Cahaya rembulan membiaskan siluetnya di jalanan yang basah, memantulkan pijakan kakinya yang limbung. Jaket rajutnya yang basah kuyup terasa dingin, lengket di kulit.
Aroma melati yang memabukkan kini berganti bau amis dan anyir, bercampur dengan uap kotoran dari got-got yang meluap. Setiap embusan angin dingin yang menusuk tidak lagi memicu gairah, melainkan hanya memperparah rasa hampa yang menggerogoti.
"Durja," bisikannya melayang di udara, sebuah nama yang kini terasa seperti kutukan. Bukan sekadar kekecewaan, tapi kemarahan yang membakar.
Kenikmatan yang begitu nyata, begitu dekat, direnggut tiba-tiba, meninggalkannya mengambang di jurang hampa.
Langkah kakinya terseret di aspal yang retak, menjauhi rumah tua itu. Pandangannya kosong, terfokus pada bayangan-bayangannya sendiri yang memanjang dan memendek mengikuti cahaya lampu jalan yang berkedip.
Ada sesuatu yang basah menetes dari sela pahanya, dingin, bukan keringat, bukan pula air mata. Lendir Durja. Lendir yang menjanjikan surga, namun hanya menyisakan neraka.
Dia merasakan setiap denyut di antara kedua pahanya, sebuah pengingat brutal akan apa yang hilang. Tubuhnya masih bergetar, sel-selnya masih berteriak minta disalurkan. Gairah itu kini berubah menjadi gelombang frustrasi, sebuah bara api yang membakar dari dalam.
Gang-gang sempit Jakarta Barat menyambutnya, rumah-rumah petak berjejer rapi, dengan pintu-pintu besi yang tertutup rapat. Lampu teras yang redup hanya menambah kesan muram. Suara anjing menggonggong di kejauhan, memecah keheningan malam yang pekat.
Sarah menyentuh perutnya yang rata. Dingin. Lengket. Sensasi sentuhan Durja masih terasa, menghantui setiap inchi kulitnya. Jemarinya melingkari pusarnya, gerakan yang tadi adalah godaan, kini sebuah penyesalan.
"Kau pengecut," gumamnya, bibirnya bergetar. Giginya menggeretak, menahan erangan yang ingin lolos. "Meninggalkanku begitu saja."
Dia membayangkan bayangan Durja, siluet tak kasat mata yang tadi begitu berani, begitu nyata. Bagaimana jari-jari lengket itu merayap, menguasai. Bagaimana bisikannya menyusup ke dalam benaknya, menjanjikan kebebasan yang sesungguhnya.
Dan bagaimana semua itu lenyap seperti asap, hanya menyisakan jejak yang tak terhapuskan di kulitnya, di jiwanya.
Kakinya melangkah lebih cepat, seolah ingin lari dari sensasi yang terus menghantuinya. Setiap jengkal jalan terasa menekan, setiap napas terasa menyesakkan. Dia hanya ingin sampai, bersembunyi di balik dinding kamarnya, mencoba menenangkan badai yang berkecamuk di dalam dirinya.
Sampai akhirnya, sebuah bangunan dua lantai yang familiar muncul di hadapannya. Kost-kostan kecil, campuran, di mana dia adalah satu-satunya perempuan di antara lautan laki-laki. Lampu-lampu di setiap kamar sudah padam, menandakan penghuninya telah terlelap dalam mimpi.
Syukurlah.
Dia tidak ingin ada yang melihatnya dalam kondisi seperti ini. Rambut berantakan, jaket basah kuyup dan lengket, dengan celana pendek yang melorot sedikit di pinggang, memamerkan bekas lendir yang samar.
Matanya mungkin terlihat terlalu hidup, atau terlalu mati, untuk ukuran seseorang yang baru kembali dari petualangan tengah malam.
Gerbang besi kecil yang sudah berkarat menyambutnya. Dia mendorongnya pelan, engselnya berdecit samar. Suara itu terasa menusuk keheningan, mengancam untuk membangunkan siapa saja yang tidur nyenyak.
Sarah menyelinap masuk, langkahnya tanpa suara, seperti bayangan. Dia melewati deretan motor yang berjejer rapi di halaman, milik para mahasiswa dan pekerja yang mengisi kost itu.
Bau asap rokok, keringat laki-laki, dan mie instan masih melekat di udara, kontras dengan aroma melati dan amis yang masih tercium dari tubuhnya sendiri.
Pintu utama terbuka. Kegelapan di dalam menyambutnya, hanya diterangi oleh cahaya rembulan yang samar-samar masuk dari jendela. Dia tidak menyalakan lampu, tidak ingin menarik perhatian. Setiap gerakan terasa disengaja, setiap napas diatur, seolah ia sedang menyusup masuk ke sarang musuh.
Dia berjalan melewati koridor sempit, lantai dingin menyentuh telapak kakinya yang telanjang. Kamar-kamar berjejer di sisi kiri dan kanan, pintu-pintu kayu tertutup rapat.
Dia bisa merasakan kehadiran mereka di balik pintu-pintu itu, laki-laki yang tidur nyenyak, tidak menyadari kehadiran sesosok perempuan yang baru saja pulang dari pertemuannya dengan hal tak kasat mata, tubuhnya masih merintih gairah yang tak tersalurkan.
Sarah tiba di kamarnya, membuka pintu dengan hati-hati. Kunci berputar pelan, tanpa suara. Dia melangkah masuk, menutup pintu di belakangnya.
Akhirnya.
Kegelapan kamarnya terasa seperti pelukan, namun bukan pelukan yang menghangatkan. Lebih seperti jebakan. Dia melemparkan tasnya ke sudut, lalu bersandar di pintu, dadanya naik turun dengan cepat.
Nafasnya bergetar, bukan karena lelah, tapi karena gelombang emosi yang meluap. Kemarahan, frustrasi, hasrat yang belum padam. Durja telah membangunkan sesuatu di dalam dirinya, sesuatu yang kini berteriak minta dilepaskan.
Dia membiarkan tubuhnya meluncur ke lantai, terduduk dengan punggung menempel pintu. Jemarinya meremas kain jaketnya, merasakan kelembapan dan lengketnya lendir yang masih ada.
"Aku akan kembali," bisiknya, suaranya parau. Sebuah janji pada dirinya sendiri, pada bayangan Durja yang masih bersemayam di benaknya. "Aku akan kembali. Dan kau harus menyelesaikannya."
Keheningan kamarnya menjawab. Dingin. Kosong. Namun ada sesuatu yang telah berubah di dalam diri Sarah. Ia telah merasakan sentuhan yang melampaui batas, telah mencicipi kenikmatan yang begitu dekat dengan kegilaan.
Aroma melati yang masih samar tercium dari kulitnya kini terasa memuakkan, pengingat akan janji kosong yang tergantung di udara. Sarah mengendus lengannya, sensasi lengket masih membungkus.
Sarah lantas berdiri, membiarkan jaket basah dan celana pendeknya melorot ke lantai. Kulitnya terpapar udara kamar yang dingin, namun panas dari dalam dirinya membakar seluruh permukaan.
Tangannya mengusap perutnya yang rata, lalu melingkari pusarnya, mencari sisa-sisa sentuhan yang tadi begitu memabukkan. Hanya ada kehampaan, namun memori sensasi itu masih segar, menjeratnya dalam lingkaran setan antara nafsu dan kemarahan.
Sarah berjalan ke arah lemari kecilnya, membukanya. Bau apak pakaian lama menyapa hidungnya, namun ia tidak peduli. Matanya mencari sesuatu, sesuatu yang bisa meredakan gejolak di dalam dirinya.
Jemarinya menyentuh kain sutra tipis yang tersimpan di balik tumpukan kaus. Sebuah gaun tidur berwarna hitam, hadiah dari seorang pengurus panti yang dulu begitu baik padanya, namun tak pernah ia sentuh.
Kini, gaun itu terasa memanggil. Lembut, ringan, dan transparan. Gaun itu akan menjadi kulit keduanya, sebuah selubung tipis yang tidak menyembunyikan, melainkan justru mempertegas lekuk tubuhnya. Bukan untuk menggoda, melainkan untuk menegaskan bahwa dirinya, dengan segala hasrat dan kemarahannya, adalah nyata.
Dia mengenakan gaun itu perlahan, membiarkan kain sutra itu membelai kulitnya, mengikuti lekuk payudaranya yang penuh, melingkari pinggangnya yang ramping, dan jatuh bebas di pahanya.
Gaun itu mencapai pertengahan paha, memperlihatkan jenjang kakinya yang masih bergetar. Dia tidak menyalakan lampu, hanya membiarkan cahaya rembulan yang samar-samar menyelinap masuk melalui celah gorden menerangi siluetnya.
Sarah berdiri di depan cermin tua yang retak, dengan permukaan kaca kusam yang memantulkan bayangannya samar-samar. Bayangan tubuhnya terlihat seperti sosok misterius dalam gaun sutra hitam yang transparan, dengan garis-garis cahaya rembulan menerobos melalui celah-celah kaca pecah.
Jemarinya mulai merayap di sepanjang lengannya, mengikuti jejak memori sentuhan Durja yang masih membayang, mengusap kulitnya perlahan dengan gerakan yang hampir seperti ritual, mencoba membangkitkan kembali gairah yang tadi sempat terputus di ruang gelap rumah tua itu.
Sarah menginginkan lebih banyak sentuhan itu.