Mereka punya sembilan hari. Itu perkiraan Wira—sembilan hari sebelum gelombang utama musuh menembus pegunungan dan menumpahkan diri ke lembah. Sembilan hari untuk mengubah desa petani dan pos tua menjadi benteng.
Arga membaginya seperti seorang tukang membagi pekerjaan.
"Pos di puncak bukit adalah mata kita," katanya pada para perwira regu yang berdatangan dari pos-pos timur—wajah-wajah lelah, sebagian terluka, semuanya membawa cerita pos yang mereka tinggalkan. "Dari sana kita melihat semua yang masuk lewat jalur utara. Tapi pos tak boleh jadi tempat kita bertahan mati-matian—kita sudah belajar dari dulu apa jadinya kalau lima orang terjebak di sana melawan satu kompi."
Ia menunjuk peta lembah yang ia gambar besar-besar di dinding balai.
"Garis pertahanan kita berlapis. Lapisan pertama di jalur sempit utara—kita pasang rintangan, kawat, lubang, supaya mereka harus masuk pelan-pelan dan satu arah. Lapisan kedua di lereng, parit-parit dan posisi tembak. Lapisan ketiga di desa sendiri—setiap rumah jadi benteng kecil, balai jadi jantungnya. Dan kalau semua gagal..." ia menunjuk sisi timur peta, "...jurang timur dan kebun bambu tetap jadi jalur evakuasi. Seperti dulu."
Pekerjaan dimulai sebelum fajar berikutnya.
Arga belajar dari masa lalu. Dulu mereka bertahan dengan tombak bambu dan dua senapan rampasan, di balai yang tak disiapkan untuk perang. Kali ini ia akan menyiapkan segalanya.
Pemuda desa dan prajurit menggali parit di lereng, garis demi garis, dengan posisi tembak yang saling melindungi. Wira berjalan di antara mereka—pelan, karena tangan kirinya tak banyak membantu menggali—tapi matanya yang menentukan di mana setiap parit harus berbelok, ke mana setiap moncong harus mengarah.
"Jangan gali lurus," katanya pada Rendi yang mengeluh. "Parit lurus itu kuburan. Satu peluru mortir yang masuk akan membunuh sepuluh orang sekaligus. Gali berbelok, zig-zag. Supaya ledakan terkurung di satu sudut."
Rendi mengusap keringat. "Dari mana kau tahu semua ini, Pak Tua?"
Wira tersenyum tipis, menatap tangan kirinya yang cacat. "Dari pernah salah, Nak. Dari pernah melihat parit lurus penuh dengan kawan-kawanku."
Di desa, rumah-rumah diperkuat. Karung pasir ditumpuk di jendela. Tembok bata ditebalkan dengan batu sungai. Mereka membuat lubang-lubang tembak di dinding balai—balai yang tembok tuanya masih menyimpan bopeng peluru lama. Arga meletakkan tangannya di salah satu bopeng itu, dan teringat malam dulu—Sari melarikan perempuan dan anak-anak lewat kebun bambu, Pak Karto menolak pergi, suara besar dari selatan yang ternyata truk bantuan.
Bayu, Tomas, Dirga. Nama-nama itu bergema di benaknya saat ia bekerja. Ia menggunakan ketenangan Bayu saat membidik, perhitungan Dirga saat mengatur posisi, bahkan kelakar Tomas saat menyemangati pemuda yang kelelahan. Mereka mati, tapi mereka mengajarinya. Setiap parit yang ia gali adalah pelajaran dari mereka.
Truk-truk dari markas akhirnya datang, membawa amunisi sungguhan—bukan dua magasin per orang seperti dulu, tapi peti demi peti. Senapan mesin. Mortir. Bahan peledak. Arga berdiri menatap tumpukan itu, dan untuk pertama kalinya dalam waktu lama, ia merasakan sesuatu yang nyaris seperti harapan.
"Kau ingat dulu," kata Wira di sampingnya, mengikuti pandangan Arga ke tumpukan amunisi, "saat kita menghitung peluru satu per satu, takut habis sebelum fajar?"
"Aku ingat," kata Arga.
"Sekarang lihat." Wira menepuk peti amunisi dengan tangan kanannya. "Kali ini, kalau lembah ini jatuh, bukan karena kita kehabisan peluru. Kali ini kita punya kesempatan."
Arga memandang lembah dari atas, ke parit-parit yang menjalar seperti urat di lereng, ke desa yang berubah jadi benteng, ke bendera pudar yang berkibar di puncak. Benteng dari puing. Dari reruntuhan masa lalu, mereka membangun sesuatu yang bisa bertahan.
Sembilan hari. Sekarang tinggal lima.