Hari ini Vena kembali bersekolah dengan diantar oleh Pak Mamad. Saat baru saja turun dari mobil, ia melihat Asti yang baru saja memasuki halaman sekola. Ia berpamitan pada supirnya dan segera memanggil Asti.
“Asti! Tungguin!” teriaknya. Yang dipanggil namanyapun sontak menghentikan langkahnya dan berbalik melihat siapa yang memanggilnya. Saat dilihatnya Vena yang tengah berlari menghampirinya, kembali ia melanjutkan langkahnya tanpa menunggu Vena sampai di tempatanya.
Vena berhenti berlari saat mengetahui Asti tidak menunggunya. Ia kembali berjalan perlahan hingga sampai di kelas. Di ruangan itu telah banyak murid yang datang. Termasuk teman-temannya yang kemarin datang menjenguknya.
“Udah sehat, Ven?” sapa Davina teman sekelasnya.
“Udah, kok Vin,” jawabnya.
“Vena!” panggil Ara yang duduk di dekat Asti. Ia melambaikan tanggannya meminta Vena mendekat.
“Pagi, Ara, pagi Asti,” sapanya seolah-olah ia baru saja bertemu dengan asti di kelas ini.
“Pagi juga, kukira kamu masih belum masuk,” ucap Ara.
“Bosen tahu di rumah gak ngapa-ngapain.”
“Asti…,” panggil Vena. Tetapi gadis itu seolah tak mendengar dia berbicara. Vena dan Ara saling berpandangan, ada sorot kesedihan di mata Vena saat ini.
“Wow, akan ada perang dunia ke sekian ini kalau Asti udah marah,” celatuk Puta tanpa tahu situasi. Dan langsung mendapat teguran dari Al yang duduk di dekatnya.
Suasana di antara mereka mendadak hening dan canggung. Vena menunduukkan kepalanya menyembunyikan air matanya yang hendak jatuh. Ara menepuk-nepuk punggung Vena memberinya semangat.
“Gak papa, nanti aku bantu ngomomg sama Asti. Nanti aja waktu istirahat ya,” bisik Ara.
Guru masuk ke dalam kelas mereka. Pelajaran pun segera di mulai. Vena mengikuti pelajaran dengan mood yang jelek. Selama pelajaran berlangsung ia hanya diam dan sama sekali tidak konesntrasi menerima materi.
Saatnya istirahat pertama!
Terdengar suara pengeras suara yang memberitahukan waktunya istiratat. Semua murid berhamburan keluar kelas. Tanpa mengajak Vena dan Ara seperti biasanya, Asti meninggalkan kelas dengan temannya yang lain.
“Asti, tunggu!” panggil Vena sedikit mengeraskan suaranya. Ia berusaha menyusul Asti yang hampir sampai di depan pintu.
“Aku mau ngomong sebentar, please,” pinta Vena. “Em, Davina, bisa minta tolong kamu tinggalin kita berdua?” pinta Vena pada Davina.
“Aku duluan ya. Sorry, As, nanti chat aja kalau mau nyusulin,” kata Bianca.
“Apa?” ketus Asti. Ia masih sangat marah pada Vena. Ia merasa Vena telah mengkhianatinya dengan dekat dengan Naren.
“Kemarin… Ara bilang kamu marah karena masalah Naren,” ucap Vena lirih.
“Oh, kamu mau bahas itu? Dasar penghianat! Mana katamu yang gak bakal suka sama Naren? Gak mau kehilangan sabat hanya karena cowok? Bulshit!” bentak Asti.
“Aku sama sekali gak ada hubungan apa-apa sama Naren, sungguh,” ucap Vena meyakinkan.
“Lalu bagaimana bisa Naren tahu alamat rumahmu kalau kalian gak punya hubungan?” cerca Asti.
Di dalam kelas itu masih ada beberapa anak yang melihat pertengkaran itu. Ara, Naren, Al dan Putra juga masih berada di dalam kelas.
“Asti kalau marah serem juga ya,” bisik Putra entah pada siapa. Tak ada yang menangapi ucapannya itu. Diam-diam ia merekam pertengkaran itu dalam history salah satu akun sosmednya.
“Itu karena Naren anaknya teman papaku,” kata Vena berusaha menjelaskan.
“Kamu bisa menanyakannya pada Naren kalau tidak percaya,” lanjut Vena.
Asti berbalik melihat pada Naren yang masih duduk di tempatnya. “Apa itu benar?” tanya Asti pada Naren. Yang ditanya diam saja tak peduli dengan Asti. Asti berjalan mendekat dan kembali menanyakan hal yang sama.
“Yang dikatakan Vena benar kok, As,” kata Ara.
“Jangan membela Vena! Dan aku gak tanya sama kamu!” ketus Asti.
“Naren, jawab dong. Apa bener yang dikatakan Vena?” katanya dengan nada merajuk. Membuat Naren dan kedua sahabatny merasa kesal dengan tingkah teman sekelasnya itu.
“Ya.” Jawaban singkat itu akhirnya keluar dari mulut Naren. Di tempatnya berdiri Vena merasa sangat lega. Tanpa terasa ia menghembuskan napas lega. Merasa bersyukur karena lagi-lagi Naren menolongnya.
“Meski begitu kamu jangan dekat-dekat sama Vena dong, Ren. Kamu tahu gak sih, aku tuh cemburu.” Kembali Asti berbicara dengan nada merajuk.
“As, aku tanya nih, emang kamu udah pacaran sama Naren? Kenapa kamu ngelarang Naren deket sama Vena?” tanya Putra yang gemas sekaligus kesal mendengar ucapan Asti yang sangat berlebihan itu.
“Jangan ikut campur deh. Aku calon kandidat terkuat buat jadi pacarnya Naren. Gak ada yang lain,” ucap Asti dengan Nada sombongnya. Putra yang mendengarnya menjawab dengan ekspresi ingin muntah hingga mendapat pukulan dari Asti.
“Sekarang kamu percaya kan, Asti? Kamu udah gak marah lagi kan sama aku?” Vena berjalan mendekati mereka.
“Aku masih kesal sama kamu. Kamu sepertinya bakalan nikung aku deh,” tuduh Asti.
“Astaga! Aku janji sama kamu. Di depan mereka semua, aku janji sama kamu gak bakal aku jadi saingan kamu. Aku gak mau kehilangan sahabat cuma karena rebutan cowok,” kata Vena sungguh-sunguh.
Tapi aku gak janji untuk tidak menyukainya, karena kamu gak tahu sikapnya dia kalau sama aku seperti apa. lanjut Vena dalam hati.
“Udah clear kan masalahnya?” tanya Al.
“Oke, ayo kita cari makan, jam istirahat bentar lagi selesai,” ajak Al.
Ketiga gadis itu setuju. Mereka berdiri dari bangku masing-masing. Berjalan meninggalkan kelas.
“Loh, Ren, mau ke mana? Kantin kan ke arah sana?” tanya Asti yang melihat Naren berbelok. Tetapi, Naren tak menjawab pertanyaan itu. Asti hendak mengejar Naren, tetapi Al mencekal lengannya.
“Jangan dikejar. Dia lagi gak enak hati, Sebaiknya jangan diganggu dulu,” peringat Al.
“Apa sih? Jangan sok tahu deh!” Asti melepaskan cengkeramannya dari tangan Al.
Vena dan Ara membiarkan temannya mengejar Naren. Mereka kembali melangkahkan kakinya menuju kantin.
“Kamu mikirin apa sih, Ven?” tanya Ara penasaran. Sejak tadi Vena hanya diam saja.
“Gak ada kok, Ra,” jawan Vena dengan senyum yang sangat jelas dipaksakan.
“Ya udah, mau aku pesenin makanan sekalian? Nanti kamu cari tempat buat kita,” tawar Ara. Vena mengangguk menyetujui.
Vena berjalan sendirian menuju bangku yang kosong. Ia menunggu Ara yang masih mengantre makanan. Tak berselang lama tiba-tiba Al duduk di sampingnya, mengulurkan sekotak s**u ke hadapannya. Vena menilehkan pandangannya pada teman sekelasnya itu.
“Buat kamu, di sini gak ada cokelat panas, jadi aku belikan s**u kotak aja. Katanya cokelat bisa memperbaiki mood yang jelek,” ucap Al.
“Makasih,” jawab Vena dengan senyum indahnya. Senyuman itu menular pada Al yang duduk di sampingnya.
“Oh, beli s**u buat Vena ternyata,” ucap Putra yang duduk di hadapan Al. yang disindiri terlihat tak peduli sama sekali. Justru Vena merasa tak enak dengan ucapan Putra barusan.
“Kalian kenapa di sini sih?” tanya Ara pada kedua laki-laki yang duduk di sana.
“Ya emang kenapa?” tanya Putra.
“Kalian nyadar gak sih? Kalian tuh baru seminggu di sekolah sini udah jadi idola. Lihat deh, para cewek-cewek yang pada lihatin ke sini. Aku tuh paling males ya entar kalau tiba-tiba ada yang datang terus ngaku-ngaku pacar kalian,” terang Ara yang menurut Putra sangat tidak masuk akal.
“Kebanyakan baca novel sama nonton sinetron deh nih anak. Halu mulu. Mana ada di dunia nyata seperti itu,” ejek Putra.
Bersambung….
--------