Suasana kelas Vena pagi itu terasa hening. Para siswa sibuk memperhatikan buku paket di hadapan mereka. Sesekali terdengar suara guru yang menerangkan materi.
“Sudah paham dengan yang saya jelaskan?” tanya Bu Arin, guru bahasa di kelas Vena.
“Sudah, Bu,” jawab anak-anak serentak.
“Untuk tugas minggu depan, saya minta kalian membuat power point yang menjelaskan tentang majas. Saya akan bagi kelompoknya sesuai nomor urut absen dengan jumlah tiap kelompok tiga orang. Tidak ada yang boleh protes,” ucap Bu Arin dengan tegas.
Keluhan anak-anak terdengar tidak setuju dengan kelompok yang ditentukan oleh guru mereka. Sebagian besar mereka yang mengharapkan bisa berkelompok dengan teman dekatnya harus menelan kekesalan.
Vena merasa was-was melirih ke arah Asti. Karena jika dihitung-hitung ia pasti satu kelompok dengan Naren. Vena hanya mampu menelan ludahnya kasar.
“Bu! Saya tukar kelompok sama Vena boleh?” seru Asti tiba-tiba mengangkat tangannya.
Dengan tegas Bu Arin menjawab tidak. Beliau tetap melanjutkan menyebutkan nama-nama kelompok yang dibuatnya.
“Kelompok dua Aldi, Asti, Bianca.”
“Kelompok lima, Mentari, Naren, Naufal.” Bu Arin memanggil nama depan Vena.
“Terakhir kelompok sepuluh, Sinta, Putra dan Tiara. Saya tunggu tugas kalian minggu depan. Ingat! Tidak ada yang boleh tukar anggota kelompok. Silahkan diskusikan dengan kelompok masing-masing, saya akhiri pelajaran hari ini, selamat siang.” Bu Arin berdiri dari tempat duduknya dan meninggalkan kelas X IPA 3.
Asti melayangkan pandangan kesalnya pada Vena yang duduk di sampingnya. “Ngeselin banget tuh guru, pasti nanti kamu bakalan deket-deket sama Naren,” katanya pada Vena.
Helaan napas lelah dan jengah keluar dari bibir tipis Vena. Sejujurnya dirinya sudah sangat bosan mendengar peringatan yang sama dari Asti. Ia sudah sangat hafal, bahkan di luar kepalanya. Ia juga tidak akan menyaingi sahabatnya sendiri untuk menarik perhatian Naren. Toh, selama ini Naren sendiri kan yang mendekat padanya? Apa itu adalah salah Vena?
“Aku gak bakalan cari kesempatan, Asti. Kamu percaya deh sama aku,” jawab Vena meyakinkan. Ia juga lelah mengatakan hal ini.
“Gak! Aku mulai gak percaya sama kamu. Kamu tuh ada kemungkinan bakal jadi saingan aku buat dapetin Naren.” Perkataan Asti sedikit banyak seringkali melukai perasaan Vena. Tapi ia memilih diam dan tidak terlalu memikirkannya.
“Aku gak bakal menikung sahabat aku sendiri, Asti. Tolong dong kamu percaya sama aku.” Vena memegang kedua bahu Asti untuk meyakinkannya.
“Woy, Asti, ndang reneo! Awakmu iku kelompok e sopo seh!” teriak Bagas memanggil Asti yang tak kunjung mendekat.
(Woy. Asti, cepat kemari! Kamu itu kelompoknya siapa sih!)
“Iya-iya, bentar!” Dengan kekesalan yang masih menyelimuti hatinya Ast berdiri menghampiri Bagas dan Bianca.
“Ren, aku ngerasa gak enak sama Asti,” ucap Vena dengan memutar kursinya menghadap Naren.
“Birain,” jawab Naren dengan nada yang datar dan wajah tanpa ekspresi.
Naufal mendekati mereka berdua, ia duduk di bangku yang biasanya ditempati Ara. Ia menyunggingkan senyum pada Vena. Saat memalingkan wajahnya pada Naren, ia mendengus kasar karena temannya anya diam saja.
“Mau diam-diaman terus sampai kudaa poni bisa berenang?” celatuk Naufal kesal. Pasalnya Vena dan Naren tak kunjung mengeluarkan suaranya.
“Kita mau mengerjakan kapan?” tanya Vena pada akhirnya membuka pertanyaan.
“Aku mah terserah, Asal sama kamu,” goda Naufal pada Vena. Taka da yang menyadari perubahan wajah Naren mendengar perkataan Naufal.
“Serius, Fal. Kamu bisanya kapan? Naren bisanya kapan?” tanya Vena cemberut.
“Aku sih, kapanpun bisa. Waktu aku selalu banyak buat kamu.” Lagi-lagi Naufal menggoda Vena.
“Naufal serius dong!” Vena yang kesal dengan godaan Naufal pun sotak memukul bahu laki-laki itu. Membuatnya mengaduh kesakitan dan meminta maaf.
“Naren, jangan diam aja dong, serem tahu kalau kamu diam gitu,” ucap Vena yang sekilas melihat wajah dingin laki-laki yang duduk di hadapannya.
“Kalau ngerjakannya di rumah aku aja gimana?” usul Vena.
“Boleh, setuju deh aku,” ucap Naufal tanpa penolakan.
“Naren gimana?” tanya Vena melihat Naren menunggu jawaban laki-laki itu.
“Ya.” Hanya satu kata itu yang keluar dari mulutnya. Membuat Vena menghela napas keras menyalurkan kekesalannya pada teman sekelompoknya itu.
“Gak usah ngomong sama dia deh, kita tentuin aja sendiri, yang penting nanti dia datang waktu ngerjain tugas,” ucap Naufal yang mulai kesal dengan iritnya kata yang keluar dari mulut Naren.
“Di rumah aku, besok gimana? Kamu bisa?” Vena ikut mengabaikan Naren.
“Oke. Besok gak usah (jangan) minta jemput, kamu balik bareng aku aja,” tawar Naufal.
“Sama aku!” Tiba-tiba Naren bersuara dengan memandang Vena tanpa berkedip.
“Gak bisa! Aku duluan yang ngajak Vena balik bareng,” sungut Naufal tak terima, semata-mata menggoda Naren.
“Kenapa kalian jadi kayak mau gelud (berantem) gitu sih wajahnya. Ini kita lagi bahas tugas, jangan bahas yang lain dong. Fokus bentar aja bisa gak sih.” Vena mulai kesal dengan tingkah kedua teman sekelompoknya.
Dari tempatnya duduk, sedari tadi Asti memperhatikan Vena dan Naren. Ia merasa sangat kesal melihat berbagai ekspresi dari wajah temannya itu.
“As, fokus dong,” peringat Bianca.
“Iya-iya. Aku ngikut deh pokonya,” jawab Asti kesal.
Bianca dan Al sangat kesal dengan tingkah Asti itu. Akhirnya mereka melakukan diskusi sendiri. Membiarkan Asti yang sibuk memperhatikan Vena dan Naren.
Saatnya istirahat kedua!
Terdengar pengeras suara yang memberitahukan waktu istirahat.
Mereka yang satu persatu membubarkan diri dan meninggalkan kelas.
“Ya udah nanti aku bikin grup bertiga buat diskusi,” putsu Vena. Ia membereskan buku catatannya dan meninggalkan mereka berdua.
“Kamu suka sama Vena?” bisik Naufal pada Naren yang masih duduk di hadapannya.
“Ck! Berisik!” desis Naren. Ia berdiri meninggalkan Naufal yang masih di tempatnya.
“Aku tahu itu, Ren! Hati-hati!” teriak Naufal mengingatkan. Naren hanya menanggapi dengan mengacungkan jari tengahnya tanpa melihat Naufal.
“Kalian mau beli makan apa?” tanya Ara saat mereka berjalan beriringan ke kantin.
“Aku mau beli minum aja, Ra. Nanti makan di rumah aja.” Vena menjawab pertanyaan temannya dengan wajah yang terlihat kusut.
“Kamu, As?” Ara memandang Asti dengan wajah penuh harap.
“Gak selera makan,” jawabnya dengan melirik tajam pada Vena.
“Yah, padahal aku laper banget ini, kalian pada janjian ya,” gerutu Ara dengan bibir yang mengerucut.
“Kalian duluan aja, aku mau ke toilet.” Vena menghentikan langkah saat mereka hendak berbelok memasuki kantin.
Vena melangkahkan kakinya menuju toilet. Saat sampai di sana ia ikut mengantre dengan beberapa siswi lainnya. Ia bersandar di tembok depan toilet. Memejamkan matanya memikirkan Asti yang sepertinya lagi-lagi tak enak hati padanya karena Naren.
“Ven, dah sepi tuh.” Seorang siswi yang mengenal Vena menepuk bahu gadis itu.
“Oh, oke, makasih, Mir.” Vena masuk ke dalam toilet yang sudah sepi. Dibasuhnya wajahnya dengan air dingin.
“Kenapa selalu ada aja yang bikin Asti marah sama aku,” ucapnya pada pantulan dirinya di depan cermin.
“Apa kita gak bisa berteman dengan baik? Tanpa ada rasa takut tersaingi seperti ini? Padahal aku sama sekali gak ada niatan buat saingan rebutin perhatian Naren. Cowok dingin kayak kulkas dua pintu gitu apanya yang bikin menarik, selain gantengnya mungkin,” gumannya lagi yang diakhiri seringaian tipis di bibir mungilnya.
Tapi tanpa disadarinya, rasa itu mulai tumbuh di hatinya. Lama-lama dia akan paham dengan apa yang dirasakannya saat ini. Sekarang masih awal, jadi dia belum menyadari perasaannya yang sesungguhnya pada laki-laki yang diapnggilnya ‘kulkas dua pintu’ itu.
Bersambung…..
--------