“Jadi kerja kelompok di rumhaku?” tanya Vena pada pada Naufal.
“Jadi dong. Tanyain noh pangeran es mu. Dia ikut gak,” ucap Naufal dengan mengedikkan dagunya mengarah pada Naren.
“Dih! Pangeran Es? Kulkas dua pintu itu mah, kebagusan kalau Pangeran Es,” ucap Vena menanggapi perkataan Naufal.
“Bentar aku tanya dulu ke dia,” pamitnya pada Naufal dan beranjak meninggalkan Naufal di bangkunya.
“Ren, kamu ikut kan?” tanya Vena hati-hati, pasalnya kini wajah Naren terlihat sangat dingin dan menyeramkan di matanya.
“Ya. Balik sama aku.” Sesingkat itu Naren menjawab pertanyaan Vena. Tidak ada kata basa-basi yang terucap dari mulutnya.
Vena melirik Asti yang kebetulan duduk menghadap ke arah Naren. Wajah temannya itu seketika terlihat masam. Memancarkan aura pemusuhan kepadanya. Vena hanya mampu menelan ludah kasar melihat Asti.
“Aku di jemput supir, Ren. Nanti kamu sama Naufal bisa ikuti mobil aku dari belakang,” jawab Vena lirih. Ia sungguh tak ingin ada kesalahpahaman dengan Asti. Satu kelompok dengan Naren saja sudah membuat Asti memasang wajak cemberut sepanjang hari. Bagaimana jika dirinya berboncengan dengan Naren?
“Ren, sebelum kamu ke rumah Vena, anterin aku dulu ya ke rumah Al, kamu pasti tahu kan rumahnya Al,” pinta Asti.
“Gak.” Satu kata singkat yang menohok untuk Asti.
“Ayo, dong, Ren. Al nanti boncengin Bianca. Aku gak ada yang anterin. Kamu anterin aku dulu ya, please.” Asti menggoyangkan lengan Naren meminta perhatian laki-laki itu. Sayangnya yang ia dapat bukan jawaban yang ia inginkan, Melainkan sebuah hempasan dari Naren untuk melepas peganagn tangan Asti di lengan laki-laki itu.
Naren berdiri meninggalkan mereka berdua. Terjadi keheninggan di antara dua sahabat itu. Ara yang baru saja masuk kelas merasa heran saat melihat kedua temannya.
“Kalian pada kenapa sih? Jangan bilang Naren lagi,” cetusnya mulai jengah dengan sikap keduanya.
“Kayak gak ada cowok lain aja. Lagain Vena juga gak ada niatan buat cari perhatian Naren kan? Kenapa sikap kamu gitu banget sih, Ti?” cerocos Ara dengan melayangkan pandangannya bergantian pada kedua temannya.
“Sekarang siapa yang gak kesal coba? Naren ngajakin Vena pulang bareng. Sementara aku minta anterin ke rumah Al dia gak mau.” Asti menjawab dengan nada yang sedikit tinggi.
“Ya kan karena mereka satu kelompok, Asti!” Ara merasa gemas dengan sahabatnya ini.
“Sekarang gini, misalnya Naren satu kelompok sama kamu, ya otomatis pasti dia bakal ngajak kamu bareng dia. Lah ini, kamu aja beda kelompok, terus kamu minta anterin dia. Yang ada waktu dia buat belajar kelompok juga akan berkurang cuma buat ngantar kamu aja, sangat gak efisien.” Ara berucap panjang lebar menasihati temannya yang keras saat ini sangat menyebalkan.
“Aku gak bakal ngerebut Nren dari kamu. Toh sekarang juga karena kelompoknya Bu Arin aku jadi satu kelompok sama Naren,” ucap Vena pada akhirnya.
“Jangan kayak anak kecil de. Sekarang lihat realitanya juga. Di sini tuh yang ngejar-ngejar Naren cuma kamu. Dan Naren? Emang dia kasih kesempatan buat dekat sama dia? Gak ada kan? Jangan jadi cewek genit dan nyebelin dong, Asti. Kita tuh cewek harus punya harga diri dikit meski kita suka sama cowok.” Dengan gayanga yang dewasa Ara menasihati Asti.
“Jangan sok-sok an nasihati aku deh. Dari pada munafik dan naif kayak kamu yang suka sam Al, mending aku yang terang-terangan menyatakan perasaanku untuk Naren,” desisi Asti tepat di telinga Ara. Membuat gadis itu seketika terdiam membelalakkan matanya.
Bagaimana bisa Asti tahu tentang itu> Bahkan aku tidak mengatakannya pada siapapun, batin Ara terkejut.
“Mendingan urus aja urusan masing-masing. Jangan suka mengurusi urusan orang lain.” Asti berdiri meninggalkan Vena dan Ara.
“Kamu kenapa?” tanya Vena. Psaalnya ita tak mendengar bisikan Asti pada Ara.
“Gak papa kok,” jawab Ara pelan dan memaksakan senyumnya.
“Lebih baik kamu hati-hati ya sama Asti, kelihatannya dia orangnya yang nekatan,” ucap Ara lirih dengan memandang Asti yang kini tengah duduk di dekat Bianca dan teman-teman yang lainnya.
“Aku merasa juga sepeti itu. AKu gak yakin dia itu cinta sama Naren,” guman Vena dengan menopang dagunya.
“Maksud kamu?” tanya Ara penasaran, ia menatap intens Vena menunggu kelanjutan ucapannya barusan.
“Em, gak ada. Bukan apa-apa.” Vena tersenyum canggung, hampir saja ia mengatakan isi hatinya.
*******
Bel pulang sekolah terlah berbunyi beberapa menit yang lalu. Beberapa siswa di kelas X IPA 3 masih menghuni kelas itu.
“Ra, ayo, kutinggal nih,” teriak Putra yang sudah berada di depan pintu.
Vena memandang penasaran pada sahabatnya. Menantikan jawaban atas perkataan putrra barusan.
“Em, itu, aku ada janji sama dia,” jawab Ara sedikit gugup.
“Nanti aja aku cerita, aku duluan ya.” Ara buru-buru menghampiri Putra yang terlihat kesal menunggunya.
“Ven, ayo,” ajak Naufal.
“Naren mana?” tanyanya saat tak mendapati satu anggota kelompoknya.
Naufal yang memang tak tahu di mana laki-laki itu mengedikkan bahunya sebagai jawaban.
“Ditunggu sambil jalan ayo. Kamu dijemput?” Naufal melangkahkan kakinya mendekati Vena. Gelengan kepala dari gadis itu diberikan sebagai jawaban.
“Jadi bareng sama dia?” bisik Naufal dengan kerlingan jahilnya.
“Tadi dia chat aku, maksa gitu biar aku pulang sama dia.” Vena berucap dengan nada pelan sambil melihat sekelilingnya. Takut-takut kalau ada Asti di sana.
“Tenang, Asti udah jalan sama Al tadi,” bisik Naufal yang paham dengan gelagat Vena.
“Sepertinya Pangeran e situ memiliki something padamu,” terka Naufal.
“Maksudnya?” Vena menolehkan kepalanya melihat Naufal yang berjalan di sampingnya.
“Ojo etok-etok gak eroh. Pikiren tah, mek nang umak tok arek e gelem omong, gelem chat. Iyo gak?” ucap Naufal dengan bahasa Jawanya yang khas.
(jangan pura-pura gak tahu. Coba pikir deh, cuma sama kamu aja dia mau bicara, mau chtat. Iya gak?)
Vena termenung memikirkan ucapan teman laki-lakinya itu. Kalau dipikir-pikir memang ada benarnya. Bahkan Naren juga menolongnya berkali-kali. Lebih dari satu kali bisa disebut berkali-kali bukan?
Naufal berjalan mundur di depan Vena, dengan kedua tangannya yang ia letakkan di belakang kepalanya. Ia berkata pada gadis itu, “aku juga cowok. Aku tahu apa yang dia rasakan untukmu. Meski wajahnya datar dan irit bicara kayak orang sariawan, aku yakin kemungkinan besar dia menyukaimu.”
“Jangan ngomong yang aneh-aneh deh. Gak mungkin juga itu kulkas dua pintu punya perasaan kayak gitu ke aku. Dan aku harap itu juga tidak terjadi.” Vena merasa ada beban berat setelah mendengar perkataan Naufal.
“Ayo kita buktikan ucapanku,” ajak Naufal, ia langsung merangkul pundak Vena tanpa meminta ijin.
“Diamlah dan lihat!” bisik Naufal dengan mencondongkan kepalanya mendekat ke Vena seolah terlihat ia tengah mencium Vena dari samping.
Dari arah belakang tiba-tiba ada yang memisahkan Vena dan Naufal. Berjalan di antara mereka berdua. Naufal tertawa keras melihat tingkah Naren. Ia sudah menduga kalau diam-diam cowok dingin itu menyukai Vena.
Naren menarik tangan Vena hingga sampai di depan motornya. Vena yang paham dengan maksud dari laki-laki itu hanya bisa pasrah. Ia hanya berharap semoga Asti tidak melihat, dan juga tidak ada yang memberi tahu sahabatnya itu tentang hal ini.
Sepanjang jalan, Vena hanya diam saja di atas motor besar itu. Ia memilih berpegangan pada bagian belakamg motor itu, daripada harus memegang pinggang laki-laki yang tengah memboncengnya. Tak ada pula percakapan dia antara mereka. Sama halnya dengan kemarin-kemarin.
Dua motor berhenti di depan rumah Vena. Gadis itu segera turun dari boncengan dan membuka pintu pagar. Mempersilahkan kedua temannya untuk masuk.
“Wah anak sultan nih,” ucap Naufal saat menegtahui rumah megah Vena.
“Anaknya emak sama bapak. Bapakku bukan sultan namanya,” jawab Vena menanggapi ucapan Naufal sambil kembali menutup pintu gerbang.
“Assalamu’alaikum, Ma! Vena pulang,” teriak gadis itu tanpa peduli dengan pandangan kedua temannya.
“Waalaikumsalam, Ya Allah, Nak, malu sedikit dong sama temannya,” jawab Mia sambil berjalan menghampiri anaknya dan teman-temannya.
“Ini pasti Naufal ya?” tebak Mia ketika dua teman laki-laki anaknya menyalaminya.
“Anggap aja rumah sendiri ya, Tente siapkan cemilan dulu buat kalian.” Mia tersenyum kepada Naren dan Naufal sebelum meninggalkan mereka berdua di ruang tamu.
*****
Di rumah Bianca, Asti sangat tidak konsentrasi mengerjakan tugasnya. Ia masih sangat kesal karena Vena satu kelompok dengan Naren.
“Ti, serius dong, dari tadi main HP terus,” tegur Bianca yang sudah mulai kesal dengan silkap teman sekelompoknya itu.
“Udah deh, kalian aja yang kerjain, entar aku yang bagian presentasi kalau ada presentasinya,” jawabnya acuh tak acuh.
“Kalau kamu gak bisa serius, namanu gak akan aku masukin ke dalam kelompok,” ancam Al. Seketika Asti meletakkan ponselnya dengan wajah masam melihat kea rah Al.
Ketiganya kembali melanjutkan pekerjaannya. Meski Asti sangat jelas terlihat ogah-ogahan.
Sementara di rumah Vena, mereka bertiga serius mengerjakan, mereka membagi tugas dalam mengerjakan tugas kelompok itu.Vena kebagian mengetik dan mengedit power point mereka. Sedangkan Naren dan Naufal bertugas mencari bahan materi.
“Aku bosen,” keluh Vena yang melihat kedua temannya begitu serius.
“Istirahat dulu yuk, capek nih,” lanjutnya lagi dengan meletakkan kepalanya di atas meja.
“Nanggung, Ven. Kurang dikit lagi nih,” tolak Naufal masih berkutat dengan laptop di depannya.
“Ren, berhenti dulu ya?” pinta Vena pada laki-laki yang berada di samping kanannya. Berharap ia mau menuruti kemauannya.
“Iya.” Jawaban itu membuat Vena berseru senang. Ia segera mengambil cemilan yang suah disapkan mamanya untuk mereka.
“Gitu banget ya, kalau Vena yang ngomong langsung diiyain, dasar! Ngaku suka aja sok jual mahal,” ejek Naufal.
Vena mengangkat sebelah alisnya, ia penasaran, apa benar yang dikatakan Naufal barusan? Rasa-rasanya juga tidak mungkin cowok dingin macam kulkas dua pintu itu bisa menyukai seseorang.
Getaran ponsel milik Naren mengalihkan fokus mereka. Secara tak sengaja Naufal melihat nama si penelepon. Tetapi, yang empunya ponsel malah menolak panggilan masuk itu. Membuat Vena bertanya, “ kenapa gak diangkat?”
“Ganggu. Bukan orang penting.” Kembali ponsel itu bergetar kembali. Membuat Naren kesal dan langsung saja menekan tombol power hingga ponselnya mencadi mode mati.
“Aku yakin itu anak selalu menerormu” tebak Naufal yang dijawab dengusa kasar oleh Naren.
“Siapa sih?” Vena menjawil lengan Naufal.
“Temanmu,” jawab Naufal. Vena langsung paham siapa yang mereka maksud.
Di rumah Bianca, Asti tengah marah-marah lantaran Naren tak bisa dihubungi. Niatnya ia ingin meminta jemput Naren. Tetapi laki-laki itu justru mematikan ponselnya.
“Sedekat apa sih kamu sama Naren? Yakin banget dia mau jemput kamu ke sini,” ucap Bianca dengan bersedekap. Ia mulai jengah dengan sikap Asti yang menurutnya terlalu percaya diri itu. Ia sendiri sangat yakin kalau Naren tidak mungkin menjemput Asti.Hubungan mereka saja tidak sedekat itu.
“Diem deh, kamu gak tahu apa-apa,” desis Asti. Bianca hanya mngedikkan bahu. Tak memperdulikan lagi temannya itu. Ia memilih memainkan ponselnya daripada beradu mulut dengan Asti.
*****
Al dan Putra tengah menunggu Naren di lapangan basket. Mereka bertiga telah memiliki jadwal rutin latihan basket bersama Romi dan teman-temannya. Berteman dengan Naren membuat mereka berdua memilik banyak teman anak kuliahan yang menyenangkan.
:”Naren mana sih? Masak iya kerja kelompok belum selesai sampai sekarang?” gerutu Putra yang sudah mulai bosan menunggu. Bahkan mereka berdua telah sekali latihan yang ditunggu tak kunjung menampakkan batang hidungnya.
“Hpnya gak aktif,” tutur Al dengan memandangi layar ponselnya.
“Coba tanya Vena atau Naufal,” perintah Putra. Al pun mencoba menghubungi nomor Vena.
Tersambung!
“Hallo, Ven, Naren masih di situ gak?” tanya Al dengan menegakkan tubuhnya.
”Baru aja balik, sekitar lima mentan mungkin,” jawab Vena di seberang sana.
“Oh, oke, thanks ya.” Sambungan telepon ia putuskan setelah mendapat jawaban dari Vena.
“Gimana?” tanya Putra dengan mendrible bola basket di tangannya.
“Baru balik katanya. Lima menitan.”
“Mampus aja dah. Nyampe sini sejam lagi keburu kita pulang,” gerutu Putra kesal. Ia meninggalkan Al yang masih duduk di tempanya, menghampiri Romi dan yang lainnya yang tengah bermain.
Hari berganti gelap, Naren baru saja memasuki halaman lapangan. Ia melihat hanya bebeapa orang saja yang tersisa. Salah satunya Al. Remaja laki-laki itu masih setia menunggu sahabatnya datang.
Putra dan beberapa rekan mereka yang lain telah pamit untuk pulang lebih dahulu.
“Tumben telat?” tanya Romi yang duduk bersama dengan Al menerima uluran tangan Naren untuk bersalaman.
“Belajar,” jawabnya singkat.
“Jangan belajar, nanti jadi pinter loh,” ejek Romi pada.
Naren mendudukkan dirinya di samping sahabatnya. Mereka bertiga saling terdiam. Sibuk dengan pikiran mereka masing-masing. Hampir setengah jam keheningan menyelimuti meeka bertiga.
“Balik dulu,” pamit Romi pada dua anak SMA itu. Ia menepuk pundak mereka satu persatu sebagai tanda berpamitan.
Naren berdiri mengambil bola basket yang ada di dekatnya. Membawanya ke tengah lapangan. Sendirian ia memainkan bola besar itu. Sesekali melakukan shooting ke arah ring.
Tak lama, Al berdiri dan menghampirinya. Tak ada suara yang terucap, tetapi Naren paham jika temannya itu mengajaknya bermain berdua. Satu lawan satu.
Mereka berdua saling berebut bola. Menghalangi setiap salah satu dari mereka ketika dekat dengan ring. Sebisa mungkin menutupi peluang untuk mencetak skor.
Lama mereka bermain, peluh membasahi wajah mereka. Dinginnya malam tak lagi mereka rasakan. Hingga akhirnya Al yang sudah mulai lelah menghentkan permainan. Ia berbaring di tepi lapangan dengan napas yang terengah-engah. Diikuti Naren yang juga melakukan ha yang sama.
“Aku merasakan sesuatu yang baru,” ucap Naren membuat Al menolehkan pandanganya ke samping, menunggu lanjutan dari apa yang akan dikatakan sahabatnya.
Bersambung…
--------