Hari ini giliran kelas Vena mendapat jatah pengambilan nilai untuk pelajaran olahraga. Jam olahraga kelas X IPA 3 tepat di jam ke enam hingga ke delapan menurut jam sekolah. Itu artinya setelah jam olah raga mereka tidak ada lagi pelajaran lagi.
Para siswa di kelas itu tengah bersiap-siap dengan mengganti seragam abu-abu mereka dengan seraam olahraga yang berwarna merah bertuliskan nama sekolah di bagian belakang.
“Asti, seragam kamu dikecilin ya itu?” tanya Vena dengan memperhatikan seragam yang dikenakan asti tampak kecil dan membentuk tubuhnya.
“Iya, dong, dengan gini kan banyak yang tertarik denganku, terutama Naren, dia pasti suka lihat bentuk tubuh aku yang ideal ini,” tuturnya dengan melihat penampilannya di depan kaca besar di dalam kamar mandi.
Vena dan Ara hanya melongo mendengar penuturan salah satu temannya. Mereka tak menyanga Asti memiliki pemikiran seperti itu. Rasa-rasanya mereka yang merasa malu dengan sikap sahabatnya itu.
“Yuk ke lapangan,” ajak Asti dengan menggandeng lengan kedua sahabatnya.
Di lapangan sudah banyak siswa yang berkumpul. Ada juga dari kelas XI yang jam olahraganya bersamaan dengan kelas Vena.
Bunyi peluit panjang dari arah sudut lapangan. Dua orang guru olahraga berdiri di sana. Semua murid yang berada di lapangan segera membentuk barisan sesuai kelasnya di hadapan guru mereka.
“Sudah bekumpul semua?” tanya salah seorang guru. Para siswa saling berpandangan melihat satu sama lain, meneliti barang kali ada temannya yang belum masuk barisan.
“Lengkap, Pak,” jawab Al lantang selaku ketua kelas.
“Baik, anak-anak kelas X kita pindah lokasi di ujung sana,” ujar Pak Nanang nama guru olahraga itu.
Kembali mereka melangkahkan kakinya menuju sudut bagian lain lapangan. Tanpa aba-aba mere membentuk barisan sesuai dengan sebelumnya.
“Baik, anak-anak, hari ini kita pengambilan nilai untuk rapot semester kalian. Saya minta lakukan dengan baik karena akan saya masukkan ke nilai rapot. Paham?”
“Paham, Pak,” jawab mereka serentak.
“Penilaian kali ini adalah cara men-drible bola basket dan melakukan shoot ke ring. Silahkan lakukan pemanasan dan latihan dulu lima belas menit, setelah itu akan saya panggil sesuai urutan absen.”
Para siswi mengeluh dengan nilai tes yang akan diambil. Pasalnyabanyak dari mereka yang tidak bisa melakukannya.
“Pasti nilaiku bakal jelek ini, aku sama sekali gak bisa,” keluh Ara.
“Sama, aku juga mana bisa. Lihat bolanya aja udah takut duluan entar kalau dipukul pasti sakit,” timpal Vena, pandangannya fokus mengarah bola yang sedang berada di tangan Putra.
“Aku mau minta ajarin Naren dong, dia kan jago main basket,” seru Asti semangat. Vena dan Ara hanya menolehkan pandangannya tanpa berminat menjawab. Karena jika berurusan dengan Naren, Asti akan sangat sensitif, masalah sepele saja bisa jadi pertengkaran.
Asti berjalan menghampiri Naren dan kedua temannya. Tanpa malu ia berdiri di hadapan Naren dan meminta laki-laki itu mengajarinya.
“Ti, sadar dong, Naren gak mau ya jangan dipaksa,” kata Putra yang kesal melihat tingkah teman sekelasnya itu.
“Diem deh, sirik aja! Bilang aja iri pengen ada yang caper juga sama kamu!” balas Asti dengan mata melotot.
“Dasar ganjen!” ejek Putra memancing kemarahan Asti.
“Jangan cari masalah,” tegur Al pada Putra.
Sedangkan Vena dan Ara memilih berlatih sendiri dengan usaha mereka bersama teman-teman perempuannya yang lain.
“Teman kalian kok gak tahu malu gitu sih,” bisik Bianca pada Vena dan Ara.
“Entahlah,” jawab Vena dengan mengedikkan bahunya.
Pak Nanang Menghampiri murid-murid perempuan dan memberikan contoh bagaimana caranya mendrible bola dengan benar. Mereka semua fokus memperhatikan.
“Silahkan dicoba, pasti kalian bisa.” Pak Nanang memberikan semangat untuk muridnya. Beliau beralih pada anak laki-laki yang juga mengalami kesulitan dan memberikan arahan seperti yang dilakukan pada siswa perempuan.
Naren meninggalkan Asti yang mengganggunya. Ia sangat jengah dengan tingkah gadis itu. Semakin hari semakin tidak tahu malu untuk merengek padanya.
Naren membawa bolanya menhampiri Vena dan Ara. Anak-anak perempuan yang berada di sana terpekik terkejut saat Naren tiba-tiba berdiri di belakang Vena dan membantunya mendrible bola.
“Bolanya jangan dipukul, tanganmu merah kalau seperti itu,” bisik Naren. Vena yang masih terkejut hanya mampu memandang Naren yang wahjahnya berada di sisinya.
“Fokuslah, dorong bolanya, gerakkan lenganmu,” perintah Naren.
Belum sepenuhnya sadar dari keterkejutannya, tubuh Vena tertarik ke depan. Dengan wajah merah padam Asti menarik Vena agar tidak berdekatan dengan Naren.
“Cari kesempatan banget sih kamu!” serunya marah.
“Asti, jangan bikin keributan, nanti kena hukum Pak Nanang loh.” Ara menusap bahu Asti untuk menenangkannya.
“Kamu gak lihat si Vena cari-cari kesempatan gitu?” ucapnya dengan menunjuk-nunjuk wajah Vena.
“Ada apa?” tanya Pak Nanang mendekati mereka.
"Gak ada apa-apa kok, Pak,” jawab Ara cepat. Ia tidak mau kedua temannya mndapat masalah.
“Ya sudah, lanjutkan, lima ment lagi kita akan mulai tesnya. Naren, ajari teman-teman perempuanmu.” Pak Nanang berlalu meninggalkan kerumunan itu.
“Gak bisa! Naren Cuma boleh ngajarin aku, cari aja anak yang lain!” desis Asti memandang tajam pada semua teman-temannya.
“Gak bisa gitu dong! Pak Nanang tuh yang nyuruh!” tolak yang lainnya.
“Udah-udah, jangan pada nyolot, latihan sendiri aja kayak tadi,” usul Ara melerai teman-temannya.
Vena kembali melanjutkan latihannya, ia menghindar dari Naren yang masih berdiri di dekatnya. Ia kembali memuali melatih tangannya untuk mendrible bola. Ia berjalan mengikuti pantulan bolanya.
Fokusnya yang hanya pada bola membuatnya tidak menyadari di sekelilingnya. Hingga tiba-tiba ia merasakan dorongan kuat dari samping kanannya. Tak dapat menahan beban tubuhnya, Vena pun jatuh tersungkur ke samping.
“Ya ampun! Vena!” teriak anak-anak yang lainnya.
Di samping Vena jatuh, berdiri Asti yang tadi mendorong Vena. Gadis itu memasang wajah terkejut sama seperti yang lainnya.
“Vena! Astaga! Aku gak sengaja. Tadi aku gak lihat kalau ada kamu,” katanya. Ia mendekati Vena seperti yang lainnya.
Vena tak mampu berdiri, ia meringis kesakitan merasajan sakit di lengan kirinya yang teramat sangat.
“Vena? Kamu bisa berdiri?” Tanya Ara khawatir. Ia berjongkok dan mencoba membantu Vena berdiri.
Semua murid datang mngerumun Mereka bertiga. Pak Nanang mencoba membelah kerumunan itu dan melihat apa yang terjadi.
“Vena? Kamu bisa berdiri?” tanya Pak Nanang memastikan.
“Gak bisa, Pak, kaki saya juga sakit,” jawab Vena menahan rasa sakit. Wajahnya memerah dan matanya berkaca-kaca.
“Tolong, bawa dia ke UKS,” perintah Pak Nanang.
“Saya saja.” Tiba-tiba Naren sudah berada di samping Pak Nanang.
“Iya, bawa dia ke UKS dan segera kembali.” Pak Nanang menyetujui tawaran Naren. Kekesalan di wajah Asti kian bertambah. Ingin sekali ia menghadang langkah Naren yang menggendong Vena. Tetapi, tangannya dicengkeram erat oleh Ara.
“Biarkan, aku tahu tadi kamu sengaja,” bisik Ara.
“Jangan ikut campur!” Asti menghempaskan tangan Ara begitu kuat. Ia berlalu meninggalkan lapangan. Panggilan teman-temannya tak dihiraukannya lagi.
*****
Vena tertunduk malu menyembunyikan wajahnya di d**a bidang Naren. Satu tanganya bepegangan pada leher belakang laki laki itu. Sampai di ruang UKS mereka di sambut petugas yang berjaga.
“Kenapa?” tanya petugas itu membantu Naren meletakan Vena di atas tempat tidur.
“Jatuh,” jawab Naren singkat. Fokusnya hanya tertuju pada Vena yang sedari tadi meringis kesakitan dan menahan tangis.
Sejujurnya ia sangat khawatir pada gadis itu. Tetapi, ekspresi wajahnya yang selalu datar mampu menyembunyikan rasa khawatir itu.
“Kaki dan tangannya terkilir, bagaimana posisi jatuhnya?” tanya perawat itu.
Dengan menahan rasa sakit Vena menjelaskan kronologi ia terjatuh. Petugas UKS mendengarkan ceritanya sambil membersihkan lukanya dengan alkohol.
“Saya akan pijat tangan dan kakimu agar segera pulih,” ucap petugas itu.
“Tahan sedikit sakitnya ya,” titahnya. Ia mengurut perkahan lengan kiri Vena.
“Sakit, Mbak,” desis Vena tak mampu lagi menahan sakitnya. Ia menangis sesekali mengerjapkan matanya dan mendongak, agar air matanya tidak terjatuh.
Naren yang tidak tega melihat itu berjalan mendekat. Ia menarik Vena ke dalam pelukannya.
“Menangislah,” bisiknya dengan mengusap punggung Vena. Tanpa mempedulikan sekitarnya dan juga siapa yang memeluknya, Vena menumpahkan tangisannya di d**a Naren.
“Sudah selesai. Coba gerakkan tanganmu sekarang,” perintah petugas UKS itu.
Perlahan Vena menggerakkan tangannya. Ia mengangguk pada petugas UKS. Tanganya tidak sesakit tadi saat diurut.
“Sekarang tinggal kakinya. Tahan lagi ya, boleh peluk pacarnya lagi biar sakitnya berkurang,” ucapnya membuat Vena merona malu.
“Gak papa,” ucap Naren saat tak sengaja pandangan mereka bertemu. Membuat Vena semakin malu.
Petugas itu kembali melanjutkan mengurut kaki Vena. Lagi-lagi Vena bersembunyi di balik d**a Naren. Kali ini cengkeraman keras turut serta hadir dari tangannya yang mencengkeram Naren.
Di lapangan, Asti sangat gelisah. Berkali-kali ia melihat ke arah Vena dan Naren pergi. Bukan dia khawatir pada keadaan Vena, melainkan pada Naren yang tak kunjung kembali.
“Ngapain sih Vena? Pasti dia nahan Naren biar gak balik. Cari-cari kesempatan pasti,” gerutunya kesal.
Ara yang mendengar hal itu hanya bisa menghela napas kasar. Ia tak menyangka Asti begitu terobsesi pada Naren. Bahkan tega mencelakai sahabatnya sendiri.
“Mungkin lukanya parah jadi Naren nungguin Vena,” jawab salah seorang temannya.
“Beruntung banget ya Vena, Naren loh ini yang nolingin. Kalau tahu gitu aku juga mau jatuh gantiin Vena.”
“Aku juga mau sih. Secara Naren ganteng maksimal gitu. Siapa coba yang gak meleleh ditolongin sama dia.”
Berbagai bisikan-bisikan terlontar dari mulut para siswi membicarakan keberuntungan Vena yang ditolong Naren. Asti semakin terbakar oleh amarahnya sendiri.
“Diem kalian! Jangan bahas Vena sama Naren! Naren cuma punyaku!” desisnya pada teman sebelahnya yang masih tak berhenti berbicara.
“Sirik aja sih, Ti! Naren juga kagak mau kan sama kamu. Dasar!” balas temannya itu semakin memperkeruh suasana hatinya.
“Pak! Saya ijin ke UKS, badan saya gak enak.” Asti mengangkat tangannya meminta perhatian dari guru olahraganya.
Sekilas Pak Nanang nelihat wajah asti yang memerah. Padahal sebenarnya wajahnya memerah karena menahan kesal dan marah. Beliau mengijinkan Asti ke UKS dan menyuruhnya beristirahat. Bisik-bisik dari siswa perempuan membicarakan Asti kian keras suara mereka. Dengan langkah cepatnya ia meninggalkan lapangan menuju ruang UKS.
“Sssttt! Sssttt! Ara!” bisik Putra agak keras. Yang dipanggil pun menolehkan pandangannya. Ia mengedikkan dagu kepada Putra.
“Temenmu kenapa?” tanya Putra penasaran. Jiwa keponya seketika muncul jika menyangkut tiga orang temannya itu.
Tiba di ruang UKS ia mendapati Vena yang tengah duduk di atas tempat tidur di temani seorang petugas UKS yang tengah melilit kakinya dengan perban.
“Naren mana?” tanya Asti begitu memasuki ruangan. Kedua orang yang berada di dalam sana.
“Udah balik,” jawab Vena dengan menahan Rasa sakitnya.
“Jangan bohong! Di lapangan gak ada.” Dengan nada yang sangat ketus dan wajah yang ditekuk ia menghentakkan kakinya.
“Kalau kamu cari laki-laki yang mengantar dia ke sini, jawabannya dia sudah keluar sejak tadi.” Petugas UKS itu ikut berbicara dengan nada yang sangat datar.
“Jika tidak ada keperluan lain, silahakan keluar dari ruangan ini. Kalau mau menetap tolong jangan buat keributan!” peringat petugas itu sebelum meninggalkan mereka berdua.
Vena sangat lega ketika Asti datang ke ruangan itu Naren telah pergi. Ia tidak bisa membayangkan jika saat Asti datang dan meliht dirinya yang tengah memeluk Naren. Mungkin saat itu juga Asti akan menamparnya, atau bahkan lebih parah dari itu.
Tak mempedulikan Asti yang tengah kesal itu, Vena pelan-pelan berusaha membaringkan dirinya di atas kasur. Ia mencoba memejamkan matanya. Berharap rasa sakit yang masih terasa di tubuhnya bisa menghilang.
Asti keluar dari ruangan itu dengan kemarahan yang kian besar. Niatnya ingin mencelakai Vena justru dirinya yang sial karena harus melihat laki-laki yang ia sukai membantu temannya itu.
Naren kembali ke lapangan dan duduk di samping Al, Laki-laki itu diam saja tak menyapa teman di sampingnya meski tahu jika wajah temannya itu menyiratkan sebuah pertanyaan.
“Kenapa lama? Kamu cari kesempatan ya sama Vena?” bisik Putra yang berada di samping Al. Ya, memang, posisi Al berada di tengah-tengah Naren dan Putra.
“Naren!” panggil Pak Nanang.
Narenpun maju. Kini gilirannya melakukan tes drible. Dengan lihai ia mendrible bola basket yang ada di tangannya. Siswa perempuan memekik kegirangan melihat gaya Naren bermain basket yang sangat memukau.
Naren Melangkah dua kali sambil terus mendrible bola dan langsung melompat kea rah ring. Melesakkan bola di tangannya hingga masuk sempurna ke dalam ring.
Sorakan dan tepuk tangan dari siswa perempuan mendominasi saat Naren kembali ke tempat duduknya.
“Gitu aja udah pada heboh fansmu. Nanti bakal aku buktikan kalau aku juga bisa lebih keren darimu,” ucap Putra yang terlihat tidak terima para siswa mengidolakan Naren.
Tes kembali dilanjutkan. Siswa kelas X IPA 3 kembali kondusif dan tertib mengikuti kegiatan. Hingga bunyi bel berakhirnya pelajaran menggema di seantero sekolah, barulah Pak Nanang mengakhiri sesi pengambilan nilai.
“Tinggal beberapa anak yang masih belum tes. Kita lanjutkan minggu depan. Persiapkan buat yang belum dan juga yang nilainya di bawah standart, minggu depan kita tes ulang. Jangan lupa berlatih di rumah. Ketua kelas, silahkan pimpin doa,” ucap guru olahraga itu berdiri di hadapan para muridnya.
Al yang merupakan ketua kelas dengan lantang memimpin teman-temannya berdoa. Sebelum meninggalkan lapanagn beliau meminta beberapa siswa mengembalikan bola basket ke gudang.
Siswa yang lainnya berhamburan kembali ke dalam kelas untuk mengambil tas mereka. Ara berjalan mendahului teman-temannya yang lain. Ia culup khawatir pada Vena yang berdua di UKS bersama Asti. Ia takut terjadi hal-hal yang buruk keduanya.
Dalam bayangannya ia melihat Vena dan Asti yang beradu mulut dan saling menjambak karena memperebutkan Naren. Ia menggeleng-gelengkan kepala mengusri pikiran buruk itu.
“Ra, kenapa?” tanya Al terlihat khawatir.
“Oh, Gak papa kok, Al. aku dulua ya, mau lihat Vena sama Asti,” pamitnya pada Al.
“Tunggu, aku ikut.” Al mensejajari langkan panjang Vena ke dalam kelas.
Di dalam kelas, Ara mengambil tasnya sendiri. Lalu ia menyiapkan tas Vena dan memasukkan seragam milik sahabatnya itu ke dalam ransel milik Vena. Kemudian ia beralih hendak mengambil tas milik Asti.
“Loh, kok gak ada? Masak dia pulang duluan?” guman Ara saat tak mendapati tas Asti di bangkunya.
“Ra, ayo! Ada yang masih ketinggalan?” Al mengalihkan pikiran Ara tentang tas milik Asti. Ia segera menghampiri laki-laki itu dan keluar bersama dari dalam kelas menuju UKS.
Bersambung….
--------