“Dan aku boleh minta tolong?”
“Apa?”
“Tolong jangan ceritakan pada siapapun tentang kamu yang mengantarku pulang dan mnolongku hari ini pada siapapun. Aku takut Asti akan salah paham, Karena dia sangat menyukaimu.”
“Ya,”
“Vena! Vena! Kamu di mana, Nak?” suara Mia dari luar rumah terdengar sangat panik.
“Mama!” Vena menghambur ke dalam pelukan Mia. Di belakangnya Bayu, papa Vena juga terlihat khawatir dengan keadaan anak gadisnya.
“Ada yang luka, Sayang?” tanya Mia dengan mata yang berkaca-kaca.
“Maafkan Mama, Sayang, Mama tidak bisa menjagamu dengan baik.”
“Vena gak papa, Ma. Tadi ketemu di jalan sama Naren, terus dia yang bantuin aku, Ma, Pa.
Naren tersenyum sopan pada kedua orang tua Vena. Sedari tadi ia memperhatikan bagaimana perlakuan orang tua Vena pada gadis itu. Hatinya terasa sakit saat melihat itu, karena selama ini ia tak pernah mendapatkannya dari kedua orangtuanya. Bahkan ia merasa dibuang di kota ini.
“Terima kasih sudah menyelamatkan anak saya,” ucap Bayu dengan menepuk pundak Naren.
“Iya, Om,” jawab Naren.
“Saya, pamit pulang, Om, Tante,” pamitnya pada orang tua Vena.
“Nanti dulu, sebagai ucapan terima kasih, ayo kita makan bersama dulu, tadi mamanya Vena beli banyak makanan untuk makan malam kita,” ajak Bayu.
“Terima kasih, Om. Saya sudah makam,” tolak Naren.
“Tidak boleh menolak rejeki. Ayo!” Bayu merangkul pundak Naren. Membimbingnya menuju ke ruang makan bersama anak dan istrinya. Memperlakukan Naren layaknya anak sendiri tanpa ada rasa canggung.
Naren benar-benar terenyuh. Ia merasa menemukan sebuah rasa yang baru ia rasakan. Sebuah rasa yang selama ini ia ingin rasakan bagaimana rasanya dianggap, diperlakukan dengan baik, dan merasa disayangi.
Mia menata makanan di atas meja. Sementara Vena berpamitan untuk membersihkan diri dan berganti pakaian. Tepat saat Mia selesai menata makanan, Vena masuk ke ruang makan dengna pakaian rumahannya,
Di mata Naren, Vena terlihat berbeda dari biasanya saat mengenakan seragam sekolah. Kini gadis itu terlihat makin cantik dan imut. Ia merasakan debaran aneh saat tak sengaja bersitatap dengan mata indah Vena.
Demikian pula dengan Vena, tiba-tiba ia merasa malu dan merona saat tak sengaja memergoki Naren yang tengah menatapnya. Mereka berdua sama-sama menundukkan kepala. Bayu diam-diam melihat tingkah kedua remaja di depannya. Ia tak menyangka anak gadisnya telah tumbuh sebesar sekarang.
“Selamat makan,” ucap Mia mengambilkan makanan untuk suaminya, untuk Vena, dan juga untuk Naren. Remaja laki-laki itu merasa sangat terharu dengan perlakuan keluarga Vena. Ia benar-benar merasakan kehangatan keluarga meski ia bukan bagian dari mereka. Ia termenung membayangkan jika ia memiliki keluarga seperti ini.
“Naren, kamu gak suka ya?” tanya Mia saat melihat piring remaja laki-laki itu masih penuh.
“Ah, suka kok, Tante,” jawabnya dengan perasaan sungkan. Ia segera melahap makanannya hingga habis tak bersisa.
******
Sepulang dari rumah Vena, Naren kembali ke dalam rumah besarnya yang ia anggap sebagai penjara. Ia mengingat-ingat perlakuan orang tua Vena padanya. Membuatnya rindu pada kehangatan sebuah keluarga. Kehangatan yang sudah tak pernah lagi ia dapatkan sejak beberapa tahun lalu.
Semenjak kelas lima SD ia telah kehilangan sosok keluarga dalam hidupnya. Ia tak pernah lagi merasakan rasanya diperhatikan seorang ibu dan juga ayah. Hidupnya berubah seratus delapan puluh derajat semenjak perceraian kedua orangtuanya. Bahkan dengan tega mereka meninggalkan dirinya sebatang kara di sini. Sesekali saja ibunya datang mengunjungi, itupun jika ada hal yang diinginkan darinya.
“Kenapa sedari awal aku tertarik dengannya?” guman Naren bermonolog.
“Sejak pertama kali dia menginjak kakiku waktu itu, bayangan wajahnya selalu terlintas di kepalaku. Ditambah lagi dengan tingkah bodohnya saat mencari kelas dan menanyakan di mana harus meletakkan tas, semua itu tiba-tiba melekat di kepalaku.”
Terlarut dalam pikirannya sendiri, lama kelamaan ia terbang ke alam mimpi. Bertemu dengan Vena di sana yang tengah menunggunya dengan senyum indah di bibirnya.
*******
Hari ini deretan bangku yang biasanya ditempati tiga gadis tampak satu bangku belum terisi. Tepat di belakang bangku itu, Naren, Putrra dan Al duduk dan memandangi bangku kosong itu. Lebih tepatnya Naren dan Al. Dua remaja laki-laki itu memandang pada bangku yang sama.
“Si Vena ke mana?” tanya Putra pada kedua teman perempuan itu.
“Ijin sakit,” jawab Ara, Karena Vena memberi tahu Asti dan Ara lewat grup chat yang beranggotakan mereka bertiga. Vena menceritakan kejadian yang ia alami kemarin malam, minus tentang Naren yang datang menolongnya.
Asti yang merasa dirinyalah yang menyebabkan Vena mengalami musibah berkali-kali meminta maaf padanya. Ia berjanji akan menjenguk Vena sepulang sekolah nanti bersama Ara.
“Sakit apa?” tanya Al penasaran.
“Kemarin dia kecopetan, dan kayaknya masih syok gitu. Nanti kita berdua mau jenguk ke sana,” kata Asti.
“Terus gimana? Dia gak papa kan?” tanya Al.
“Gak tahu juga. Kemarin dia bilang cuma HP nya aja dirampas waktu dia berdiri di pinggir jalan nunggu angkot, untung ada yang nolongin katanya. Jadi HPnya bisa balik gitu.” Cerita Ara pada teman-temannya yang penasaran.
“Ya udah nanti aku ikut, buat perwakilan pengurus kelas,” kata Al.
“Boleh, Pasti dia seneng tuh kalau banyak yang jenguk,” kata Ara.
“Naren ikut juga yuk? Nanti kamu boncengin aku ya?” ajak Asti penuh harap.
“Gak,” jawab Naren singkat.
“Naren ikut ya-ya. Please.”
“Berisik.” Naren berjalan meninggalkan ruang kelas. Teriakan dari teman-temannya tak dihiraukan.
“Kamu sih, Naren jadi pergi kan, dasar ganjen,” kata Putra dengan nada yang terdengar kesal.
“Sirik aja!” desis Asti. Ia berbalik kembali menghadap ke depan. Mengabaikan Putra yang masih mengomeli dirinya.
*****
Di dalam kamarnya Vena tengah berbaring memainkan ponselnya. Ia merasa bosan hanya berdiam diri di dalam kamar. Mia melarangnya untuk sekolah hari ini. Ia meminta Vena untuk istirahat saja hari ini, dan usulan itu disetujui oleh Bayu. Alhasil ia hanya rebahan saja di dalam kamar tanpa melakukan apa-apa.
Ting!
Suara pesan masuk dari ponselnya. Buru-buru ia membuka apliasi chat itu dan menampilkan nama yang sejak semalam menari-nari di dalam kepalanya. Naren mengiriminya pesan menanyakan apakah dirinya perlu ikut untuk menjenguknya nanti.
“Ya ampun! Ini anak kenapa ya? Lama-lama bisa baper aku kalau dia kayak gini. Kalau ketemu aja dingin kayak kulkas dua pintu. Tapi nge-chat aku begini lancer bener,” guman Vena.
Vena mengetikkan balasan untuk Naren, Mengatakan terserah dia saja mau ikut atau tidak. Rasanya aneh bertukar pesan dengan Naren seperti ini, ada rasa berdebar saat menunggu balasan dari teman sekelasnya itu.
Vena bangun dari kegiatan rebahannya. Ia mencari Mia untuk mengatakan kalau teman-temannya nanti akan ke sini. Dicarinya Mia di taman belakang tembat biasanya sang mama menghabiskan waktu bersantainya.
“Ma, nanti temen-temen aku mau ke sini katanta. Gara-gara Mama nih, mereka jadi ke rumah kan,” ucap Vena duduk di samping Mia.
“Ya itu berarti teman-temanmu setia kawan, Sayang, Mereka perhatian sama kamu. Harusnya kamu bersyukur punya teman-teman yang seperti itu, Dijaga baik-baik teman yang care sepeti itu. Kayak Naren juga itu. Dia baik banget loh sama kamu.”
“Kenapa bawa-bawa Naren sih Mama nih.” Ada semburat merah di pipi Vena saat Mia menyebut mana teman sekelasnya itu.
Bersambueng….
--------