Malam itu Bagas tidak bisa tidur. Bukan karena takut—meski rasa takut itu masih ada—tapi karena untuk pertama kalinya dalam hidupnya, otaknya bekerja seperti mesin yang menemukan tujuan.
Ia duduk di meja kerja Valdric, menyalakan lilin, dan menarik selembar perkamen. Pena bulu terasa asing di tangannya, tintanya berceceran di percobaan pertama. Tapi ia menulis. Menuliskan semua yang ia ingat tentang Crown of Ashes, dari awal hingga akhir, dalam bahasa campuran Indonesia-Inggris yang hanya ia sendiri yang bisa baca. Semacam buku panduan rahasia. Catatan walkthrough pribadi.
Saat menulis, sebuah pemahaman tumbuh dalam dirinya. Pengetahuannya tentang alur cerita bukan sekadar trivia. Itu adalah senjata. Itu adalah cheat code paling kuat yang bisa dimiliki seseorang di dunia ini.
Para tokoh lain bergerak buta menuju masa depan. Aldo tidak tahu ia ditakdirkan jadi pahlawan. Raja tidak tahu ia akan dikhianati. Putri tidak tahu ia akan diculik. Tapi Bagas tahu. Ia tahu semuanya. Setiap peristiwa, setiap pertempuran, setiap pengkhianatan tersusun rapi di kepalanya seperti peta menuju harta karun—atau peta menuju ladang ranjau.
Tapi pertanyaan besarnya tetap menggantung: bagaimana cara menggunakan pengetahuan ini tanpa membuat keadaan jadi lebih buruk?
Pilihan pertama yang terlintas adalah kabur. Tinggalkan istana, ganti nama, hidup sebagai petani di pelosok dunia yang jauh dari jalur cerita utama. Tapi Bagas menggeleng sendiri. Valdric adalah pewaris kadipaten paling berpengaruh kedua di kerajaan. Wajahnya dikenal. Kepalanya akan jadi buruan begitu ia menghilang. Lagi pula, jika dunia ini benar-benar mengikuti arus cerita, kabur mungkin malah memicu peristiwa yang lebih buruk.
Pilihan kedua: bunuh Aldo sebelum ia jadi pahlawan. Saat ini Aldo masih anak petani biasa di Desa Renwick, belum menyentuh pedang suci. Secara teori, ia mudah disingkirkan.
Bagas merenungkan opsi itu, lalu menolaknya dengan tegas. Bukan hanya karena membunuh anak desa tak berdosa adalah hal yang persis akan dilakukan Valdric yang jahat—dan ia bertekad untuk tidak jadi monster itu—tapi juga karena terlalu berisiko. Dalam cerita, ada banyak "pahlawan cadangan". Jika Aldo mati, mungkin tokoh lain yang mengambil pedang suci. Atau lebih buruk, kematian Aldo bisa memicu reaksi yang tak bisa ia prediksi karena keluar dari naskah yang ia tahu.
Pilihan ketiga, dan yang akhirnya ia pilih: ubah jalan cerita dari akarnya. Cegah kejahatan-kejahatan Valdric sebelum terjadi. Jika Valdric tak pernah membakar Desa Renwick, mungkin Aldo tak pernah punya dendam. Jika Valdric tak pernah mengkhianati raja, mungkin tak ada perang. Jika rantai kejahatan itu putus dari awal, mungkin—mungkin—ujung pedang itu tak pernah menemukan jantungnya.
"Aku bukan mau jadi pahlawan," gumam Bagas, menatap nyala lilin. "Aku cuma mau hidup. Hidup yang panjang dan membosankan kalau perlu. Tidak ditusuk pedang di depan rakyat sekota."
Saat itulah ia merasakannya. Sesuatu yang aneh, samar, di sudut penglihatannya. Seperti kilatan cahaya. Ia menoleh, tapi tak ada apa-apa di kamar selain bayangan lilin yang menari.
Penasaran, Bagas mencoba sesuatu yang konyol. Ia membayangkan antarmuka game—layar status yang dulu sering ia buka saat bermain. Ia membatin satu kata yang dulu jadi shortcut-nya.
Status.
Udara di depannya berkedip. Lalu, melayang dalam cahaya biru kehijauan yang sama persis dengan yang ia lihat sebelum mati, sebuah panel transparan terbentuk. Bagas terlonjak hingga kursinya hampir terbalik.
VALDRIC AURELHEART
Tingkat: 9
Kelas: Bangsawan (Tersembunyi: ???)
Kekuatan: 14. Ketangkasan: 11. Kecerdasan: 18. Pesona: 7.
Keahlian: Pedang Dasar, Sihir Bayangan (terkunci), Tata Negara.
Pesona 7. Bagas hampir tertawa getir membaca angka itu—wajar saja semua orang membenci Valdric, karismanya jeblok.
Tapi yang membuat napasnya tertahan adalah baris "Kelas Tersembunyi: ???" dan "Sihir Bayangan (terkunci)". Itu tidak ada di game. Di Crown of Ashes, Valdric hanya musuh dengan jurus standar. Tak ada kelas tersembunyi. Tak ada sistem status yang bisa ia buka sendiri.
Ia menelusuri deretan angka itu lagi, dan satu kekeliruan dalam cara berpikirnya langsung terkoreksi. Tingkat 9, Kekuatan 14—angka-angka itu terdengar mengesankan, tapi Bagas cukup lama bermain RPG untuk tahu bahwa angka di panel hanyalah potensi mentah, bukan keahlian jadi. Tubuh Valdric mungkin punya bakat dan kebugaran seorang bangsawan muda yang sering berburu, tapi Valdric yang lama menghabiskan hidupnya untuk minum dan bermalas-malasan, bukan berlatih. Stat tinggi tidak otomatis menerjemahkan diri jadi tangan yang tahu cara mengayunkan pedang dalam pertarungan nyata; itu cuma tanah subur yang belum pernah ditanami. Skill harus dilatih, otot harus dibentuk lewat keringat, dan refleks tempur cuma lahir dari pertempuran sungguhan. Dengan kata lain, level sembilan di panel ini tak ada artinya kalau ia benar-benar dipaksa bertarung untuk menyelamatkan nyawanya.
Catatan kecil itu ia simpan baik-baik. Ia tak boleh tertipu oleh angka-angka indah dan merasa dirinya kuat. Di dunia yang nyata dan berdarah ini, panel hanyalah cermin potensi—dan potensi tidak menangkis pedang.
Bagas menatap panel cahaya itu lama-lama, jantungnya berdebar.
Dunia ini memang seperti game yang ia tahu. Tapi tidak persis. Ada lapisan-lapisan yang tak pernah ia lihat sebagai pemain. Dan jika ada hal yang tak ia ketahui sebanyak ini sejak awal, maka catatan walkthrough-nya mungkin tak seandal yang ia kira.
Tapi untuk sekarang, ia punya rencana. Tiga bulan lagi, Desa Renwick. Itu domino pertama. Dan ia akan memastikan domino itu tidak pernah jatuh.