Mereka menahan sidang militer itu di aula kecamatan yang sama, hanya berselang sehari. Tak ada kemewahan, tak ada ruang sidang berlapis kayu seperti di kota. Hanya meja panjang, tiga hakim militer berseragam, dan seorang lelaki yang duduk di kursi terdakwa dengan tangan terborgol di pangkuan.
Arga mengenalnya begitu lelaki itu masuk.
Mayor Bramantyo. Perwira penghubung markas untuk seluruh sektor perbatasan utara — orang yang dulu, berbulan-bulan lalu, menginterogasi Arga setelah pos jatuh pertama kali. Orang yang meremehkan kesaksiannya soal "latihan tiga tahun lalu", yang menyuruhnya berhenti berkhayal dan menandatangani laporan resmi yang menyebut serangan itu "tak terduga".
"Tak terduga," gumam Arga pada Wira yang duduk di sampingnya. Kopral itu bersikeras ikut turun ke kecamatan meski tubuhnya belum pulih. "Dia yang menulis kata itu di laporanku. Dia yang mencoret bagian soal radio."
"Sekarang kau tahu kenapa," kata Wira pelan.
Jaksa militer membeberkan buktinya satu per satu. Catatan komunikasi yang seharusnya dimusnahkan tapi tersimpan oleh seorang operator radio yang teliti. Transfer dana ke rekening yang tak bisa dijelaskan. Dan yang paling memberatkan: perintah tertulis, ditandatangani Bramantyo sendiri tiga tahun lalu, yang memerintahkan agar laporan sinyal aneh dari pos-pos perbatasan — termasuk Talun Sengit — "tidak diteruskan ke pusat, demi menjaga stabilitas anggaran".
"Demi anggaran," ulang jaksa, suaranya dingin. "Terdakwa tahu ada sesuatu yang bergerak di balik gunung. Terdakwa tahu negeri tetangga melanggar perjanjian secara diam-diam selama bertahun-tahun. Dan terdakwa memilih menutupinya — bukan karena tak tahu, tapi karena membongkarnya akan mengungkap bahwa ia sendiri telah menjual informasi posisi pos-pos kita kepada pihak seberang dengan imbalan."
Bramantyo tak banyak bicara selama sidang. Tapi saat diberi kesempatan, ia berdiri, dan menatap langsung ke arah Arga di bangku saksi.
"Kau pikir aku penjahatnya," katanya, suaranya tenang dan pahit. "Aku cuma satu sekrup dalam mesin yang sudah lama berkarat. Kalian semua tidur nyenyak selama delapan tahun karena ada orang seperti aku yang memastikan tak ada yang mengganggu tidur kalian dengan kabar buruk. Aku hanya yang tertangkap."
"Tiga orang mati di pos saya, Pak," kata Arga, berdiri sebelum ia sadar telah berdiri. Hakim tak menghentikannya. "Sersan Dirga. Bayu. Tomas. Mereka menahan satu kompi semalaman karena tak ada peringatan. Karena tak ada bala bantuan yang datang tepat waktu. Karena seseorang memutuskan kabar buruk lebih merepotkan daripada nyawa kami. Mereka bukan sekrup, Pak. Mereka punya nama."
Aula itu hening. Bramantyo duduk kembali, dan untuk pertama kalinya wajahnya retak sedikit.
Hakim ketua mengetukkan palu. Vonisnya dibacakan menjelang sore: pengkhianatan, pembocoran rahasia militer, dan kelalaian yang menyebabkan gugurnya prajurit dalam tugas. Hukuman penjara seumur hidup, pencabutan seluruh pangkat dan kehormatan. Dan kali ini Bramantyo tak lagi punya alasan melindungi siapa pun di atasnya: berkas-berkasnya menuntun penyidik naik, satu mata rantai demi satu, sampai ke perwira bintang tiga yang dulu mereka kenal hanya dengan sandi "Burung Elang" — yang pada akhirnya ikut ditangkap dan diseret ke pengadilan yang sama.
Saat Bramantyo digiring keluar, ia berhenti sejenak di samping Arga.
"Kau akan belajar," katanya rendah, "bahwa membongkar busuk di satu tempat tak membersihkan seluruh rumah. Masih banyak yang seperti aku."
"Mungkin," jawab Arga. "Tapi sekarang sudah satu yang lebih sedikit."
Bramantyo pergi. Wira menepuk pundak Arga dengan tangan kanannya.
"Kau dengar yang dia bilang," kata kopral itu. "Masih banyak yang ditutupi. Termasuk apa yang sebenarnya terjadi tiga tahun lalu. Bramantyo cuma membenarkan ada penutupan — dia tak pernah mengaku apa yang ditutupi. Kebenaran utuhnya masih di luar sana, Arga. Dan aku punya firasat, kau yang akan menggalinya."