Dingin yang menusuk, bukan dari angin, melainkan dari kehampaan yang menggerogoti pagi. Sarah menggeliat di balik selimut tipis, berusaha mencari kehangatan yang tak kunjung datang.
Hasrat yang tertahan tadi malam kini beriak, bergolak dalam dirinya, menuntut pemenuhan. Bahkan di alam mimpi, Durja masih menghantuinya.
Dalam mimpi itu, Sarah melayang dalam kegelapan. Sebuah rantai dingin mengikat pergelangan tangannya, mengangkat tubuhnya perlahan. Kakinya menggantung di udara, ujung jari kakinya berayun lembut, mencari pijakan yang tak ada.
Kain tipis yang membalutnya perlahan meluruh, jatuh ke bawah, meninggalkannya telanjang. Udara dingin menyapu kulitnya, membuat bulu romanya meremang.
"Durja," bisiknya, suaranya parau, bukan karena takut, melainkan karena gairah yang kembali hadir.
Dari kegelapan, tangan-tangan licin dan lengket muncul. Seperti bayangan yang bergerak, namun nyata. Mereka merayap dari kakinya, membelai betisnya, naik ke pahanya. Setiap sentuhan terasa seperti sengatan listrik, membakar sekaligus membius.
"Kau menginginkanku?" bisikan itu menyelinap ke telinganya, sama seperti semalam, namun kini lebih jelas, lebih mendesak. "Seperti ini?"
Tangan-tangan itu menyebar. Beberapa memijat pahanya, meremas lembut otot-otot di sana. Yang lain menyelusup ke antara pangkal pahanya, mengusap, membelai, membuat denyutan intens menjalar di seluruh tubuhnya. Sarah mendesah, punggungnya melengkung, mencari sentuhan lebih dalam.
"Ya," desahnya, "Ya, Durja. Jangan berhenti."
Tangan-tangan itu naik ke perutnya, melingkari pusarnya, memutar-mutar perlahan. Sensasi geli itu menjalar ke seluruh tubuhnya, membuatnya menggeliat dalam kegelapan. Kemudian, mereka naik ke dadanya, mengulum, meremas buah dadanya yang membusung, memilin kuncupnya hingga mengeras. Sarah menjerit kecil, suaranya tertahan di tenggorokan.
"Kau tak pernah merasakan ini," suara itu berbisik lagi, seolah berputar mengelilinginya, menyentuh setiap inchi kulitnya. "Ini adalah kebebasan, Sarah. Kebebasanmu."
Sentuhan itu semakin intens, semakin berani. Jari-jari itu menjelajahi setiap lekuk tubuhnya, tidak meninggalkan satu pun area yang tak terjamah.
Mereka berputar, memijat, mengusap, menciptakan simfoni kenikmatan yang belum pernah ia alami. Sarah terengah, napasnya tersengal, tubuhnya gemetar hebat. Ia merasa akan meledak, mencapai puncak yang selama ini ia dambakan.
Namun, tepat saat gelombang kenikmatan itu akan menelannya, saat ia merasa berada di ambang jurang, semua sentuhan lenyap. Seketika.
Seperti semalam, namun lebih menyiksa. Ia menggantung, kosong, dengan gairah yang membara, namun tak tersalurkan.
"Tidak!" dia menjerit, suaranya pecah. "Durja! Jangan! Jangan lakukan ini padaku lagi!"
Keheningan menjawabnya. Kekosongan yang menyiksa. Ia terhuyung dalam mimpi itu, mencari sentuhan yang hilang, mencari apa pun. Tapi hanya kegelapan yang membalas.
"Ini belum berakhir," bisikan itu datang lagi, jauh, samar, seolah mengejeknya. "Kau akan terus mendambanya, Sarah. Sampai kau memohon."
Sarah membuka mata, napasnya terengah, jantungnya berdegup kencang. Langit-langit kamar kost yang kusam menyambutnya, bukan kegelapan mimpi.
Keringat membasahi tubuhnya, bercampur dengan kelembapan dari hasrat yang tanggung. Selimutnya tersingkap, tubuhnya terekspos udara dingin kamar. Ia meraih perutnya, mencari sisa sentuhan, namun hanya kulitnya sendiri yang ia rasakan. Kosong.
"Durja," dia menggumam, sebuah nama yang kini terasa seperti kutukan dan janji. Kekosongan itu terasa lebih nyata daripada mimpi itu sendiri.
Gairah yang tak tersalurkan berdenyut sakit di antara kedua pahanya, sebuah pengingat brutal akan siksaan yang baru saja ia alami. Ia butuh sesuatu, butuh pelepasan. Tapi apa? Dan bagaimana?
Ia beringsut turun dari ranjang, kakinya menjejak lantai yang dingin. Tubuhnya terasa lengket, bukan hanya karena keringat, tapi juga karena jejak lendir imajiner Durja yang masih terasa. Kamar terasa sempit, pengap, tidak mampu menampung badai yang berkecamuk di dalam dirinya.
Jam di dinding menunjukkan pukul enam pagi. Kelas pertama akan dimulai pukul delapan. Ia harus bersiap.
Langkah kakinya gontai menuju kamar mandi umum di ujung koridor, di mana sebuah lorong sempit yang dipenuhi pintu-pintu kayu bertumpuk rapi. Kos-kosan sederhana ini hanya menyediakan kamar mandi bersama di luar kamar, sebagai konsekuensi dari biaya sewa yang murah. Mungkin itu alasannya mengapa kos-kosan campur ini tidak dihuni perempuan.
Tadinya Sarah sangat risih tinggal di tempat ini. Koridor panjang dengan deretan kamar lelaki yang menakutkan selalu membuatnya was-was, setiap langkah terasa seperti menembus wilayah asing yang senantiasa mengintainya.
Namun rasa terima kasihnya pada donatur yang selama ini membiayai kuliahnya di Jakarta dan menyediakan tempat ini, membuatnya menelan segala ketidaknyamanan ini. Kemiskinan mengajarkannya untuk selalu bersyukur, bahkan pada kondisi terburuk sekalipun.
Selama ini juga dia waspada saat mandi, memeriksa sekeliling ruangan sempit kamar mandi itu. Dia juga menutupi celah di dinding dan pintu kayu yang rapuh itu dengan gumpalan kertas. Semua untuk memastikan tidak ada yang mengintip.
Bau apek, sabun murah, dan sisa kelembapan menyambutnya begitu dia melepaskan gaun tidurnya yang tipis. Ia membuka keran, membiarkan air dingin membasahi tubuhnya. Sensasi dingin itu seharusnya menyegarkan, membersihkan, namun kali ini terasa seperti cambuk.
Guyuran pertama air menerpa kulitnya. Ia memejamkan mata, membiarkan air itu mengalir. Ada sesuatu yang aneh. Kulitnya terasa... berbeda. Lebih lembut, lebih kenyal. Seperti baru terlahir kembali. Ia mengusap lengannya, merasakan tekstur baru itu.
"Apa ini?" bisiknya, suaranya tak lebih dari desahan air.
Kemudian, ia merasakan sesuatu mengalir di sela-sela jarinya. Rambut. Banyak. Bulu-bulu halus dari tubuhnya rontok bersama guyuran air. Bukan hanya sedikit, melainkan dalam jumlah yang mencengangkan. Ia menunduk, melihat gumpalan-gumpalan rambut halus yang terbawa arus air ke saluran pembuangan. Panik mulai merayap.
"Tidak," dia bergumam, matanya terbelalak. "Ini... ini tidak mungkin."
Jantungnya berpacu, napasnya tertahan. Ia mematikan keran, mengusap lengan dan kakinya. Bulu-bulu halus yang dulu ada, kini lenyap. Kulitnya mulus, tanpa cela, seperti kulit bayi.
Dia menjambak rambutnya, jemarinya gemetar. "Apa yang terjadi padaku?" bisiknya parau, suara bergetar antara panik dan ketakutan. Matanya menatap cermin, mengamati wajahnya.
Saat melihat kedua alis dan rambut kepalanya masih utuh, dia menarik napas lega.
"Syukurlah, setidaknya enggak semua rambut yang rontok..." Namun ketenangan itu hanya sebentar, sebelum pertanyaan-pertanyaan ganjil kembali menyerang benaknya, membuatnya bertanya-tanya tentang perubahan aneh yang dialaminya.
Panik itu seharusnya memuncak, namun ada sensasi lain yang menguasainya. Sensasi aneh, namun menggairahkan. Kulitnya terasa lebih sensitif, lebih peka terhadap setiap sentuhan udara, setiap tetes air yang tersisa. Ia membelai lengannya, lalu perutnya.
"Ada apa ini?" pertanyaan itu lebih merupakan pernyataan. Ia bukan lagi Sarah yang sama.
Ia keluar dari kamar mandi, langkahnya tergesa, hampir berlari. Mengabaikan pandangan penasaran dari salah seorang penghuni kost yang baru bangun. Ia tidak peduli. Ia harus melihat, harus memastikan.
Memasuki kamarnya, ia langsung menuju cermin tua yang retak di sudut. Ia berdiri di depannya, telanjang, membiarkan cahaya samar dari jendela menerpa tubuhnya.
Napasnya tercekat.
Bukan hanya kulitnya yang berbeda. Seluruh tubuhnya.
Lekuk tubuhnya kini terlihat lebih kencang, lebih menantang. Pinggangnya ramping, seolah dipahat ulang.
Dadanya yang dulu hanya berisi kini membusung alami. Tangannya bergerak, menyentuh dadanya. Kenyal. Padat. Sensasi itu, meskipun tanpa sentuhan Durja, terasa begitu kuat, begitu nyata.
Kemudian ia memutar tubuhnya, mengamati bokongnya di cermin. Dulu memang berisi, namun kini lebih bulat, lebih padat, menantang gravitasi. Setiap ototnya terasa lebih hidup, lebih bertenaga.
"Ini..." suaranya serak, matanya terbelalak melihat pantulan dirinya. "Ini bukan aku."
Namun, di balik kepanikan itu, ada gelombang kepuasan yang aneh. Ini adalah tubuh yang ia dambakan. Tubuh yang sempurna. Tubuh yang bisa memuaskan Durja, atau mungkin, para lelaki.
Ia memutar tubuhnya lagi, mengamati setiap inci perubahannya. Senyum tipis terukir di bibirnya. Sebuah senyum yang dingin, namun penuh hasrat.
"Kau lakukan ini padaku," bisiknya pada bayangannya sendiri, pada Durja yang tak terlihat. "Kau mengubahku."
Sentuhan Durja tadi malam, mimpi yang menyiksa itu, dan kini perubahan tubuhnya. Semua ini adalah bagian dari permainan. Sebuah permainan yang ia mulai, dan Durja telah menjawabnya dengan cara yang tak terduga.