“Kalian nyadar gak sih? Kalian tuh baru seminggu di sekolah sini udah jadi idola. Lihat deh, para cewek-cewek yang pada lihatin ke sini. Aku tuh paling males ya entar kalau tiba-tiba ada yang datang terus ngaku-ngaku pacar kalian,” terang Ara yang menurut Putra sangat tidak masuk akal.
“Kebanyakan baca novel sama nonton sinetron deh nih anak. Halu mulu. Mana ada di dunia nyata seperti itu,” ejek Putra.
“Coba aja lihat sendiri,” gerutu Ara. Ia mulai memakan makanannya bersama Vena.
Diam-diam, Al yang duduk di samping Vena memperhatikan gadis itu dari samping. Vena yang merasa diperhatikan pun mengalihkan pandangannya dari mangkuk makanannya.
“Ada apa, Al?” tanya Vena.
“Gak papa,” jawabnya dengan tersenyum.
Saatnya jam ke tujuh di mulai!
Belum selesai Vena dan Ara menikmati makan sianya, bel masuk tanda pelajaran selanjutnya dimulai telah berbuny. Bakso milik Vena masih tersisa setengah mangkuk. Mendengar bel berbunyi membuatnya urung menghabiskan makannya.
“Balik yuk, Ra,” ajaknya pada Ara yang masih melanjutkan makan.
“Bentar, Ven, tinggal dikit,” jawab Ara sebelum kembali menyuapkan bakso ke dalam mulutnya.
*******
Tepat jam setengah tiga sore, bunyi pengeras suara menggema di seantero SMA Insan Cendekia menandakan kegiatan belajar telah berakhir. Siswa-siswi yang telah penat menerima pelajaran dari pagi hingga menjelang sore berhamburan keluar dari kelas masing-masing. Saling berebut untuk meninggalkan gedung sekolah.
Tiga gadis yang berasal dari kelas X – IPA 3 berjalan di antara mereka. Obrolan ringan di antara mereka kembali terjalin. Vena telah berbaikan dengan Asti, meski sahabatnya itu terkadang masih suka berkata ketus padanya.
“Aku duluan ya, udah di jemput,” pamit Vena pada kedua sahabatnya. Ia berlari-lari kecil menghampiri mobilnya yang disupiri Pak Mamat.
“Langsung pulang, Neng?” tanya Pak Mamat saat Vena sudah memasuki mobil.
“Iya, Pak. Capek banget hari ini, pengen rebahan,” jawab Vena.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang, membelah jalanan kota Malang yang cukup lengang. Di jam-jam seperti ini kemacetan masih belum terjadi. Tapi jika sudah lewat jam empat bisa dipastikan banyak ruas jalan yang akan mengalami sedikit kemacetan.
Dalam perjalanan pulang itu Vena terus memainkan ponselnya. Satu notifikasi pesan masuk ke aplikasi chatnya. Ia mengernyit heran saat melihat nama pengirim pesan.
Naren:
Udah balik?
Vena yang penasaran dengan pesan yang tiba-tiba dikirimkan oleh Naren segera membalasnya. Ia mengetikkan pesan balasan untuk Naren. Menanyakan ada apa dia mengirimkan pesan padanya. Dan ternyata jawab dari laki-laki itu sungguh membuat Vena bertanya-tanya. Naren hanya menjawab dengan tiga huruf saja ‘gpp’ tanpa ada lanjutannya.
“Kenapa dengan dia?” guman Vena.
“Ada apa, Neng?” tanya Pak Mamat yang tidak sengaja mendengar gumanan Vena.
“Oh, gak papa, Pak,” jawab Vena tanpa mengalihkan pandangannya dari ponsel.
******
Di halaman sekolah, Naren tengah duduk di atas motor sportnya dengan ponsel di tangan kananya. Ia baru saja mengirimkan pesan untuk Vena.
Entah setan apa yang membuatnya bisa mengirimkan pesan untuk gadis itu. Saat ia hendak pulang, bayangan Vena yang dicopet orang terngiang di kepalanya. Maka itu ia mengirimkan pesan padanya.
Hanya pada Vena, ia bisa melakuakn hal-hal di luar kendalinya. Seperti ada sesuatu yang menari dari gadis itu, Pertama kali ia mengantarkan Vena pulang, ia mendapati fakta bahwa Vena adalah gadis yang beruntung dengan mamanya yang menyayanginya.
Kedua kali ia mengantarkan Vena semalam, ia mendapati fakta lain. Bhawa kluarga Vena sangat harmonis dan menyayangi gadis itu. Bahkan pada dirinya keluagra gadis itu memperlakukannya dengan sangat baik. Ia menemukan sesuatu yang salama ini belum pernah ia rasakan di rumhanya.
Ting!
Sebuah pesan kembali masuk saat ia tengah memandangi foto profil Vena di aplikasi chatnya.
Vena:
Yakin gak papa?
Imi pertama kalinya kamu chat aku. Ada apa?
Dua pesan masuk secara bersamaan dari gadis yang sedang ia pikirkan itu. Tak terasa membaca pesan itu membuat sedikit sudut bibirnya terangkat. Hanya sedikit, nyaris tak terlihat.
Ia memasukkan ponselnya ke dalam saku jaket yang ia kenakan. Melajukan motor besar kesayangannya membelah jalanan kota. Meninggalkan suara bising yang memekakan telinga.
*******
“Mama! Vena pulang,” teriak Vena berlari memasuki rumah.
“Duh, anak TK mama udah pulang nih, sana mandi, bau asem, jangan peluk-peluk.” Mia melepaskan pelukan dari anak semata wayangnya.
“Ih, Mama jahat banget deh.” Vena cemberut saat Mia melepas pelukannya.
“Mandi dulu, baru boleh peluk-peluk Mama.”
“Iya-iyaa.” Dengan malas, gadis berkuncir kuda itu meninggalkan Mia. Ia berjalan ke kamarnya di lantai dua.
Vena menghempaskan tubuhnya di atas kasur besarnya. Ditatapnya langit-langit kamarnya yang ia hiasi dengan bintang-bintang.
“Huh, lelah,” desisnya.
“Tadi Naren mau ngapain ya? Gak mungkin kalau gak ada apa-apa tiba-tiba chat aku gak ada maksudnya,” guman Vena memikirkan pesan yang ia terima dari Naren.
Ia mengambil ponsel yang ia letakkan di sampingnya. Dilihatnya sekali lagi ruang obrolannya dengan Naren. Sudah centang biru dua, yang artinya pesannya telah dibaca. Tapi tak ada balasan seperti yang ia harapkan.
“Tau ah, kok ada cowok gak jelas kayak dia. Untung ganteng. Kayak gitu kok Asti bisa tergila-gila. Eh, tapi kemarin aku sempat baper juga sih.” Vena menggerutu sendiri.
“Eh-gak boleh baper! Inget Vena! Asti udah cinta sama Naren, kamu harus jaga hati dan mata agar terhindar dari yang namanya menyukai Naren si kulkas dua pintu. Say No to love him!” ujar Vena mengingatkan dirinya sendiri.
Vena segera menuju ke dalam kamar mandi di kamarnya. Melakukan ritual mandinya yang memakan waktu tidak sebentar. Berendam di dalam bathtub adalah hal paling menenangkan baginya.
Selesai mandi dan mengganti seragamnya dengan baju rumahan, ia menghampiri Mia yang tengah berada di dapur.
“Dor!” Ia bertriak tepat di belakang Mia.
“Astaga, Vena! Untung ya Mama gak jantungan,” gerutu Mia.
“Untung juga Mama gak lagi pegang pisau. Kalau mama pas pegang pisay terus jatuh kena kaki Mama giman? Lain kali jangan main kayak gitu lagi,” nasihat Mia pada anaknya.
“Iya, Ma, maaf deh. Kan gak maksud gitu. Mama juga mikirnya kejauhan,” jawab gadis itu dengan wajah yang ditekuk dan cemberut, merasa bersalah telah mengageti sang mama tercinta.
“Oh iya, Ma. Tadi Naren chat aku loh,” cerita Vena pada Mia sambil duduk menopang dagu di atas meja makan.
“Chat apa emang?” tanya Mia menanggapi cerita anak gadisnya.
“Nanyain aku udah pulang apa belum.”
“Terus?”
“Ya aku jawab udah, kan waktu dia chat aku udah jalan pulang sama Pak Mamat.”
”Mungkin mau ngajakin kamu pulang bareng?” tebak Mia.
“Gak mungkin deh. Dia tuh gak bisa ditebak. Kemarin baik, tapi tadi udah berubah jadi kulkas dua pintu lagi.”
“Jangan ngatain gitu, nanti kamu suka loh.”
“Big no, Mama! Gak boleh aku suka sama Naren!” teriak Vena heboh.
“Jangan gitu, perasaan gak ada yang tahu. Pesan Mama, jangan pacaran dulu, baru masuk SMA, belajar dulu yang rajin,” pesan Mia pada anak tunggalnya.
“Iya Mama bawel, makin sayang deh sama Mama.”
Bersambung...
--------
MAAF AKU HARUS TEMPEL INI, KARENA BUAT AKU INI PENTING BANGET
Hai...
Sebelumnya aku mau bilang makasih buat kalian yang sudah dukung cerita aku dan kasih love buat cerita ini.
Ini karya orisinal aku yang hanya exclusive ada di Innovel/Dreame/aplikasi sejenis di bawah naungan STARY PTE.
Kalau kalian membaca dalam bentuk PDF/foto atau di platform lain, maka bisa dipastikan cerita ini sudah DISEBARLUASKAN secara TIDAK BERTANGGUNGJAWAB.
Dengan kata lain, kalian membaca cerita hasil curian. Perlu kalian ketahui, cara tersebut tidak PERNAH SAYA IKHLASKAN baik di dunia atau akhirat. Karena dari cerita ini, ada penghasilan saya yang kalian curi. Kalau kalian membaca cerita dari hasil curian, bukan kah sama saja mencuri penghasilan saya?
Dan bagi yang menyebarluaskan cerita ini, uang yang kalian peroleh TIDAK AKAN BERKAH. Tidak akan pernah aku ikhlaskan.
Salam
kiki rizki