Besoknya datang seperti yang dijanjikan Rastaka — bukan dengan fajar yang indah, tapi dengan mortir yang merobek langit pukul empat pagi.
Arga sudah memindahkan garis pertahanan ke tepi selatan ladang jagung, memanfaatkan parit irigasi tua sebagai benteng. Sisi barat — celah antara kebun bambu dan tanggul sungai — adalah titik terlemah, dan ia menempatkan milisi desa di sana karena tak ada tempat lain. Jaka memimpin mereka: dua belas pemuda dengan senapan rampasan dan tekad yang lebih banyak daripada peluru.
Gelombang pertama dipatahkan di parit. Gelombang kedua menumpuk mayat di kawat berduri. Tapi gelombang ketiga, saat matahari naik dan kabut hilang, menemukan celah barat dan mendorong ke sana dengan seluruh berat.
"Mereka membobol bambu!" teriak suara di radio. "Sisi barat! Mereka masuk lewat kebun bambu!"
Arga merasakan darahnya membeku. Kebun bambu — jalur evakuasi suci yang dulu menyelamatkan perempuan dan anak-anak. Kalau musuh menguasainya, mereka masuk langsung ke punggung pertahanan, dan desa terbuka.
Ia berlari ke barat sambil membungkuk, peluru mendesing di atas kepalanya. Saat ia tiba, ia melihat kekacauan: loreng-loreng menyeruak dari rerumpun bambu, milisi desa terdesak mundur, dua tubuh muda sudah tergeletak di lumpur. Jaka berdiri di tengah, menembak, berteriak memerintahkan yang lain menahan garis.
"Jaka, mundur ke parit kedua!" teriak Arga. "Garis ini patah! Mundur!"
Tapi di belakang garis itu, di balik tanggul rendah, sekelompok warga tua dan beberapa anak yang belum sempat dievakuasi masih terjebak — mereka tertinggal saat serangan datang terlalu cepat. Pak Karto ada di antara mereka, menolak pergi sampai akhir, menggiring yang lain ke arah hutan.
Jaka melihat mereka. Lalu ia melihat celah yang menganga di garis, lubang tempat loreng-loreng akan menyerbu masuk, langsung ke arah orang-orang tua dan anak-anak itu.
"Bawa mereka ke hutan!" Jaka berteriak pada dua milisi tersisa, menunjuk warga. "Aku tahan celahnya! Pergi!"
"Jaka—" Arga merangkak menujunya, tapi jarak itu adalah ladang terbuka penuh peluru.
Jaka tidak menengok. Ia memungut senapan kedua dari tanah, satu di tiap tangan seperti orang gila, dan ia melangkah maju ke celah itu — bukan mundur. Ia berdiri di mulut kebun bambu, di tempat sempit di mana hanya beberapa orang bisa lewat sekaligus, dan ia menembak. Satu loreng jatuh, lalu satu lagi. Tubuh-tubuh musuh menumpuk di lorong sempit itu, menyumbatnya dengan diri mereka sendiri. Jaka berteriak — bukan kata-kata, hanya suara mentah seorang pemuda yang memutuskan bahwa garis ini tidak akan patah selama ia berdiri di atasnya.
Di belakangnya, dua milisi menyeret Pak Karto dan menggiring anak-anak ke mulut hutan. Mereka selamat. Mereka hilang di antara pepohonan.
Tapi celah sempit hanya menahan beberapa orang. Yang lain memutar. Arga melihatnya terjadi seperti dalam air — loreng dari sisi mengayun, moncong terangkat.
"JAKA!" Arga menembak, satu, dua, menjatuhkan dua musuh, tapi tidak yang ketiga.
Jaka tersentak. Sekali. Dua kali. Senapan di tangan kanannya jatuh. Ia masih berdiri sejenak, kaki mengangkang di mulut bambu, menahan celah dengan tubuhnya yang sudah tak lagi menembak. Lalu lututnya menekuk, dan ia jatuh ke samping, ke atas lumpur dan bambu patah, di tempat yang ia jaga.
Arga sampai padanya saat garis lain bergerak menutup celah — Hendra dan Rendi tiba dari parit, menembak, mendorong musuh kembali ke bambu, menyumbat lubang yang sudah Jaka tahan cukup lama. Cukup lama untuk menyelamatkan warga. Cukup lama untuk segalanya.
Arga berlutut, mengangkat kepala Jaka ke pangkuannya. Mata pemuda itu masih terbuka, menatap langit kelabu, napasnya pendek-pendek.
"Mereka... selamat?" bisik Jaka.
"Selamat," kata Arga, suaranya pecah. "Pak Karto, anak-anak, semua sampai hutan. Kau menahannya, Jaka. Kau menahan celahnya."
Sudut bibir Jaka terangkat, samar. Ia pemuda desa yang dulu memegang parang dengan tangan gemetar di balai. Sekarang ia menahan satu garis pertahanan dengan tubuhnya sendiri.
"Kalau begitu," bisiknya, hampir tak terdengar, "aku... berdiri sampai akhir. Seperti yang kau ajarkan."
Lalu kelopaknya menutup, kepalanya terkulai ke samping, dan tubuhnya melemas di pangkuan Arga. Untuk satu detik beku, Arga mengira ia telah pergi.
"Jaka. Jaka!" Arga menekan dua jari ke leher pemuda itu. Lemah, nyaris tak terasa di bawah denyut tangannya sendiri yang berdebar — tapi ada. Napas dangkal masih menggerakkan dadanya. Darah mengalir deras dari betisnya yang robek oleh serpihan, dan dari bahu, tapi jantungnya masih memukul. Ia pingsan, bukan mati. Belum.
"Hendra!" teriak Arga, suaranya pecah menembus deru tembakan. "Tarik dia mundur! Hidup! Bawa dia ke balai, tekan lukanya, jangan lepas — dia masih hidup!"
Di sekelilingnya, pertempuran masih meraung, celah barat kini tertutup oleh tubuh-tubuh yang berjatuhan dan oleh orang-orang yang menolak menyerahkannya. Hendra dan Rendi menyambar Jaka di bawah ketiak, menyeretnya ke balik parit, meninggalkan jejak merah di lumpur. Arga berlutut sejenak di tempat pemuda itu jatuh, memegang erat tangannya yang dingin, memegang seorang pemuda yang ia latih, yang ia bawa ke perang ini, dan yang menolak untuk tidak pulang.
"Berdiri sampai akhir," ulangnya, suaranya tercekat. "Ya, Jaka. Tapi kau bertahan. Kau dengar aku — kau bertahan."
Lalu ia bangkit, mengambil senapan, dan kembali ke garis. Karena ada celah lain yang harus ditahan, dan kalau Jaka harus hidup, garis itu tak boleh patah.