bisa cinta apa pun."
"Saya juga, Mas."
Mereka tidur. Pertama kalinya, di kamar yang sama, di ranjang yang sama.
Untuk satu malam yang singkat, Aria lupa bahwa suaminya akan menggulingkan ayahnya dalam tiga bulan. Bahwa ada Kobra Merah di luar yang ingin membunuhnya. Bahwa hidupnya tergantung pada janji-janji yang bisa pecah.
Untuk satu malam, dia cuma istri. Yang dipeluk suami yang dia cintai. Yang membalas pelukan dengan kepercayaan total.