Cahaya pagi yang memucat menyelinap dari balik tirai, menyapu lantai kamar kost yang dingin. Sarah berdiri di depan lemari kecilnya, pintu kayunya yang reyot menggerutu pelan saat terbuka.
Aroma apak pakaian lama menusuk hidungnya. Ia menatap deretan pakaian yang tergantung di sana, koleksi yang sama, membosankan.
Kemeja flanel longgar, kaus oblong kusam, celana jeans yang selalu menutupi setiap lekuk tubuhnya. Pakaian-pakaian itu dulunya adalah perisai, tameng dari tatapan dunia.
Sebuah cara untuk menyembunyikan diri, untuk tetap tak terlihat. Sarah yang dulu pemalu, selalu memilih untuk bersembunyi.
Namun pagi ini, semua itu terasa hambar.
"Ini... tidak bisa," bisiknya, suaranya parau, mengamati tumpukan kain yang tak lagi menarik. Tangannya terangkat, menyentuh sehelai kaus oblong abu-abu yang sudah pudar. Kainnya terasa tipis, tak berdaya.
Kaus ini, dulu kesukaannya. Longgar, menyembunyikan. Kini, ia hanya melihat kain yang tak mampu lagi menampung dirinya. Atau lebih tepatnya, tak ingin ia tampung.
"Kau membosankan," dia mencibir pada kaus itu, seolah berbicara pada bagian dari dirinya yang lama. "Aku sudah bukan dirimu lagi."
Dia melempar kaus itu kembali ke tumpukan, matanya menyapu isi lemari, mencari sesuatu yang lain. Sesuatu yang bisa mencerminkan dirinya yang baru, tubuhnya yang baru, gairahnya yang bergejolak.
Ada apa dengan dirinya? Kenapa tiba-tiba ia merasa seperti ini?
"Durja," bisikannya melayang, sebuah nama yang kini terasa seperti mantra, pengakuan, dan kutukan. "Kau melakukan ini. Kau membangunkanku."
Ia memutar tubuhnya, menghadap cermin retak di dinding. Tubuhnya terpantul, telanjang, setiap lekuknya memanggil, menantang. Pinggangnya ramping, dadanya membusung, bokongnya bulat padat. Ia mengusap kulitnya, merasakan kehalusan yang baru.
"Aku butuh sesuatu," dia berkata pada pantulannya sendiri, suaranya kini lebih tegas, lebih berani. "Sesuatu yang menunjukkan... ini." Jemarinya menyentuh dadanya, lalu meluncur ke perutnya, melingkari pusarnya yang kecil.
"Sesuatu yang menari di kulitku," dia melanjutkan, pandangannya beralih ke deretan pakaian lagi.
Namun hanya ada kaus dan celana jeans. Tak ada gaun ketat, tak ada rok pendek. Hanya pakaian yang sama, yang membuatnya tidak menarik perhatian. Itu adalah tujuan Sarah yang dulu.
"Menarik perhatian," bisiknya, mengecap kata-kata itu di lidahnya. "Dulu aku benci itu. Sekarang..."
Senyum tipis terukir di bibirnya. Sebuah senyum yang dingin, namun penuh dengan hasrat yang baru. Ia merindukan tatapan. Ia merindukan sentuhan. Ia merindukan sensasi yang Durja berikan.
Ia berlutut, mengaduk-aduk tumpukan pakaian di dasar lemari. Tangan-tangannya menyentuh berbagai jenis kain, mencari. Matanya menyipit, fokus.
"Di mana kau menyembunyikannya?" dia bertanya, seolah ada sesuatu yang bersembunyi darinya.
Lalu, jarinya menyentuh kain katun tipis yang terasa berbeda. Usang, namun memiliki tekstur yang menarik.
Ia menariknya keluar. Sebuah kaus hitam, kerahnya sudah longgar, warnanya memudar, tapi ada sesuatu tentang kaus itu yang memanggilnya.
"Ah, kau di sini," bisiknya, memegang kaus itu. Ia ingat kaus ini. Kaus lama yang ia beli di toko barang bekas, tak pernah ia pakai karena terlalu mencolok. Kerahnya yang lebar, bahannya yang ketat. Dulu ia berpikir, terlalu menggoda.
Kini, menggoda menjadi daya tarik.
Ia mengenakan kaus itu. Kain tipis itu meluncur di kulitnya. Begitu ketat. Terlalu ketat. Perubahan tubuhnya memang signifikan. Dadanya yang membusung kini menekan kain itu, menciptakan belahan d**a yang lebih dalam dari yang ia duga. Kerahnya yang longgar, kini melorot di bahunya, memperlihatkan tulang selangka dan sedikit lekukan payudaranya.
"Astaga," dia terkesiap, berdiri di depan cermin lagi. Kaus itu menempel di tubuhnya seperti kulit kedua. Memamerkan setiap lekuk yang Durja telah bangkitkan. Perutnya yang rata, pinggangnya yang ramping.
"Ini... sempurna," bisiknya, mengusap bahunya yang terbuka. Sensasi kain yang memeluk tubuhnya begitu erat terasa aneh, namun menyenangkan.
Ia berputar, mengamati pantulan dirinya. Ada sesuatu yang berbeda di matanya. Api. Gairah.
"Kau menginginkan perhatian, bukan?" dia bertanya pada bayangan di cermin. "Kau menginginkan tatapan itu."
Dia tahu jawabannya. Sebuah gelombang panas menjalar di perutnya.
Kemudian, ia mencari celana. Celana jeans favoritnya, yang biasanya sedikit longgar, kini terasa seperti sarung tangan.
Kain denimnya memeluk paha dan betisnya dengan ketat, menegaskan panjang dan kekencangan kakinya. Setiap gerakannya terasa lebih ringan, lebih lincah.
"Kau suka ini?" dia bergumam, mengusap pahanya yang terbalut denim. "Kau suka merasakan ini, bukan?"
Namun, ada sedikit kekhawatiran yang masih tersisa. Sarah yang lama, yang pemalu, masih berbisik di sudut benaknya. "Ini terlalu banyak. Ini terlalu menarik perhatian."
Ia menatap kaus ketat itu, lalu celana jeans yang memeluk erat. Ini memang terlalu. Terlalu mencolok untuk Sarah yang dulu. Tapi Sarah yang sekarang?
"Tidak," dia mengoreksi dirinya. "Tidak ada yang terlalu banyak lagi."
Meski begitu, ia tidak ingin terlalu menarik perhatian. Setidaknya tidak secara langsung. Ada cara untuk bermain, untuk menggoda, tanpa harus terlihat terlalu putus asa.
Matanya beralih ke tumpukan pakaian lain. Sebuah kemeja putih polos, berbahan katun tipis. Kemeja itu sedikit kebesaran untuknya, dengan lengannya yang panjang.
"Ini," bisiknya, menarik kemeja itu. "Ini akan menipu mereka."
Dia mengenakan kemeja itu di atas kaus hitamnya. Tidak dikancingkan. Membiarkan kaus hitam yang ketat dan belahan dadanya terlihat samar-samar di baliknya. Lengan kemeja yang panjang sedikit menutupi lengannya, tapi garis bahu dan lehernya yang terbuka masih mengundang.
Kemeja itu mengalir di tubuhnya, menutupi sebagian lekuknya, namun tidak menyembunyikannya. Justru, ia menciptakan semacam intrik. Sebuah janji. Apa yang ada di baliknya? Apa yang tersembunyi di balik kain putih yang longgar itu?
Sarah menatap pantulannya. Senyumnya semakin lebar, semakin penuh dengan kepercayaan diri yang baru. Matanya berkilat, penuh dengan api yang Durja telah sulut.
"Kau tidak bisa menyembunyikan ini," dia berkata pada bayangannya, mengusap perutnya melalui kain. "Hasrat ini. Keinginan ini."
Dia menyadari, Sarah yang pemalu, yang dulu selalu menyembunyikan diri di balik pakaian longgar dan tatapan menunduk, telah pergi.
Dia tidak tahu kapan tepatnya, mungkin saat ia melangkah masuk ke rumah kosong itu, mungkin saat tangan-tangan lengket Durja menyentuhnya, mungkin saat ia terbangun dari mimpi yang menyiksa.
Sarah yang sekarang adalah Sarah yang pendiam, yang masih enggan berbicara banyak. Namun ada perubahan yang lebih dalam. Ia tidak ingin lagi bersembunyi. Ia ingin tubuhnya dilihat, dinikmati. Ia ingin sensasi itu kembali.
"Aku ingin mereka melihat," dia berbisik, menyentuh bibirnya. "Aku ingin mereka tahu."
Perubahan ini lebih dari sekadar fisik. Ini adalah perubahan jiwa. Sebuah kebangkitan.
Dia berbalik dari cermin, mengambil tasnya, dan melangkah keluar dari kamar. Setiap langkahnya terasa lebih mantap, lebih pasti.
Udara pagi jakarta yang lengket menyapa kulitnya, namun kali ini, dingin itu tidak lagi menusuk kesendirian. Ia merasakan tatapan, bahkan sebelum ia keluar dari kost.
Langkah kakinya menuruni tangga, menuju pintu utama. Ia bisa mendengar suara-suara samar dari kamar-kamar laki-laki yang mulai terbangun. Bisikan-bisikan, batuk-batuk, derit tempat tidur.
Seorang laki-laki muda, mungkin mahasiswa juga, baru saja keluar dari kamar mandi. Matanya menatap Sarah. Ada jeda, sesaat. Mata itu melebar, menelusuri tubuhnya, dari atas ke bawah.
Sarah tidak menghindar. Ia membalas tatapan itu, senyum tipis terukir di bibirnya. Sebuah senyum yang bukan untuk menggoda, tapi untuk mengakui. Untuk menguji.
Laki-laki itu terhuyung, seolah baru saja disambar petir. Wajahnya memerah. Dia menunduk, buru-buru masuk ke kamarnya.
Sarah mendengus pelan, sebuah tawa kecil lolos dari bibirnya.
"Bagus," dia bergumam. "Bagus sekali."
Ia melangkah keluar dari kost, menuju jalanan yang mulai ramai. Suara klakson, deru motor, bisikan orang-orang. Semua itu menyambutnya, namun ia merasa terpisah, seolah ia berada di dimensi lain.
Ia berjalan di trotoar, merasakan setiap pasang mata yang mengikutinya. Dari tukang parkir yang bersiul pelan, sampai pengendara motor yang memperlambat laju kendaraannya. Mereka melihat. Mereka menikmati.
Dan Sarah, untuk pertama kalinya, tidak merasa malu. Ia merasa... hidup.
"Ini baru awal," bisiknya pada angin, pada kota yang berdenyut di sekelilingnya. "Permainan ini baru saja dimulai."
Ia tahu, Durja masih mengawasinya. Bahkan mungkin ia berada di dalam dirinya, bersemayam di setiap sel tubuhnya, membisikkan hasrat, memicu perubahan.
Dan Sarah, dengan segala kenekatannya, siap bermain. Siap untuk menjadi apa pun yang Durja inginkan, asalkan ia bisa merasakan kenikmatan yang terputus semalam. Kenikmatan yang begitu nyata, begitu membakar.
Ia melangkah menuju kampus, dengan kemeja putihnya yang terbuka, kaus hitam yang memeluk tubuhnya, dan celana jeans yang memamerkan kakinya.
Ini adalah dirinya yang baru. Sarah yang pendiam, namun penuh dengan hasrat yang berteriak untuk dilepaskan. Sarah yang telah dicicipi oleh kegelapan, dan kini ingin mencicipi kegelapan itu kembali.