Serangan besar dimulai saat matahari terbenam dan tidak berhenti.
Arga sudah berperang berhari-hari, tapi tak ada yang seperti malam ini. Rastaka melemparkan segalanya — mortir tak henti yang menggetarkan tanah, gelombang infanteri yang datang setiap kali yang sebelumnya dipatahkan, lampu sorot rampasan yang menyapu kegelapan mencari celah. Lembah berubah jadi neraka yang berdenyut: kilat ledakan, jeritan, gemeretak senapan, dan di sela-sela itu, keheningan singkat yang lebih menakutkan daripada suara.
Garis pertahanan sudah menyusut ke jantung desa. Balai desa — bata, tembok tebal, dua pintu, benteng yang dulu menyelamatkan penduduk — kembali jadi pusat. Rumah-rumah di sekelilingnya jadi sarang penembak. Lumbung padi, dengan ketinggiannya, jadi sarang Wira dan senapan runduknya, dari mana ia menjatuhkan musuh satu per satu di kegelapan, tangan kanannya mengompensasi kiri yang cacat.
Arga berlari dari titik ke titik sepanjang malam, menambal lubang, mengangkat yang jatuh, membagi peluru yang kian sedikit. Wajahnya hitam oleh jelaga dan lumpur. Ia tak lagi merasa lelah — kelelahan sudah melewati ambang menjadi sesuatu yang lebih dalam, semacam ketenangan kosong di mana hanya gerakan berikutnya yang ada.
"Sisi timur menahan!" lapor Hendra, merangkak masuk balai dengan bahu berdarah. "Tapi Rendi kena. Dia masih napas, tapi..."
"Bawa ke ruang dalam," kata Arga. "Sari!"
Sari muncul dari ruang dalam balai, tempat ia merawat yang terluka — perempuan muda yang dulu membawakan teh, kini dengan lengan berlumur darah orang lain, mata yang sudah melihat terlalu banyak tapi tak pernah berpaling. Ia menarik Rendi masuk, menekan luka dengan kain, bekerja cepat dan tenang.
"Berapa lama lagi malam?" tanyanya pada Arga di sela kerja, tanpa mendongak.
Arga menatap langit lewat lubang atap. Tak ada bintang. Tak ada bulan. Hanya gelap dan asap. "Terlalu lama," jawabnya jujur.
Mortir menghantam dekat — terlalu dekat — dan seluruh balai bergetar, debu jatuh dari langit-langit. Di luar, terdengar gelombang baru menyerbu, sepatu menggedor tanah, teriakan dalam bahasa tetangga.
Arga keluar ke pintu utara. Di bawah cahaya kebakaran sebuah rumah, ia melihat mereka datang — barisan loreng, lebih banyak dari yang ia kira tersisa, mengalir dari kegelapan ke arah balai. Pembela di sekelilingnya tinggal segelintir. Hendra di kirinya, dua milisi desa di kanan, beberapa warga dengan senapan rampasan di jendela atas.
"Magasin?" tanya Arga pada Hendra.
"Satu. Setelah itu pisau."
Arga mengangguk. Ia merasakan gema yang dingin — ini, persis ini, adalah apa yang Dirga rasakan di pos malam itu. Peluru habis, musuh datang, dan di belakang ada yang harus dilindungi. Bayangan rekan-rekannya yang gugur terasa begitu dekat, seakan mereka berdiri di sampingnya di pintu balai.
"Tahan sampai mereka dekat," kata Arga, suaranya tenang menembus deru. "Jangan buang satu peluru pun ke kegelapan. Kita tunggu sampai kita lihat mata mereka."
Gelombang itu datang. Tiga puluh langkah. Dua puluh.
"Tahan."
Lima belas. Sepuluh. Arga bisa melihat wajah mereka sekarang, terang oleh api, lelah dan takut seperti wajahnya sendiri.
"Sekarang!"
Senapan-senapan menyalak serempak dari pintu dan jendela. Barisan depan musuh terjungkal. Yang di belakang tersandung mayat sendiri, tergagap, tapi terus maju karena di belakang mereka pun ada perintah dan ketakutan. Pertempuran pecah di ambang pintu balai, dekat, brutal, pisau dan popor dan tangan kosong. Hendra menjatuhkan satu, lalu satu lagi. Seorang milisi tua jatuh menahan pintu dengan tubuhnya. Arga menembak sampai magasin terakhir kosong, lalu mencabut pisaunya, pisau yang sama yang dulu ia bawa turun ke jurang timur di malam pertama.
Dan saat ia mengira garis akan pecah — saat musuh hampir menembus pintu — dari atas lumbung padi, senapan runduk Wira menyalak, sekali, dua kali, tiga kali, dengan ketepatan yang dingin. Setiap kali, seorang pemimpin gelombang musuh jatuh, dan tanpa pemimpin, dorongan itu kehilangan jantungnya. Gelombang itu pecah, surut, mundur ke kegelapan, meninggalkan ladang tubuh di depan balai.
Hening yang gemetar jatuh. Arga bersandar ke kusen pintu, dada naik-turun, pisau berdarah di tangan. Di sekelilingnya, pembela yang tersisa terengah, hidup, untuk satu jam lagi.
Ia menengadah ke langit. Masih gelap. Masih jauh dari fajar.
"Hitung yang masih bisa berdiri," katanya serak pada Hendra. "Bagi sisa peluru. Mereka akan datang lagi sebelum subuh."
Dan di kejauhan, di seberang lembah, terdengar mortir kembali diisi.