“Ma, nanti temen-temen aku mau ke sini katanta. Gara-gara mama nih, mereka jadi ke rumah kan,” ucap Vena duduk di samping Mia.
“Ya itu berarti teman-temanmu setia kawan, Sayang, Mereka perhatian sama kamu. Harusnya kamu bersyukur punya teman-teman yang seperti itu, Dijaga baik-baik teman yang care sepeti itu. Kayak Naren juga itu. Dia baik banget loh sama kamu.”
“Kenapa bawa-bawa Naren sih Mama nih.” Ada semburat merah di pipi Vena saat Mia menyebut mana teman sekelasnya itu.
“Ma.”
“Hem?” Mia memfokuskan pandangannya pada putri semata wayangnya yang tengah bersandar di bahunya.
“Ada apa?” tanya Mia sambil mengusap pucuk rambut putrinya.
“Kalau aku suka sama Naren, Mama marah gak?” tanya Vena tiba-tiba.
“Anak mama udah gede ya, udah suka-sukaan sama cowok,” goda Mia.
“Mama, ih. Gak jadi cerita deh.” Vena mengerucutkan bibirnya kesal pada Mia.
“Ulu-ulu, jare wis gede, kok sik mecucuan ngunu,” ejek Mia dengan bahasa Jawa.
(Ulu-ulu, katanya sudah besar kok masih cemberutan gitu.)
“Mama tahu kan, teman aku yang namanya Asti? Dia tuh suka banget, Ma, sama Naren. Dia terang-terangan gitu berkoar di kelas kalau suka sama Naren.”
“Terus? Kamu juga seprti dia gitu?” tebak Mia.
“Ya gak lah, Ma. Boro-boro mau suka sama Naren. Kemarin waktu aku berdiri deket Naren aja dia marah-marah sama aku. Aku sampai takut.”
“Ngapain takut? Emangnya dia bilang apa waktu marah?”
“Dia bilang kalau aku suka sama Naren dia bakal musuhin aku, bakal jauhin aku gitu, Ma. Terus dia bilangnya itu kayak dari hati gitu. Sorot matanya kelihatan serius banget.”
“Emangnya kamu juga suka sama Naren?” tanya Mia memastikan.
“Sekarang sih belum. Gak tahu nanti. Aku ngerasa Naren kayak care gitu ke aku. Aku jadi takut baper, Ma."
“Mama harap kalian akan berteman baik. Jangan sampai bertengkar hanya karena cowok. Cowok di kelas kamu gak cuma Naren aja kan? Di kelas lain juga banyak kan yang ganteng, cakep, perhatian? Pesan Mama, jaga pertemanan kalian ya. Cari teman itu sulit, kalau cari musuh itu gampang sekali.”
“Iya, Ma. Satu lagi, Ma.”
“Apa, Sayang?” Mia sesekali mengusap pucuk kepala putrinya.
“Nanti, kalau misalnya temen-temen jadi ke sini, Mama jangan bilang ya ke mereka kalau yang nolongin aku kemarin itu Naren. Aku gak mau ada salah paham sama Asti. Sama yang waktu Naren ngantar aku pulang juga, Mama jangan cerita ya,” pinta Vena sungguh-sunggguh.
“Iya, Mama ngerti.”
“Makasih Mama sayang.” Vena memeluk Mia dengan erat.
******
Sepulang sekolah, Asti dan Ara siap untuk menjenguk Vena. Mereka berdua berkali-kali mengubungi Vena untuk menanyakan alamat, tetapi gadis itu tidak menjawab satupun pesan mereka. Membuat Asti kesal sendiri.
“Gimana nih, jadi jenguk gak? Kalau naik angkutan harus dua kali naik angkutan berbeda. Tapi kan kita bisa bonceng-boncengan,” kata Ara.
“Masalahnya kita gak tahu alamat rumahnya. Gimana kita mau ke sana? Orangnya aja ditelepon gak diangkat ini,” keluh Asti makin kesal.
“Al sama Putra kan rumahnya searah sama Vena, kalian gak tahu?” tanya Ara.
“Ya mana aku tahu. Dikira aku bapaknya gitu. Kalau gak jadi berangkat aku balik nih,” ketus Putra.
“Ck! Ayo,” kata Naren mulai kesal dengan mereka semua.
“Kamu tahu rumahnya Vena?” tanya Asti terkejut.
“Hem.”
“Gimana bisa? Jangan bilang Dia deketin kamu buat jadi pacar kamu juga?” tuduh Asti. Wajahnya memerah menahan kemarahan.
“Berisik. Ya udah aku balik.”
Naren pun meninggalkan teman-temannya yang lain. Ia mulai jengah dengan sikap Asti yang seolah-olah bisa mengatur dan memprotec dirinya. Dari sudut matanya ia bisa melihat Al dan Putra mengikutinya, di susul Ara yang berjalan sendirian.
“Naren, aku ikut ke rumah Vena sama kamu ya,” kata Ara meminta ijin dan hanya deheman yang ia dapatkan dari laki-laki dingin itu.
“Al sama Putra jadi ikut?” tanya Ara.
“Aku jadi,” jawab Al. Ara mengangguk tersenyum pada ketua kelasnya itu.
Mereka berjalan beriringan tanpa Asti. Menuju motor masing-masing yang letaknya sedikit berjauhan di tempat parker. Ara harus berjalan cukup jauh dari ketiga teman laki-lakinya. Motornya berada di tempat paling ujung jauh dari pintu gerbang.
“Nanti tunggu aku di depan ya, Motor aku di ujung sana, kejepit pula.” Tunjuknya ke arah tempat motronya terparkir.
******
Naren membimbing teman-temannya yang lain hingga sampai di depan rumah Vena. Ketiga temannya mengguman takjub melihat megahnya rumah itu, Satu-satunya rumah mewah yang ada di komplek perumahan itu.
Ara turun terlebih dahuku dan memencet bel yang ada di dekat pintu gerbang. Tak beberapa lama seorang bapak-bapak datang membukakan pintu untuk mereka.
“Temannya Neng Vena ya?” tanya Bapak itu yang tak lain adalah Pak Mamat, supir keluarga Vena.
“Iya, Pak. Vena ada?” tanya Ara sopan.
“Ada, Neng. Mari silahkan masuk. Neng Vena sama ibu sudanh menunggu. Motornya dimasukin semua aja, Mas, Neng,” ucap Pak Mamat.
Pak Mamat membuka lebar-lebar pintu pagar untuk mereka. Satu per satu mereka membawa masuk motor mereka. Kemudian Pak Mamat kembali menutup pintu pagar dan menguncinya.
“Monggo, Mas, Neng, pinarak,” kata Pak Mamat mempersilahkan tamu majikannya masuk.
(Silahkan, Mas, Neng, silahkan masuk)
“Assalamu’alaikum,” ucap mereka serempak.
Terdengar balasan salam mereka dari dalam rumah. Seorang perempuan yang masih terbilang muda datang menyambut mereka.
“Temannya Vena ya? Yuk masuk dulu,” sapa Mia pada teman anaknya.
“Kakaknya Vena ya?” tanya Putra yang mendapat sikutan dari Naren.
“Anggap saja begitu,” jawab Mia dengan senyuman di bibirnya.
Siapapun yang tak mengenal Mia, pasti akan mengira dia adalah kakaknya Vena. Wajahnya yang masih terlihat sangat muda dan cantik terawat membuat siapa saja tak akan menyangka bahwa dirinya adalah seorang ibu beranak satu yang sudah dewasa.
Setelah teman-teman anaknya itu duduk manis di ruang tamu, Mia masuk untuk memanggil Vena yang berada di dalam kamarnya.
“Ven, teman-temanmu sudah pada datang tuh,” kata Mia mengetuk pintu kamar anaknya.
“Siapa aja, Ma?”
“Ya mana Mama tahu, lihat aja sendiri, ada empat, tiga cowok satu cewek.”
“Ceweknya cuma satu?” tanya Vena memastikan.
“Haduh ini anak ya! Sana turun lihat sendiri, Mereka sudah menunggu tuh.” Mia mendorong anaknya agar segera turun.
“Vena! Kamu gak papa?” tanya Ara begitu ia duduk di samping temannya itu.
“Aku gak papa sih. Cuma mama sama papa aja yang lebay aku gak boleh masuk sekolah dulu. Padahal juga aku gak sakit. Em, makasih ya kalian udah sempetin jenguk ke sini. Padahal jauh banget loh ini rumahku,” ucap Vena merasa tak enak pada mereka.
“Masih jauh rumah aku kali, Ven,” tmpal Putra.
“Kalian gak tersesat kan?” tanya Vena basa-basi. Pasalnya ia tahu Naren hafal betul alamat rumahnya.
“Ada Naren yang tunjukin jalan. Gimana ceritanya kok Naren tahu rumah kamu?” tanya Ara penasaran.
“Em, itu, itu orang tuanya Naren temennya papa jadi pernah main ke sini gitu,” jawab Vena mengarang. Ia melihat perubahan raut wajah Naren saat ia menyebut orang tua. Sedikit banyak ia merasa bersalah telah berbohong pada mereka.
“Oh, pantesan,” kata Putra.
“Tolong jangan bilang Asti ya, Nanti dai pasti marah,” kata Vena.
“Udah marah dia mah, makanya gak ikut ke sini.”
“Kenapa?”
“Ya karena Naren tahu rumah kamu makanya dia marah.”
Vena menghela napas berat. Bagaimana nanti dia akan menjelaskan pada Asti kalau dia tidak memiliki hubungan dengan Naren. Mendandak ia merasa pusing memikirkannya.
“Kamu masih belum enakan ya, Ven?” tanya Al.
“Aku baik-baik aja kok,” jawab Vena dengan tersenyum.
“Tapi kok kamu lemas gitu?”
“Gak papa. Cuma mikir aja gimana nanti bilang ke Asti kalau aku gak ada apa-apa sama Naren.”
“Kalau Naren yang ngomong ke Asti gimana?” usul Ara.
“Bukan urusanku,” kata Naren menolak usulan itu.
“Kamu harus bantu aku, Ren. Bilangin ke Asti ya. Kalau perlu kamu pacarana sama Asti biar dia gak mikir jelek tentang aku,” pinta Vena.
“Gak.”
“Bantuin bicara dong, ya, Naren ganteng, please,” pinta Vena dengan nada merengek pada laki-laki dingin itu.
“Ya.”
“Ya ampun, Naren baik deh, kalau gak irit omong makin ganteng kamu tuh,” ucap Vena tanpa sadar.
“Kamu akrab banget ya sama Naren,” bisik Ara pada Vena.
“Gak juga sih, kenal juga baru kemarin waktu masuk sekolah,” balas Vena.
“Bukannya sebelum di sekolah udah pernah ketemu? Kan dia anakna teman papamu.”
“Em, itu-aku ketemu dia dulu waktu masih SD gitu jadi lupa sama dia kan wajanya udah berubah,” ucap Vena gugup.
“Anak-anak, ayo makan dulu,” ucap Mia menginterupsi mereka.
“Wah, jadi ngerepotin Kakak nih,” jawab Putra dengan gaya tengilnya. Vena tertawa mendengar mamanya dipanggil dengan sebutan kakak.
“Dia mama aku loh, Put,” ucap Vena disela-sela tawanya.
“Eh, yang bener lu! Ma-maaf ya, Tante,” kata Putra malu, ia menggaruk-garuk belakang kepalanya canggung.
“Gak papa, ayo semuanya makan dulu. Pasti kalian pada lapar pulang sekolah langsung ke sini.”
“Em, Tante gak perlu repot-repot, kita udah makan kok,” ucap Al sungkan.
“Gak boleh nolak rejeki. Naren, ayo ajak teman-temanmu makan dulu,” perintah Mia. Ara, Al, dan Putra sontak melihat ke arah Naren. Merasa aneh karena Mia mengenal Naren seperti sudah dekat.
“Apa?” ketus lelaki yang menjadi pusat perhatian.
“Ayo gaes, jangan bikin mamaku kecewa. Makan aja meski cuma sedikit, mama udah seneng kok. Yuk!” Vena menggandeng lengan Ara dan mengajakya menuju ruang makan. Di belakangnya tiga teman lelakinya juga ikut megekori.
Di meja makan telah terhidang banyak sekali makanan untuk mereka. Putra tanpa malu-malu langsung mengambil piring dan mengisinya dengan hampir semua menu yang ada di sana. Al mengingatkannya agar tidak tidak bertingkah memalukan. Tetapi dia tidak menggubris dan melanjutkan kegiatannya.
“Gak papa, Al, mamaku pasti senang kalau makanan ini kalian habiskan,” kata Vena.
Satu persatu mereka mengambil piring dan mengisinya dengan makanan yang mereka inginkan. Ara berkali-kali memuji makanan buatan Mia. Putra pun demikian, bahkan tanpa punya rasa malu ia mengisi lagi piringnya lagi.
“Astaga! Kamu tuh kok nggeragas (rakus) banget sih, Put. Kamu yang makan banyak aku yang malu,” ucap Ara kesal dengan tingkah Putra.
Dalam diamnya Naren menikmati makanannya. Ingatannya berputar-putar mencari momen dimana ibunya memasak makanan untuk dirinya. Tetapi, ia tak menemukan memori itu. Karena memang selalu asisten rumah yang menyiapkan makanan untuknya, bahkan sebalum kedua orang tuanya berpisah.
“Naren kenapa? Makanannya gak enak ya?” tanya Vena yang duduk bersebreangan dengan Naren.
“Enak,” jawabnya singkat.
“Kalau gak enak aku gak bakal nambah, Ven. Masakan mama kamu mantap sekali. Kita pacaran aja yuk, Ven, biar kalau aku ngapel bisa numpang makan sama kamu,” celatuk Putra.
Uhuk-uhuk-uhuk!
Tiba-tiba Naren terbatuk karena tersedak makanannya. Al yang duduk di sampingnya memukul-mukul punggung laki-laki itu. Tangan Naren mengambil gelas yang berisi air putih dan meneguknya hingga habis.
“Makanya makan sambil melamun, tersedak kan jadinya,” celoteh Putra.
“Kamu gak papa? Mau nambah lagi airnya?” tanya Vena.
“Enggak.”
Selesai makan, mereka kembali ke ruang tamu. Duduk santai di sana sambil bersenda gurau. Terkecuali Naren, laki-laki itu hanya diam tak berminat ikut dengan yang lainnya. Ia duduk di atas sofa melihat Putra dan Al yang bermain PS.
“Anak-anak malu-maluin banget ya, Ven. Baru juga main ke sini udah kayak di rumah sendiri aja,” kata Ara mengomentari Al dan Putra yang serius bermain PS.
“Gak papa, sering-sering main ke sini boleh kok. Lumayan kan rumah aku jadi rame. Tiap hari sama mama berduaan mulu juga bosen,” jawab Vena.
“Pasti Putra tuh yang senag. Oh iya Ven, aku pamit balik duluan gak papa ya? Udah sore nih,” ucap Ara. Ia mengecek ponselnya melihat jam digital yang terpampang di sana telah menunjukkan pukul lima sore lebih beberapa menit.
“Iya, Ra. Makasih ya udah jengukin aku, padahal aku gak papa, gak sakit juga, hehehe. Ayo aku antar ke mama, kamu pamit dulu sama mamaku.” Vena berdiri dan membimbing Ara masuk ke dalam mencari mamanya.
“Al, Put, Ren, aku balik duluan ya. Kalian masih mau di sini?” tanya Ara pada mereka.
“Ya udah, kita balik juga,” putus Al. Ia berdiri dan membereskan alat mainnya, Mengembalikan pada tempatnya semula.
“Yahh, kalian pulang juga?” tanya Vena kecewa.
“Naren tuh nanti tinggal di sini nemenin kamu,” goda Ara.
“Haduu, maksih deh. Bisa-bisa aku di makan sama Asti entar kalau Naren di sini,” jawab Vena menanggapi gurauan Ara. Sejujurnya dia mau-mau saja ditemani lebih lama oleh Naren.tPi tidak mungkin ia menunjukkan keinginannya itu di hadapan mereka bukan?
“Kalau gitu kalian tunggu sini bentar ya, aku panggilkan mama.” Vena beranjak meninggalkan teman-temannya. Ia masuk ke dalam rumah besarnya dan memanggil Mia. Tak lama kemudian ia keluar bersama dengan Mia.
“Tante, kami pamit, ya,” ucap Ara mewakili teman-temannya.
“Kok buru-buru sih? Besok-besok main ke sini lagi ya,’ jawab Mia.
“Iya, Tante, pasti Ara sering main ke sini.”
“Tante tunggu ya, Ara. Yang lain juga, Tante senang kalau teman-teman Vena datang main di sini. Rumahnya jadi rame.”
“Tenang Tante, nanti kalau Putra jadi pacaran sama Vena, Putra bakalan sering main ke sini,” celatuk Putra dengan pedenya.
“Ih, ogah, aku tuh gak suka sama kamu,” jawab Vena kesal. Mia tertawa melihat tingkah konyol teman-teman anaknya.
Setelah berpamitan pada Mia, mereka semua meninggalkan rumah besar itu. Vena mengantarkan mereka sampai ke halaman rumahnya. Setelah semua motor mereka hilang dari pandangannya, Vena memasuki ruangannya dengan perasaan senang.
“Yang tadi itu Ara. Terus Asti yang kata kamu suka sama Naren itu mana?” tanya Mia saat anaknya masuk ke ruang tamu.
“Dia gak ikut, dia marah karena Naren udah pernah ke sini,” jawab Vena lesu.
Bersambung…..
--------