Arga berdiri di mulut jalan tanah yang dulu ia daki untuk pertama kali, dan untuk sesaat ia tak mengenali tempat itu.
Dua tahun lalu, lembah ini gelap dan sunyi waktu ia menuruni jurang timur dengan dua magasin dan surat Sersan Dirga di sakunya. Sekarang ada suara. Bukan tembakan, bukan jeritan. Suara palu beradu paku. Suara gergaji. Suara perempuan menawar harga garam di pasar kecil yang baru dibuka di tanah lapang dekat balai desa.
"Kau melamun lagi," kata Sari di sampingnya. Ia membawa keranjang berisi singkong basah dari sungai. "Setiap kali kau pulang dari kecamatan, kau berdiri di sini dulu seperti orang asing."
"Aku memang merasa seperti orang asing," Arga menjawab. Ia menunjuk dengan dagu ke arah deretan rumah baru. Dindingnya masih kuning kayu, belum kusam. Atap-atap seng baru memantulkan matahari pagi. "Waktu aku datang, cuma ada tiga puluh rumah. Setengahnya nyaris roboh."
"Sekarang empat puluh dua." Sari tersenyum. "Banyak yang kembali. Ada juga keluarga dari desa seberang gunung. Mereka tak punya tempat pulang lagi."
Mereka berjalan turun. Pak Karto menyambut di gerbang baru—bukan lagi pagar kawat berkarat, melainkan tiang kayu jati dengan papan bertuliskan nama desa. Punggung lelaki tua itu makin bungkuk, tapi matanya masih tajam.
"Prajurit," sapanya, walau Arga sudah lama bukan sekadar prajurit. "Lihat itu."
Arga mengikuti arah tangannya. Di sisi timur balai desa berdiri bangunan panjang beratap baru: sebuah sekolah. Belum ada cat, papan tulisnya masih dari kayu yang dihaluskan, tapi di depannya, di tanah yang dulu menampung mayat dan darah, anak-anak berlarian. Mereka mengejar bola anyaman, berteriak, jatuh, tertawa, bangun lagi. Seorang guru muda dari kecamatan mencoba mengumpulkan mereka, gagal, lalu ikut tertawa.
Sesuatu mengetat di dada Arga. Ia ingat bab pertama hidupnya di tempat ini—maksudnya, hari pertamanya—ketika Kopral Wira berkata bahwa pos ini dilupakan karena tak ada apa-apa untuk dijaga. Tak ada apa-apa. Arga sekarang menatap "tak ada apa-apa" itu berlari di bawah matahari.
"Jaka yang membangun sekolahnya," kata Pak Karto. "Anak itu dulu cuma bisa pegang tombak bambu. Sekarang dia mandor."
Jaka muncul dari balik bangunan, kemeja basah keringat, palu terselip di ikat pinggang. Wajahnya yang dulu kurus ketakutan kini lebar dan yakin. "Komandan!" Ia menjabat tangan Arga, keras, seperti dua tukang kayu. "Tepat waktu. Sore ini kami pasang lonceng sekolah. Kau yang harus bunyikan pertama."
"Kenapa aku?"
Jaka mengangkat bahu, tapi Pak Karto yang menjawab, suaranya pelan. "Karena kau yang membuat lonceng itu mungkin berbunyi sama sekali."
Arga tak tahu harus berkata apa, jadi ia tak berkata apa-apa. Itu pelajaran yang ia ambil dari Dirga dulu: kadang diam adalah jawaban yang paling jujur.
Sore harinya seluruh desa berkumpul. Lonceng tergantung di tiang depan sekolah—besi tua bekas as truk logistik yang hancur, dipalu jadi bentuk yang kasar tapi nyaring. Arga memegang tali. Anak-anak berdesak di depan, mata berbinar.
Ia menarik tali. Lonceng berbunyi, panjang dan bersih, menggema sampai ke lereng utara, sampai mungkin ke balik pegunungan biru. Anak-anak bersorak. Sari menggenggam tangannya yang lain.
Arga menatap ke arah bukit, ke arah pos yang dulu hancur, tempat tiga pusara berdiri menghadap lembah. Ia menarik napas. "Dengar itu," gumamnya, terlalu pelan untuk siapa pun selain dirinya, dan mungkin tiga nama yang tidur di bukit. "Desanya hidup. Kalian dengar?"
Lonceng masih bergetar di udara ketika seorang kurir dari kecamatan memacu kuda masuk gerbang, debu mengepul di belakangnya. Ia turun terburu-buru, mencari Arga, dan menyerahkan amplop bersegel resmi markas pusat.
"Surat perintah," kata kurir itu, terengah. "Dari komandan wilayah. Soal pos."
Arga membuka segelnya. Di bawah cahaya senja, ia membaca, dan rahangnya mengeras—bukan karena marah, tapi karena beban lain yang tiba-tiba turun ke pundaknya.