Mereka datang di subuh hari kesembilan, persis seperti yang Wira ramalkan.
Pengintai di pos puncak melihatnya pertama kali—garis hitam yang menebal di mulut jalur utara, bergerak turun seperti tumpahan tinta. Lonceng tua di menara pos berdentang, isyarat yang sudah disepakati. Seluruh lembah terbangun dalam sekejap.
Arga sudah berada di parit lapis kedua, di lereng yang menghadap jalur utara, ketika cahaya pertama menyentuh pegunungan. Wira di sampingnya, bersandar pada senapan runduk panjang dengan bipod—senjata yang dipilihkan untuknya, karena tangan kirinya tak sanggup menahan recoil senapan biasa, tapi matanya masih bisa membaca jarak sebaik dulu.
"Ingat," kata Wira pelan pada para prajurit dan milisi di sepanjang parit. "Jangan tembak sampai aba-aba. Biarkan mereka masuk ke jalur sempit. Biarkan mereka berdesakan. Kesabaran kita adalah senjata kita."
Lalu mortir musuh mulai bicara.
Suara itu—Arga mengenalnya sampai ke tulang. Siulan tinggi melengking, lalu hening sepersekian detik yang lebih menakutkan daripada suaranya, lalu BUM. Tanah berguncang. Tanah dan batu memuncrat ke udara. Asap mengepul di lereng.
Tapi kali ini berbeda dari dulu. Kali ini parit-parit mereka berbelok zig-zag seperti yang Wira ajarkan. Ledakan terkurung di sudut-sudut. Korban jatuh, ya—Arga mendengar jeritan di parit sebelah—tapi tidak sepuluh sekaligus. Tidak sapuan maut yang dulu meratakan menara pengawas.
"Tahan!" teriak Arga di sepanjang garis. "Tahan posisi! Ini baru pembukaan!"
Setelah gelombang mortir, infanteri musuh maju. Mereka tumpah ke jalur sempit utara—ratusan, mungkin ribuan, seragam loreng yang sama dengan yang menghantui mimpi Arga selama bertahun-tahun. Mereka maju percaya diri, mengira pertahanan sudah hancur oleh mortir.
Mereka salah.
Arga menunggu sampai gelombang pertama benar-benar terjebak di jalur sempit, terhimpit di antara rintangan kawat dan lubang yang mereka pasang berhari-hari. Sampai mereka berdesakan, tak bisa maju cepat, tak bisa mundur.
"SEKARANG!" teriak Arga.
Seluruh lereng meledak dalam tembakan.
Senapan mesin yang dipasang di posisi tersembunyi menggerus barisan musuh dari sisi. Penembak di parit menjatuhkan mereka satu per satu. Wira, dengan satu mata di teropong dan jari yang tenang di pelatuk, menjatuhkan para perwira musuh yang ia kenali dari cara mereka memberi aba-aba—ujung tombak komando yang dipotong satu per satu.
Jalur sempit yang tadinya jadi kelebihan musuh kini jadi jebakan maut. Mereka terjebak di ruang sempit, dihujani dari dua sisi dan dari atas. Barisan depan tumbang. Barisan belakang mendorong maju, tak tahu apa yang menunggu, dan ikut tumbang.
Arga menembak, mengisi ulang, menembak lagi—tapi sebagian besar pikirannya sibuk membaca medan. Di mana musuh berusaha menerobos. Di mana garisnya mulai tertekan. Ia berlari di sepanjang parit, mengatur, menguatkan, memindahkan orang ke titik yang lemah.
"Sisi kanan menahan!" lapor seorang prajurit.
"Bagus! Rendi, bawa dua orang ke lereng atas, jaga jangan sampai mereka memanjat dari sela batu!"
Pertempuran berkecamuk sepanjang pagi. Asap menggantung di lembah. Bau mesiu dan darah dan tanah terbakar. Tapi garis pertahanan menahan. Gelombang pertama musuh pecah di kaki lereng, mundur dengan kerugian besar, meninggalkan ratusan tubuh di jalur sempit.
Ketika tembakan akhirnya mereda menjelang siang, Arga bersandar di dinding parit, napas tersengal, tangan gemetar. Wira merangkak mendekat, wajahnya berdebu, tapi matanya tajam.
"Kita menahan gelombang pertama," kata Arga.
"Ya." Wira mengusap teropongnya. Lalu ia menatap ke utara, ke jalur sempit yang masih memuntahkan asap, ke pegunungan biru di baliknya. "Tapi itu baru gelombang pertama, Arga. Mereka mengukur kita tadi. Sekarang mereka tahu kita di sini. Mereka tahu kita kuat." Ia menggeleng pelan. "Yang berikutnya tak akan seceroboh ini."