Yang pertama Bagas rasakan adalah seprai sutra.
Ia tahu itu sutra karena terlalu halus untuk kos-kosannya yang seprainya tipis dan bau matahari. Lalu ia mencium aroma—lilin lebah, kayu cendana, dan sesuatu yang berat seperti parfum mahal. Telinganya menangkap kicau burung asing dan derit roda kereta kuda di kejauhan.
Matanya terbuka. Langit-langit di atasnya bukan tripleks bocor kamar kos, melainkan kubah batu tinggi dengan ukiran naga melingkari lampu kristal. Tirai beludru merah menjuntai dari kanopi ranjang. Ini bukan rumah sakit. Ini bukan akhirat versi mana pun yang pernah ia dengar.
Bagas duduk terlalu cepat dan kepalanya berdenyut. Tangannya—tangan yang ia angkat ke depan wajah—bukan tangannya. Jari-jari ini panjang, kuku terawat, kulit pucat tanpa bekas luka bakar rokok teman kos yang dulu. Ada cincin perak berukir di jari telunjuk.
"Tuan Muda?"
Suara perempuan dari sudut ruangan. Bagas menoleh. Seorang gadis berdiri di sana dengan baju pelayan rapi, rambut cokelat diikat ke belakang, membawa nampan berisi kendi air. Wajahnya cemas tapi terlatih untuk tidak menunjukkannya. Bagas mengenali wajah itu seketika, dan jantungnya—jantung yang asing ini—berdetak keras.
Mira. Pelayan setia Valdric. Karakter sampingan kecil yang ia lihat di beberapa cutscene Crown of Ashes.
Tidak. Tidak mungkin.
Bagas melompat turun dari ranjang, kakinya hampir terpeleset di lantai marmer—ironi yang nyaris membuatnya histeris—dan berlari ke cermin besar berbingkai emas di dinding. Ia menatap. Cermin menatap balik.
Wajah di sana tampan dengan cara yang dingin dan kejam. Rambut hitam legam disisir ke belakang. Mata abu-abu tajam seperti pisau. Garis rahang keras. Di pelipis kiri ada bekas luka tipis. Wajah itu ia kenal sebaik wajahnya sendiri, karena ia sudah menatapnya ratusan kali di layar saat mengalahkannya.
Valdric Aurelheart. Bangsawan jahat. Penjahat utama. Orang yang ia tonton mati semalam—atau entah berapa lama lalu—di tangan Aldo.
"Tidak, tidak, tidak," bisik Bagas, dan suara yang keluar dari tenggorokannya adalah bariton berat milik orang lain. Ia menutup mulut dengan tangan. Bahkan suaranya bukan suaranya.
"Tuan Muda Valdric, apa Anda baik-baik saja?" Mira mendekat dengan langkah hati-hati. "Anda demam tiga hari. Tabib bilang Anda sempat mengigau hal-hal yang aneh. Tentang... lantai licin dan layar bercahaya."
Bagas menatap gadis itu. Otaknya berputar seperti mesin yang dipaksa bekerja terlalu keras. Demam tiga hari. Mengigau. Jadi Valdric yang asli sakit, dan saat itulah jiwa Bagas—jiwanya yang mati di kos—masuk ke tubuh ini. Reinkarnasi. Perpindahan jiwa. Apa pun istilahnya, hasilnya sama.
Ia, Bagas, kini berada di dalam Crown of Ashes. Bukan sebagai pemain. Bukan sebagai pahlawan. Tapi sebagai penjahat yang ia tonton mati semalam.
"Mira," katanya, menguji nama itu di lidah asing ini. Gadis itu mengangkat wajah, terkejut tuannya menyebut namanya selembut itu—Valdric tidak pernah lembut. "Hari ini... tanggal berapa?"
Mira mengerjap. "Hari ketujuh belas Bulan Embun, Tuan. Tahun keseratus dua belas era Aurelheart."
Bagas mengulang angka itu dalam hati. Ia mencocokkannya dengan linimasa game yang ia hafal di luar kepala. Bulan Embun. Era seratus dua belas. Dan saat itu pengetahuannya menghantamnya seperti gelombang dingin.
Ini adalah awal cerita. Prolog. Titik di mana Valdric masih seorang bangsawan muda yang belum melakukan kejahatan-kejahatan besarnya. Pembakaran desa, pengkhianatan, semuanya belum terjadi. Tapi semuanya akan terjadi, menggiring Valdric langkah demi langkah menuju satu titik akhir yang tak terhindarkan.
Pedang Aldo. Lantai istana. Kalimat "Kejahatanmu berakhir hari ini."
Bagas menatap tangannya yang gemetar, lalu menatap Mira yang menunggu dengan sabar.
"Mira," ucapnya pelan, lebih kepada dirinya sendiri daripada gadis itu. "Sepertinya aku tahu persis bagaimana hidupku akan berakhir."
Dan itu sama sekali tidak melegakan.