Malam itu, di reruntuhan pos yang menjadi markas darurat, kurir dari kecamatan tiba dengan kuda yang hampir mati kelelahan. Ia jatuh dari pelana lebih daripada turun, dan surat di tangannya basah oleh keringat dan hujan.
Arga membacanya di bawah cahaya lentera minyak, wajahnya makin keras di tiap baris. Wira mengawasi dari kursi, tangan kirinya yang cacat disandarkan, membaca kabar dari wajah Arga sebelum kata-katanya keluar.
"Bantuan tertahan," kata Arga akhirnya, meletakkan surat. "Resimen yang dijanjikan markas — mereka diserang di jalur tengah. Seluruh garis perbatasan terbakar serempak. Mereka tidak bisa melepas satu batalion pun untuk kita. Tidak dalam waktu dekat."
Hening jatuh di ruangan. Hendra, yang berdiri di pintu, menundukkan kepala. Rendi mengumpat pelan.
"Berapa lama?" tanya Wira.
"Empat hari. Mungkin lima. Mungkin lebih, kalau jalur tengah jatuh." Arga mengusap wajahnya. "Mereka minta kita bertahan. Itu saja isi suratnya. 'Tahan Talun Sengit dengan segala cara. Lembah itu kunci sisi timur garis pertahanan.' Tanda tangan, lalu cap. Itu yang mereka kirim. Kata-kata."
Rendi meledak. "Kata-kata? Kita sudah kehilangan Jaka. Kita kehilangan separuh milisi. Amunisi tinggal—" Ia berhenti, menelan kemarahannya. "Mereka menyuruh kita mati di sini sambil mereka mengatur garis di atas peta."
Arga tidak menjawab langsung. Ia berjalan ke jendela yang pecah, menatap lembah yang gelap, ke api unggun musuh yang berkelap-kelip di seberang seperti bintang yang jatuh. Banyak sekali. Lebih banyak daripada yang bisa ia hitung.
Ia tahu perasaan ini. Ia mengenalnya seperti mengenal bau hujan. Ini perasaan yang sama dengan malam pertama, saat ia masih prajurit muda yang turun ke jurang timur, saat radio cadangan hanya menjangkau desa dan markas tak menjawab. Perasaan ketika tak ada yang akan datang.
"Dulu," kata Arga pelan, masih menatap jendela, "Dirga mengirimku turun ke lembah. Dia tahu mungkin tidak ada yang datang. Tapi dia tetap menyuruhku pergi, karena pergi berarti membawa sedikit kemungkinan. Dan bantuan datang. Entah bagaimana. Datang tepat saat kami kira semua sudah selesai."
Ia berbalik menghadap mereka. Lentera membuat bayangan-bayangan dalam di wajahnya.
"Kita tidak bertahan karena yakin bantuan datang. Itu bukan alasannya. Tidak pernah jadi alasannya." Suaranya tenang sekarang, mantap. "Dirga, Bayu, Tomas — mereka tidak menahan satu kompi semalaman karena mereka yakin akan diselamatkan. Mereka menahan karena di belakang mereka ada desa. Karena kalau pos jatuh, jalan ke rumah Pak Karto terbuka. Mereka berdiri di antara musuh dan orang-orang yang tidur nyenyak karena percaya ada seragam di bukit ini."
Wira mengangguk pelan, mata tuanya berkilat. "Yang masih berdiri saat semua selesai," gumamnya, "sering bukan yang paling hebat."
"Cuma yang kebetulan terus berdiri," Arga menyelesaikannya. Ia sudah mendengar kalimat itu ratusan kali. Tapi malam ini, ia akhirnya benar-benar memahaminya. Bukan tentang nasib. Tentang pilihan untuk tidak duduk. Tentang menolak jatuh selama masih ada alasan untuk berdiri.
Ia mendekati meja, menggelar peta lembah, dan menusukkan jarinya ke titik-titik. "Empat hari. Kita punya empat hari untuk dipertahankan. Kita tidak bisa menahan seluruh lembah lagi — kita terlalu sedikit. Jadi kita menyusut. Kita tarik garis ke desa dan pos, kita jadikan tiap rumah benteng, kita buat tiap jengkal mahal bagi mereka." Ia menatap mereka satu per satu. "Mereka harus membayar darah untuk tiap langkah. Dan kita buat tiap langkah panjang."
Hendra mengangkat kepala. "Dan kalau empat hari jadi enam? Tujuh?"
Arga menatapnya lurus. "Maka kita bertahan tujuh. Atau kita mati membuat mereka tahu bahwa lembah yang dilupakan ini tidak diberikan cuma-cuma." Ia menggulung peta. "Kabari Pak Karto. Yang ingin pergi, antar ke hutan malam ini. Yang memilih tinggal — dan aku tahu sebagian akan memilih tinggal — beri mereka senjata dan tempat. Besok kita susut. Lusa mereka datang."
Saat mereka keluar satu per satu, Wira tetap di kursinya. Ia menatap Arga lama, lalu berkata pelan, "Kau bukan lagi prajurit muda yang turun ke jurang itu."
"Tidak," kata Arga. "Prajurit itu masih mengira ada yang akan datang menyelamatkannya." Ia memandang ke arah lembah gelap. "Sekarang aku tahu — kadang tidak ada. Dan kita tetap berdiri."
Di luar, hujan kembali turun, dan di seberang lembah, api-api unggun musuh bertambah banyak.