Pada hari ketujuh, Arga mengumpulkan seluruh penduduk desa di balai. Ia berdiri di hadapan mereka—wajah-wajah yang ia kenal satu per satu sekarang. Ibu-ibu, kakek-kakek, anak-anak yang bersembunyi di balik kaki orang tuanya.
"Truk evakuasi akan datang besok pagi," kata Arga. "Markas mengirimnya untuk membawa semua warga ke kecamatan, ke tempat yang aman, jauh dari lembah ini. Aku ingin kalian semua naik truk itu."
Hening. Lalu gumam mulai menjalar.
"Ini bukan permintaan," tegas Arga. "Ini perang. Bukan seperti dulu, saat regu kecil menyerang. Kali ini ribuan tentara akan datang ke lembah ini dengan mortir dan senapan mesin. Lembah ini akan jadi neraka. Kalian harus pergi."
Pak Karto bangkit dari kursinya, perlahan, bertumpu pada tongkat. Seisi balai menoleh padanya.
"Nak Arga," kata kepala desa tua itu. "Kau benar. Ini akan jadi neraka. Maka biarkan yang bisa selamat, selamat—anak-anak, perempuan muda, yang sakit dan yang renta. Mereka harus naik truk itu. Tak ada gunanya mereka tinggal."
Arga mengangguk, lega. "Terima kasih, Pak."
"Tapi," lanjut Pak Karto, dan suaranya mengeras, "jangan kau pikir kau bisa menyuruh kami semua pergi. Ada di antara kami yang akan tinggal."
"Pak—"
"Dengar dulu." Pak Karto mengangkat tangannya. "Delapan tahun lalu pos itu jatuh, dan kami lari ke hutan lewat kebun bambu. Kami selamat karena anak-anak muda berseragam mati menahan musuh di bukit. Tiga di antaranya kini terbaring di puncak sana." Ia menunjuk ke arah pos dengan tongkatnya. "Mereka bukan anak desa ini. Mereka datang dari jauh. Tapi mereka mati untuk lembah kami. Untuk rumah-rumah kami. Untuk cucu-cucu kami."
Suaranya bergetar, tapi tak patah.
"Sekarang kau minta kami semua lari lagi dan membiarkan anak-anak muda mati lagi untuk kami? Tidak. Tidak lagi. Lembah ini rumah kami. Kalau ia akan jatuh, kami akan jatuh bersamanya. Kalau ia akan bertahan, kami akan ikut menahannya."
Jaka berdiri. "Aku tinggal. Ini desaku."
Lalu pemuda lain berdiri. Dan lain. Para peternak, para petani—tangan-tangan yang biasa memegang cangkul kini menggenggam tekad. Tak banyak yang punya pengalaman perang. Tapi Arga telah melatih sebagian dari mereka jadi milisi sejak bulan-bulan lalu. Mereka tahu cara memegang senapan. Mereka tahu cara bersembunyi di parit. Dan yang lebih penting, mereka tahu setiap jengkal lembah ini—setiap jalan setapak, setiap sumur, setiap atap.
Arga menatap mereka semua, dan kerongkongannya tercekat. Ia ingin menolak. Ia ingin mereka semua aman. Tapi ia tahu—dari pengalamannya sendiri—bahwa ada hal-hal yang tak bisa dilarang. Pak Karto dulu menolak pergi dari balai. Itu pilihannya. Ini juga pilihan mereka.
Ia mencari Sari di antara kerumunan. Gadis itu menatapnya, dan Arga sudah tahu apa yang akan ia katakan.
"Aku tinggal," kata Sari, sebelum Arga sempat membuka mulut. "Aku tahu jalur kebun bambu lebih baik dari siapa pun. Kalau evakuasi diperlukan lagi nanti, di tengah pertempuran, kau butuh seseorang yang bisa memimpinnya. Itu aku."
Arga ingin membantah. Tapi ia tahu Sari benar. Dan ia tahu, lebih dari itu, bahwa ia tak akan bisa membuat gadis itu pergi.
"Baiklah," kata Arga akhirnya, suaranya nyaris berbisik. "Tapi kalian semua dengar aku. Yang tinggal, tinggal sebagai bagian dari pertahanan. Kalian ikut perintah. Kalian tidak mati sia-sia. Setiap nyawa di lembah ini berharga, dan aku tak akan membuang satu pun."
Keesokan paginya truk evakuasi datang. Anak-anak diangkat, yang renta dipapah, yang sakit ditandu. Tangis pecah di gerbang desa—perpisahan yang mungkin selamanya. Seorang ibu menyerahkan bayinya pada bibinya yang ikut truk, lalu mundur untuk tinggal bersama suaminya yang akan bertahan.
Truk berangkat, debunya mengepul ke selatan, ke arah kecamatan, ke arah yang aman.
Yang tinggal berdiri di gerbang, menatap kepergian itu. Lalu mereka berbalik, menghadap utara, ke arah pegunungan biru, dan mulai bersiap.