Selama dua tahun, Arga menulis surat yang tak pernah ia kirim.
Ia menyimpannya dalam kotak kaleng di bawah ranjang di pos—belasan lembar kertas, sebagian sudah menguning. Tiap kali pertempuran usai, tiap kali ia menguburkan seseorang, ia menulis untuk ibunya, lalu tak punya keberanian mengirimkannya. Bagaimana ia harus menjelaskan? Ibunya menangis bangga di hari ia lulus pelatihan, mengira anaknya akan menjaga sebuah pos sepi selama enam bulan lalu pulang. Bagaimana ia menulis bahwa enam bulan itu telah jadi dua tahun perang, bahwa anaknya telah membunuh, telah kehilangan, telah menjadi orang yang tak akan dikenali ibunya?
Tapi sekarang surat undangan negosiasi damai mengharuskannya ke ibu kota. Dan ibu kota dilewati jalan yang sama menuju desanya sendiri.
"Pergilah," kata Sari ketika ia ragu. "Dua tahun, Arga. Dia bahkan mungkin mengira kau sudah mati."
Kalimat itu menusuk, karena benar.
Maka setelah urusan di ibu kota selesai—dan ia akan kembali ke sana untuk negosiasi—Arga menumpang truk ke desa masa kecilnya. Ia tak mengirim kabar lebih dulu. Ia tak tahu kenapa; mungkin takut ibunya tak ada lagi di sana, mungkin takut ada.
Desanya tak berubah. Itu yang aneh. Perang membakar separuh perbatasan utara, tapi di sini, di selatan yang jauh, ayam masih mematuk di pekarangan, asap masih naik dari dapur-dapur. Seolah perang itu cuma mimpi yang ia bawa sendirian.
Ia berdiri di depan rumahnya. Cat birunya mengelupas. Pohon mangga di halaman lebih besar dari yang ia ingat.
Pintu terbuka sebelum ia mengetuk.
Ibunya berdiri di sana—lebih kurus, rambut lebih putih, tangan terangkat ke mulut. Untuk waktu yang lama, tak ada yang bicara. Lalu perempuan tua itu menyentuh wajah Arga dengan kedua tangan, menelusuri rahangnya yang sekarang berbekas luka, matanya yang sekarang tak lagi muda.
"Mereka bilang ada prajurit muda yang menyelamatkan satu desa di utara," bisik ibunya. "Aku dengar di radio. Aku tak berani berharap itu kau."
"Itu aku, Bu." Suara Arga pecah. "Tapi aku tak menyelamatkan mereka sendiri. Ada empat orang lain. Tiga di antaranya—"
Ia tak bisa menyelesaikannya. Ia tak perlu. Ibunya menariknya ke dalam pelukan, dan dua puluh empat tahun lelaki itu menangis seperti anak kecil di pintu rumahnya, melepaskan dua tahun yang tak pernah ia ceritakan pada siapa pun.
Malamnya, di bawah lampu minyak, ia memberikan kotak kaleng itu. Belasan surat yang tak terkirim.
"Aku tak tahu cara menceritakannya," katanya. "Jadi aku menulisnya. Lalu aku terlalu takut mengirimnya."
Ibunya membaca, satu demi satu, sepanjang malam. Ia membaca tentang Sersan Dirga yang kebapakan, tentang Bayu yang tembakannya jitu, tentang Tomas yang kopinya terlalu kental, tentang Wira yang merawat cabai. Ia membaca tentang Sari. Ia menangis di beberapa lembar, tertawa kecil di lembar lain.
Saat fajar, ia melipat surat terakhir dan menatap anaknya. "Kau tak kembali untuk tinggal, kan?"
Arga menggeleng pelan. "Mereka memintaku ke meja perundingan. Setelah itu, aku kembali ke perbatasan. Aku tak bisa meninggalkannya, Bu. Ada terlalu banyak yang kutinggalkan di sana kalau aku pergi."
Ia menunggu kemarahan, air mata, bujukan untuk tinggal. Tapi ibunya hanya mengangguk, dan untuk kedua kalinya dalam hidup Arga, perempuan itu menangis bangga.
"Dulu aku melepasmu mengira aku mengirim anak kecil ke tempat aman," katanya. "Sekarang aku tahu aku mengirim seorang penjaga. Pergilah jaga garismu, Nak. Tapi pulanglah sekali-sekali. Ibu masih di sini."
Arga mencium dahi ibunya, dan ketika ia berangkat siang itu, untuk pertama kali sejak perang ia tak menengok ke belakang—bukan karena pesan lama Wira, tapi karena untuk pertama kalinya ia tahu pasti apa yang ia tinggalkan masih akan ada saat ia kembali.