Sepanjang hari itu Bagas berpura-pura masih lemah karena demam, dan tidak sepenuhnya berpura-pura. Ia butuh waktu untuk berpikir, dan tubuh Valdric memang masih lemas. Mira membawakannya sup hangat, roti, dan teh herbal pahit. Bagas memakan semuanya sambil otaknya menyusun ulang seluruh alur cerita yang ia hafal.
Crown of Ashes punya tiga babak besar. Babak pertama: Aldo, seorang pemuda desa biasa, menemukan pedang suci dan memulai perjalanannya. Babak kedua: Aldo mengumpulkan teman, mengalahkan jenderal-jenderal kegelapan, dan menyingkap konspirasi di balik kerajaan. Babak ketiga: konfrontasi terakhir, di mana semua benang merah bertemu di satu nama—Valdric Aurelheart, dalang di balik kehancuran kerajaan.
Masalahnya, Bagas tahu setiap tonggak penting di antara titik-titik itu. Dan setiap tonggak itu adalah kejahatan Valdric.
Ia menutup mata dan mengingatnya satu per satu, seperti membaca daftar dosa yang ditakdirkan untuknya.
Tiga bulan dari sekarang, Valdric akan memerintahkan pembakaran Desa Renwick untuk menutupi penyelundupan senjata. Di desa itulah Aldo, sang pahlawan, kehilangan ibu angkatnya. Itulah pemicu yang mengubah Aldo dari petani menjadi pendekar bersumpah dendam.
Enam bulan dari sekarang, Valdric akan mengkhianati Raja Aldwin dalam pertempuran di Lembah Garu, menyebabkan kematian ribuan prajurit kerajaan.
Setahun dari sekarang, Valdric akan menculik Putri Selene untuk ritual gelap yang ia percaya bisa memberinya keabadian.
Dan di akhir, di Istana Aurelheart yang megah, Aldo akan datang dengan pedang suci, didampingi para pahlawannya, dan menusuk Valdric tepat di jantung sementara seluruh kerajaan bersorak menyaksikan tirani berakhir.
Bagas membuka mata. Tangannya mengepal di atas selimut.
"Itu bukan aku," gumamnya. "Itu Valdric yang lama. Aku bahkan tidak tahu cara membakar desa."
Tapi pikiran itu tak menenangkannya. Karena di dunia ini, mungkin tak ada yang peduli apakah jiwa di dalam tubuh Valdric berbeda. Yang mereka lihat adalah wajah ini, nama ini, garis keturunan ini. Dan takdir, jika benar dunia ini berjalan sesuai naskah yang ia tahu, akan tetap menggiringnya ke ujung pedang Aldo.
Ia memikirkan sesuatu yang lebih menyeramkan. Bagaimana jika dunia ini punya semacam kekuatan, sebuah arus cerita yang memaksa peristiwa terjadi sesuai naskah? Bagaimana jika ia mencoba lari dari takdir, tapi dunia menariknya kembali ke jalur yang sama, seperti rel kereta yang tak bisa dibelokkan?
"Tuan?" Mira muncul lagi di pintu, membawa jubah bersih. "Pengurus rumah tangga menanyakan apakah Anda akan menghadiri rapat dewan keluarga besok. Ayahanda Anda, Adipati Roderick, telah kembali dari ibu kota."
Adipati Roderick. Ayah Valdric. Tokoh yang dalam game digambarkan dingin, ambisius, dan jauh lebih kejam daripada putranya. Bagas merasakan keringat dingin di punggung tubuh barunya. Ia bahkan belum bertemu separuh karakter di dunia ini, dan sebagian besar dari mereka adalah orang-orang berbahaya.
"Iya," jawab Bagas, mengarang sambil berpikir. "Aku akan hadir."
Saat Mira pergi, Bagas berdiri dan berjalan ke jendela. Di luar terbentang halaman istana keluarga Aurelheart—taman luas dengan air mancur marmer, pohon-pohon dipangkas rapi, dan di kejauhan, tembok kota dengan menara-menara penjaga. Langit sore berwarna jingga keunguan, dua bulan kembar mulai naik di ufuk. Ini bukan grafis. Ini bukan render. Angin yang menyentuh wajahnya nyata, dingin, dan berbau musim gugur.
Untuk pertama kalinya sejak bangun, kenyataan itu benar-benar menghantamnya. Ia tidak bisa menekan tombol keluar. Tidak ada menu pause. Tidak ada save point. Jika ia mati di sini, ia mati sungguhan—seperti yang sudah ia buktikan di koridor kos.
Bagas menatap pantulan samar dirinya di kaca jendela. Wajah Valdric menatap balik, tapi di balik mata abu-abu itu kini ada seseorang yang berbeda. Seseorang yang tahu masa depan. Seseorang yang sangat, sangat tidak ingin mati untuk kedua kalinya.
"Oke," bisiknya, dan untuk pertama kalinya ada sesuatu selain ketakutan dalam suaranya. Ada tekad. "Kalau aku tahu seluruh cerita ini, berarti aku punya keuntungan yang tidak dimiliki siapa pun. Aku tahu setiap jebakan. Aku tahu setiap belokan."
Ia menarik napas panjang.
"Pertanyaannya cuma satu—bisakah aku menulis ulang akhir ceritaku sendiri?"