Perintah datang dua hari kemudian, dan isinya satu kata yang paling dibenci setiap prajurit: mundur.
"Mundur?" Rendi menggebrak meja di ruang briefing pos terdepan. "Kita susah payah sampai sini, kita lihat sarang mereka, dan sekarang kita disuruh lari?"
"Bukan lari." Arga berdiri di depan peta yang dibentangkan di dinding. Garis-garis merah yang ditarik tangannya menandai pergerakan musuh. "Mundur strategis. Ada bedanya."
Ia menunjuk peta. Tiga pos timur sudah jatuh—titik-titik yang ia coret dengan arang. Garis perbatasan yang panjang itu kini berlubang di banyak tempat, dan musuh menuangkan kekuatan lewat lubang-lubang itu.
"Markas memutuskan begini," lanjut Arga. "Kita tak bisa menahan di seluruh garis. Kalau kita mencoba bertahan di mana-mana, kita akan dihancurkan sepotong-sepotong. Jadi kita kosongkan pos-pos kecil yang tak bisa dipertahankan, dan kita kumpulkan semua kekuatan di satu garis pertahanan utama. Di lembah. Di tempat yang bisa kita kuasai."
Wira menyentuh peta dengan jari kanannya, menelusuri kontur ketinggian. "Lembah yang bagus untuk bertahan harus punya tiga hal," katanya, suaranya tenang seperti seorang guru. "Tempat tinggi untuk mengawasi. Jalur sempit yang memaksa musuh masuk satu arah. Dan tembok—entah batu, entah beton—yang melindungi punggung kita."
Rendi mengerutkan kening. "Tempat seperti apa yang punya semua itu?"
Arga dan Wira saling pandang. Tak perlu kata-kata di antara mereka.
"Aku tahu satu tempat," kata Arga akhirnya. "Bukit yang menjorok di atas lembah. Jalur sempit dari utara yang memaksa musuh naik satu jalan. Pos beton tua. Desa dengan balai bertembok tebal di bawahnya. Jurang di sisi timur yang tak bisa dilewati pasukan besar."
Rendi menatap peta, lalu menatap Arga, mulai mengerti. "Itu... itu pos kita. Talun Sengit."
"Itu pos kita." Arga menelan ludah. "Dan kalau markas setuju, itu akan jadi tempat kita bertahan."
Ruangan jadi sunyi. Mereka semua tahu cerita Talun Sengit. Empat orang menahan satu kompi semalaman. Tiga pusara di bukit. Sebuah nama yang sudah jadi legenda di antara prajurit perbatasan.
Jaka, yang sejak tadi diam di sudut, berbicara dengan suara bergetar. "Kalau kita bertahan di Talun Sengit... berarti desaku jadi medan perang. Lagi."
Arga menghampirinya, meletakkan tangan di bahu pemuda itu. "Aku tahu, Jaka. Aku tahu apa artinya itu. Tapi dengar—justru karena aku tahu betul tempat itu, justru karena kita pernah bertahan di sana dengan tombak bambu dan dua senapan rampasan—kita punya peluang. Lembah itu mengenal kita seperti kita mengenalnya."
Malam itu mereka mulai mundur. Bukan dengan panik, tapi dengan urutan yang Wira atur dengan cermat: regu belakang menahan, regu depan bergerak, lalu bertukar. Mereka membawa semua yang bisa dibawa—amunisi, makanan, senjata dari pos yang dikosongkan. Apa yang tak bisa dibawa, mereka hancurkan agar tak jatuh ke tangan musuh.
Di belakang mereka, langit utara berkedip oleh kilatan—bukan petir, tapi tembakan jauh. Musuh sudah dekat. Selalu lebih dekat.
Pada subuh kedua perjalanan mundur, Arga berdiri di sebuah punggung bukit dan menoleh ke utara untuk terakhir kalinya. Ia teringat pesan Wira dulu, malam ia turun ke lembah membawa surat Dirga: jangan menengok ke belakang.
Kali ini ia menengok. Sengaja. Ia ingin mengingat wajah musuh yang datang, jumlahnya, arahnya.
Lalu ia berbalik ke selatan, ke arah rumah, dan berkata pada pasukannya yang lelah dan berlumpur:
"Ayo pulang. Kita punya benteng yang harus dibangun."