Kecamatan tampak utuh dan asing setelah berbulan-bulan di garis depan. Ada toko yang buka, anak-anak yang berlarian, asap dapur yang tak berasal dari ledakan. Arga berjalan di antaranya dengan perasaan ganjil, seperti orang yang baru keluar dari air dan belum ingat cara bernapas di darat.
Ia dipanggil ke gedung pemerintahan kecamatan, yang sekarang dijadikan pos komando sementara untuk seluruh sektor utara. Di ruang rapat yang penuh peta dan perwira berpangkat lebih tinggi dari yang pernah ia lihat seumur hidup, ada satu kursi kosong yang disediakan untuknya.
"Duduk, Prajurit," kata seorang kolonel berkumis abu. "Kau Arga dari Talun Sengit."
"Siap, Pak."
"Kau tahu kenapa kau di sini?"
"Untuk memberi keterangan, Pak."
"Lebih dari itu." Kolonel itu meletakkan sebuah dokumen di meja. "Negeri tetangga utara mengirim utusan damai tiga hari lalu. Mundurnya mereka dari Talun Sengit bukan kebetulan. Garis mereka patah di banyak titik. Mereka kehabisan kemampuan untuk meneruskan perang. Mereka minta gencatan."
Ruangan hening. Arga menatap dokumen itu, lalu menatap kolonel. "Seperti delapan tahun lalu, Pak?"
Kolonel itu diam sejenak, seakan terkejut prajurit muda ini langsung menusuk ke inti. "Ya. Persis seperti delapan tahun lalu. Dan itu masalahnya. Delapan tahun lalu kita tandatangani perjanjian damai. Lalu kita lupakan perbatasan. Kita pangkas pos. Kita kurangi pasukan. Kita anggap garis itu aman, dan kita tidur nyenyak — sementara mereka menyiapkan ini selama bertahun-tahun di balik gunung."
"Latihan rutin tiga tahun lalu," kata Arga.
Beberapa perwira saling pandang. Kolonel itu menyipitkan mata. "Apa yang kau tahu soal itu?"
Arga menceritakannya. Bagaimana Sersan Dirga — ia menyebut nama itu dengan hati-hati, seperti memegang sesuatu yang rapuh — pernah bercerita di pos tentang radio yang menangkap percakapan bahasa tetangga semalaman penuh, tiga tahun lalu. Bagaimana markas saat itu menjawab singkat: latihan rutin. Bagaimana sinyal itu lalu hilang dan dilupakan, seperti pos itu sendiri dilupakan.
Ketika ia selesai, ruangan itu sunyi lebih lama dari sebelumnya.
"Itulah," kata kolonel akhirnya, suaranya berat, "kenapa kau di sini. Bukan cuma sebagai saksi pertempuran. Tapi sebagai saksi bahwa ada yang tahu — jauh sebelum semua ini — dan memilih diam."
Ia berdiri, berjalan ke jendela yang menghadap utara.
"Kali ini gencatan harus berbeda, Prajurit. Bukan sekadar tanda tangan lalu lupa. Aku ingin orang-orang yang menyaksikan langsung apa harganya garis ini hadir saat perjanjian dibuat. Supaya tak ada yang berani melupakannya lagi. Supaya setiap pejabat yang menggoreskan pena di atas kertas itu tahu — di balik tiap kata ada nama. Dirga. Bayu. Tomas. Dan entah berapa puluh lagi sepanjang perbatasan."
Arga menelan ludah. "Saya bukan siapa-siapa untuk hadir di meja seperti itu, Pak."
Kolonel itu menoleh, dan untuk pertama kalinya tatapannya melunak.
"Kau Prajurit Satu yang menahan satu kompi semalaman dengan tiga orang yang gugur di sampingmu, lalu menahan satu batalion tiga malam dengan satu desa di belakangmu. Kalau bukan kau yang pantas duduk di meja itu, tak ada satu pun jenderal di kota ini yang pantas."
Ia kembali ke meja, menandai sesuatu di dokumen.
"Tapi sebelum kita bicara damai," lanjutnya, suaranya mengeras lagi, "ada yang harus dibersihkan dulu di rumah kita sendiri. Karena percuma menjaga garis dari musuh di utara, kalau pintu belakang kita dibuka oleh orang kita sendiri." Ia menatap Arga lurus. "Kau menyebut markas yang diam tiga tahun lalu. Kau benar untuk curiga. Kami sudah menahan seseorang. Dan besok, kau akan diminta mengenali namanya."