Bagas selalu percaya bahwa hari paling penting dalam hidupnya akan terjadi di depan layar komputer. Ternyata dia benar, hanya saja bukan dengan cara yang ia bayangkan.
Malam itu pukul tiga dini hari. Kamar kosnya gelap, satu-satunya cahaya datang dari monitor yang memantulkan adegan akhir Crown of Ashes—game RPG yang sudah ia tamatkan tiga kali dan ia mainkan untuk keempat kalinya. Di layar, sang pahlawan Aldo menghunus pedang suci ke arah bangsawan jahat yang berlutut di lantai istana berlumur darah. Bangsawan itu bernama Valdric. Penjahat paling dibenci sepanjang cerita. Orang yang membakar desa, mengkhianati raja, dan mati mengenaskan di tikungan terakhir kisah.
"Mati kamu, Valdric," gumam Bagas sambil menyeruput kopi sachet yang sudah dingin. Ia hafal setiap dialog. Ia tahu Aldo akan berkata, "Kejahatanmu berakhir hari ini," sebelum menusukkan pedangnya. Dan benar saja, kalimat itu muncul.
Bagas tertawa kecil. Selama bertahun-tahun ia bermain game ini, ia selalu menganggap Valdric sebagai lelucon—musuh klise yang ada hanya untuk dikalahkan. Tidak ada simpati. Tidak ada cerita latar yang dalam. Hanya seonggok kejahatan berjalan yang harus ditebas demi happy ending.
Ia meregangkan tubuh, lalu berdiri untuk mengambil air. Lantai kos dingin di telapak kakinya. Lampu koridor sudah dimatikan ibu kos sejak jam sebelas. Bagas berjalan setengah mengantuk, pikirannya masih melayang di antara naga, kastil, dan sihir.
Di kepalanya, ia membayangkan bagaimana rasanya jadi pahlawan. Punya pedang bercahaya. Disorak rakyat. Membunuh penjahat dan menyelamatkan dunia. Khayalan klasik bocah dua puluh tiga tahun yang hidupnya biasa-biasa saja—skripsi belum kelar, kerja paruh waktu, dan satu-satunya pencapaian adalah peringkat keempat di leaderboard server lokal.
Ia tidak melihat lantai basah bekas pel penjaga kos.
Kakinya tergelincir. Tubuhnya melayang ke belakang dengan gerakan konyol yang biasa jadi bahan tertawaan di video gagal internet. Dalam sepersekian detik, Bagas menyadari satu hal absurd: dia akan mati seperti karakter sampingan yang tidak penting. Tidak heroik. Tidak dramatis. Hanya tergelincir di koridor kos.
Kepalanya membentur sudut tangga besi.
Bunyi itu—keras, basah, final—adalah suara terakhir yang ia dengar. Tidak ada rasa sakit yang berkepanjangan. Hanya kegelapan yang menelan segalanya dengan cepat, seperti layar game yang fade to black sebelum game over.
Anehnya, dalam kegelapan itu, Bagas tidak merasa takut. Ia merasa kesal. Sangat kesal. Ribuan jam ia habiskan mengejar takdir orang lain di dalam game, dan takdirnya sendiri berakhir karena lantai licin. Kalau ini sebuah cerita, ia adalah lelucon pembukanya.
"Yang benar saja," pikirnya di antara sadar dan tidak. "Masa aku mati gara-gara ngepel?"
Lalu suara itu datang. Bukan suara manusia. Lebih seperti dengung yang menggetarkan tulang, sebuah nada yang familiar—nada yang sama persis dengan layar loading Crown of Ashes saat memuat dunia baru. Cahaya biru kehijauan berputar di kegelapan, membentuk garis-garis seperti antarmuka.
Di tengah pandangannya yang memudar, sebuah teks bercahaya muncul. Teks yang ia kenal seumur hidupnya bermain game.
MEMUAT DUNIA. HARAP TUNGGU.
Bagas ingin tertawa, tapi ia tak punya mulut lagi untuk itu. Ia ingin protes, tapi tak ada suara. Dunia menariknya turun, jauh, ke tempat yang seharusnya tidak nyata. Pikiran terakhirnya sebelum kesadaran benar-benar padam adalah pertanyaan yang akan menghantuinya untuk waktu yang lama.
Dunia apa yang sedang dimuat?