Perundingan damai berlangsung empat puluh hari di ibu kota, dan setiap malam Arga merasa lebih asing di ruang-ruang berlampu terang itu daripada di parit mana pun.
Para diplomat berdebat soal garis di peta, soal pasal, soal ganti rugi. Arga duduk di kursi paling pinggir, dipanggil hanya untuk bersaksi—tentang serangan pertama, tentang pos yang jatuh, tentang bagaimana satu kompi musuh turun dari pegunungan biru di pagi yang seharusnya biasa. Mereka mendengarkannya dengan diam yang berat. Ia bukan jenderal, bukan pejabat. Ia cuma prajurit yang berdiri di garis ketika garis itu dikhianati. Dan justru karena itu, kata-katanya punya bobot yang tak dimiliki seluruh meja.
"Perjanjian sebelumnya juga ditandatangani dengan tinta dan jabat tangan," katanya pada hari terakhir, ketika seorang diplokmat utara menjanjikan damai abadi. "Delapan tahun lalu. Lalu pada suatu pagi tinta itu jadi mortir. Saya tak ke sini untuk menolak damai. Saya ke sini supaya damai kali ini punya saksi yang tak akan pernah lupa harganya."
Ruangan itu sunyi. Lalu, satu per satu, mereka menandatangani.
Ketika ia akhirnya pulang ke lembah, musim sudah berganti. Padi di sawah desa menguning. Arga turun dari truk di gerbang kayu jati, dan Sari sudah menunggu—seolah ia tahu hari Arga akan kembali, walau Arga sendiri tak yakin.
Mereka berjalan ke bukit. Bukan ke pos, tapi ke punggungannya, tempat seluruh lembah terbentang di bawah: desa, sawah, sekolah dengan loncengnya, tugu tiga nama, dan jauh di utara, pegunungan biru yang kini tenang.
"Aku bisa pergi," kata Arga akhirnya. "Mereka menawariku jabatan di kota. Lagi. Pelatih, perwira staf. Hidup dengan ranjang empuk dan tak ada yang menembakku."
Sari tak menatapnya. Ia menatap lembah. "Lalu kenapa kau belum pergi?"
"Karena setiap kali aku membayangkan kota, aku melihat tempat ini. Aku melihatmu." Arga menarik napas. Ia telah menghadapi satu kompi musuh dengan lebih sedikit rasa takut daripada saat ini. "Aku tak bisa menjanjikanmu hidup yang aman, Sari. Aku memilih perbatasan. Aku akan selalu memilih perbatasan, karena ada tiga orang di bukit itu yang tak bisa kutinggalkan, dan satu garis yang sudah dua kali kulihat dilupakan. Aku tak akan membiarkannya dilupakan lagi."
Sekarang Sari menatapnya. "Kau pikir aku jatuh cinta pada lelaki yang akan lari ke kota?" Ada air di matanya, tapi juga senyum. "Aku membalut lukamu di malam pertama kau datang berdarah ke rumah kakekku. Aku membawa perempuan dan anak-anak lewat kebun bambu sementara kau menahan pintu. Aku tahu siapa yang kupilih, Arga. Aku memilih penjaga."
"Maka tinggallah bersamaku di sini. Di garis ini."
"Aku tak pernah berniat ke mana-mana."
Ia menggenggam tangannya, dan di punggung bukit itu, dengan seluruh lembah hidup di bawah mereka—desa yang dibangun ulang, sawah yang menguning, lonceng sekolah yang sayup terdengar—Arga membuat janji yang berbeda dari semua janji prajurit yang pernah ia ucapkan. Bukan janji untuk mati menjaga sesuatu. Janji untuk hidup menjaganya.
Di kejauhan, di pos, ia melihat sosok berambut putih duduk di tembok rendah, mengawasi pegunungan utara seperti yang selalu ia lakukan. Wira mengangkat tangan kanannya—satu-satunya yang masih kuat—dalam isyarat yang Arga kenal: bukan hormat militer, tapi sesuatu yang lebih tua dan lebih dalam. Restu seorang lelaki yang telah melihat terlalu banyak garis jatuh, kepada seorang lelaki yang akan menjaga garisnya tetap berdiri.