Perjalanan turun dari pegunungan memakan tiga hari. Tiga hari Arga menghitung jejak yang ditinggalkan konvoi musuh, menghitung waktu, menghitung jarak. Setiap malam ia menggambar ulang lembah itu di tanah dengan ranting, sementara Wira mengoreksi sudut moncong mortir dari ingatan, dan Jaka menyalakan api kecil yang nyaris tak terlihat di balik bebatuan.
Ketika mereka akhirnya melewati garis perbatasan lama dan tiba di pos terdepan negaranya, seorang perwira muda menyambut mereka dengan wajah lelah. Mereka langsung dibawa ke ruang radio—antena baru yang dipasang sejak pos-pos diperkuat ulang.
"Sambungkan aku ke markas pusat," kata Arga. "Sekarang."
Butuh waktu sebelum suara berderak dari pengeras. Arga melaporkan semuanya: lembah, tenda, truk, peti amunisi, arah moncong, konvoi yang sudah bergerak. Ia menyebut perkiraan Wira—dua batalion, mungkin lebih.
Hening di ujung sana. Lalu suara seorang perwira tinggi, datar dan curiga.
"Prajurit, kau menyatakan melihat kekuatan sebesar itu dengan dua belas orang?"
"Saya menyatakan apa yang saya lihat dengan mata sendiri, Komandan. Bersama Kopral Wira, delapan tahun di perbatasan. Kalau Komandan tak percaya, kirim pesawat pengintai ke koordinat yang saya berikan. Tapi cepat. Konvoi pertama sudah bergerak tiga hari lalu."
Lagi-lagi hening. Arga mengenal hening itu. Hening yang sama saat ia diinterogasi dulu, saat kesaksiannya soal "latihan tiga tahun lalu" diremehkan. Hening dari orang-orang yang tak ingin mendengar.
Tapi kali ini berbeda. Kali ini suara di ujung sana berganti—lebih tua, lebih berat. Seorang jenderal.
"Prajurit Satu Arga." Sebuah jeda. "Aku membaca laporanmu yang dulu. Yang menahan satu kompi di Talun Sengit. Empat orang, hampir satu hari." Napas berat terdengar. "Pengintai udara kami kehilangan kontak dengan tiga pos perbatasan timur dalam dua hari terakhir. Aku mulai paham sekarang apa yang menelannya."
Arga menggenggam mikrofon lebih erat.
"Dengar baik-baik," lanjut sang jenderal. "Kalau yang kau lihat benar, mereka tak menyerang satu titik. Mereka akan menyerang seluruh garis sekaligus, untuk menggulung kita sebelum kita sempat memusatkan kekuatan. Kita tak bisa menahan di mana-mana. Kita harus memilih di mana kita bertahan."
"Di mana?" tanya Arga.
"Itu yang sedang kami putuskan." Suara itu mengeras. "Kembali ke satuanmu. Tunggu perintah. Dan Arga—" jeda panjang. "Terima kasih sudah membawa ini. Banyak yang akan mati karena kabar ini datang terlambat. Tapi lebih banyak lagi yang akan mati kalau kabar ini tak datang sama sekali."
Sambungan terputus.
Arga berdiri di ruang radio yang sempit, dada naik turun. Wira bersandar di kusen pintu, mengamatinya.
"Mereka percaya kali ini," kata Wira.
"Terlambat tiga hari, tapi percaya." Arga menggosok wajahnya. "Apa yang akan terjadi, Wira? Sejujurnya."
Kopral tua itu memandang keluar jendela, ke arah selatan, ke arah pegunungan biru yang sebentar lagi akan memuntahkan badai. Ia teringat genderang perang yang ia dengar dulu, di perang pertamanya, delapan tahun lebih silam. Bunyi yang tak pernah benar-benar hilang dari kepalanya.
"Yang akan terjadi," kata Wira pelan, "adalah perang yang sebenar-benarnya. Yang kemarin cuma percikan. Ini banjirnya." Ia menoleh pada Arga. "Dan kita ada di tepi sungai ketika bendungannya jebol."
Malam itu, di pos terdepan, Arga tak bisa tidur. Ia keluar memandang langit. Di kejauhan utara, di balik gunung, ia membayangkan ribuan kaki mulai bergerak, ribuan moncong mulai diarahkan, genderang besar mulai ditabuh.
Jaka duduk di sampingnya tanpa bicara. Lalu pemuda itu berkata lirih, "Kalau mereka datang... ke mana kita akan bertahan, Kak?"
Arga menatap selatan, ke arah rumah, ke arah lembah tempat tiga rekannya terkubur di puncak bukit.
Ia belum tahu jawabannya. Tapi di lubuk hatinya, ia sudah merasakannya. Seperti tarikan tali yang menariknya pulang.