Surat itu pendek, tapi Arga membacanya tiga kali.
Markas pusat memutuskan Pos Talun Sengit tidak akan dibubarkan. Sebaliknya, pos itu akan dijadikan pos perbatasan resmi dengan status penuh—garnisun tetap, jalur logistik mingguan menggantikan yang dulu sebulan sekali, dan antena komunikasi langsung ke markas wilayah. Pos yang dulu disebut "pos hukuman", tempat orang dibuang dan dilupakan, kini diakui sebagai titik penting di peta pertahanan negara.
Dan di paragraf terakhir, satu kalimat membuat tangannya turun perlahan: markas memerintahkan dibangunnya sebuah tugu peringatan di pos itu, atas nama tiga prajurit yang gugur menahan satu kompi musuh selama hampir satu hari penuh.
"Mereka baru ingat sekarang," kata Wira keesokan paginya.
Kopral itu duduk di kursi rotan di teras rumahnya di desa. Rambutnya sudah putih hampir seluruhnya. Tangan kirinya, yang dulu robek serpihan granat, terlipat kaku di pangkuan—jari-jarinya bisa menggenggam, tapi tak akan pernah sekuat dulu. Di sampingnya, dalam kaleng-kaleng bekas, tanaman cabai tumbuh subur. Bahkan di sini, bahkan sekarang, Wira merawat cabainya.
"Mereka tak pernah benar-benar lupa," kata Arga. "Mereka cuma tak mau membayar harga untuk ingat. Sekarang harganya sudah dibayar oleh Dirga, Bayu, Tomas. Markas tinggal menulis nama."
Wira mengangguk lambat. "Kau makin pahit, Nak."
"Aku makin tua."
"Dua puluh empat tahun bukan tua." Wira terkekeh, tapi batuk memotong tawanya. Ia sudah pensiun secara resmi sekarang, namun ia tetap di sini, di lembah ini, karena katanya delapan tahun di perbatasan membuatnya tak bisa lagi tidur tanpa suara angin gunung. "Dengar. Tugu itu—jangan biarkan markas yang merancangnya. Mereka akan buat dari marmer licin dengan tulisan emas yang tak ada artinya. Dirga akan bangkit dari kubur cuma untuk meludahinya."
Arga tertawa, dan tawanya jujur. "Lalu apa?"
"Batu dari bukit ini. Tangan orang desa ini. Nama mereka diukir oleh orang yang mereka selamatkan." Wira menatap ke arah bukit. "Itu baru tugu."
Maka begitulah yang mereka lakukan.
Selama tiga minggu, pemuda desa dan regu pos baru bekerja bersama mengangkut batu dari lereng. Jaka memimpin pemahatan. Pak Karto, dengan tangan yang gemetar tapi tekun, mengukir tiga nama dengan pahat dan palu kecil, satu huruf demi satu huruf, kadang berhenti lama di antara guratan.
Tugu itu tak tinggi. Hanya setinggi dada, batu kasar abu-abu yang diambil dari tanah tempat mereka gugur. Di permukaannya terukir:
SERSAN DIRGA. BAYU. TOMAS.
EMPAT ORANG MENAHAN SATU KOMPI.
DI SINI MEREKA BERDIRI.
Di hari peresmian, perwira dari markas wilayah datang dengan seragam licin dan medali, bermaksud berpidato. Tapi ketika ia melihat tugu kasar itu, melihat penduduk desa berdiri rapat mengelilinginya—tua, muda, anak-anak yang lahir setelah perang—ia menutup map pidatonya dan hanya berkata, "Saya tak punya kata yang lebih baik dari yang sudah terukir di sini."
Arga berdiri paling depan. Bendera baru berkibar di tiang pos di belakangnya—tapi yang lama, yang pudar dan robek, yang bertahan melalui dua pengepungan, kini dibingkai dan digantung di dalam pos sebagai pengingat.
Angin turun dari pegunungan biru, dingin dan bersih. Arga menatap tugu, menatap tiga nama, dan untuk pertama kalinya sejak fajar dua tahun lalu, ia merasakan sesuatu yang bukan duka semata.
"Pos ini tak akan dilupakan lagi," katanya, cukup keras agar semua dengar. "Aku berjanji pada kalian bertiga. Selama batu ini berdiri, garis ini dijaga."
Malam itu, ketika ia turun kembali ke desa, sebuah utusan lain menunggu—kali ini dari ibu kota. Negosiasi damai dengan negeri utara telah resmi dibuka. Dan namanya, nama Arga, telah disebut sebagai salah satu yang harus hadir.