Untuk mencegah pembakaran Desa Renwick, Bagas pertama-tama harus memahami kenapa Valdric melakukannya.
Selama dua minggu berikutnya, ia membenamkan diri dalam tumpukan dokumen keluarga Aurelheart—surat dagang, catatan pengeluaran, laporan dari pengurus wilayah. Mira membantunya tanpa banyak bertanya, meski Bagas menangkap kebingungan di matanya. Valdric yang lama tak pernah peduli pada administrasi. Ia lebih suka berburu, minum, dan menghabiskan uang. Valdric yang baru menghabiskan malam-malamnya membaca buku besar akuntansi.
Dari dokumen-dokumen itu, potongan teka-teki mulai tersusun. Di game, ceritanya sederhana: Valdric membakar Renwick untuk menutupi jejak penyelundupan senjata. Tapi dokumen nyata menunjukkan gambaran yang lebih rumit. Penyelundupan itu bukan ide Valdric—itu operasi yang dijalankan oleh Pengawas Wilayah bernama Garron, anak buah ayahnya, Adipati Roderick. Valdric, dalam versi cerita, hanya disuruh "membereskan masalah" dan ia memilih cara paling brutal.
Artinya, jika Bagas ingin mencegah pembakaran, ia tak perlu sekadar menahan diri. Ia harus menghentikan Garron, dan melakukannya tanpa membuat ayahnya curiga.
Ini bagian yang membuatnya gugup. Adipati Roderick bukan orang yang bisa dibodohi. Dalam game, ia digambarkan sebagai sosok yang membaca orang seperti membaca buku. Satu langkah salah, dan Bagas bisa berakhir dengan masalah yang jauh lebih besar daripada sekadar takdir di tangan Aldo.
Maka Bagas menyusun rencananya dengan hati-hati, memanfaatkan satu hal yang ia tahu tentang dunia ini: birokrasi. Setiap perintah pembakaran membutuhkan dokumen resmi bersegel keluarga. Jika Bagas, sebagai pewaris, mengeluarkan perintah tandingan lebih dulu—perintah untuk memindahkan dan memeriksa ulang gudang senjata di Renwick secara resmi—maka tak akan ada alasan untuk membakar apa pun. Bukti penyelundupan akan diamankan, bukan dimusnahkan.
"Mira," panggilnya suatu pagi. "Aku butuh kau membawakan pesan ke Pengawas Garron. Diam-diam. Jangan lewat kurir resmi."
Mira mengernyit. "Tuan, Garron itu... orangnya licik. Dan dia lebih dekat dengan Adipati daripada dengan Anda. Apa Anda yakin?"
Bagas tersenyum tipis. Ia mulai menyukai gadis ini. Mira mungkin hanya pelayan, tapi ia tajam dan jujur—dua hal langka di istana penuh intrik ini. "Justru karena itu. Aku tidak akan mengancamnya. Aku akan menawarinya sesuatu."
Yang Bagas tawarkan adalah kesepakatan. Dalam pesan tersegel itu, ia menulis bahwa ia mengetahui penyelundupan senjata di Renwick, dan bahwa ia tidak berniat melaporkannya ke ayahnya—asalkan Garron menghentikan operasi itu, memindahkan barang bukti ke gudang yang aman di bawah pengawasan Valdric, dan tidak menyentuh desa. Sebagai imbalan, Valdric akan melindungi Garron dari murka Adipati. Sebuah jebakan halus: begitu barang bukti ada di tangan Bagas, Garron tak bisa lagi membakar desa untuk menutupi apa pun.
Tiga hari kemudian, balasan datang. Garron menerima.
Bagas membaca surat balasan itu dengan tangan sedikit gemetar. Ia baru saja mengubah satu kejadian. Satu domino yang dalam game pasti jatuh, kini ia tahan dengan jarinya. Desa Renwick tidak akan terbakar. Ibu angkat Aldo tidak akan mati. Dan mungkin, hanya mungkin, Aldo tidak akan pernah menjadi pahlawan pendendam yang ditakdirkan membunuhnya.
"Berhasil," bisiknya, hampir tak percaya. Ia ingin merayakannya, tapi sesuatu di benaknya menahan euforia itu.
Karena ia teringat satu hal mendasar tentang cerita. Setiap kejadian terhubung dengan kejadian lain. Setiap aksi punya reaksi. Dan dalam game, ada istilah yang ia tahu betul—butterfly effect. Efek kupu-kupu. Mengubah satu hal kecil bisa menggeser seluruh alur dengan cara yang tak terduga.
Bagas menatap panel status yang masih sesekali ia buka. Tingkatnya naik satu angka tanpa ia bertarung—mungkin karena ia "menyelesaikan misi". Tapi ia sudah belajar untuk tidak menganggapnya kekuatan; angka itu hanya potensi yang bertambah, bukan keahlian pedang yang tiba-tiba muncul di lengannya. Lalu di pojok panel, sebuah baris baru muncul yang membuat bulu kuduknya berdiri.
PERINGATAN: Penyimpangan Alur Terdeteksi. Garis Takdir Bergeser.
"Garis takdir bergeser," ulangnya pelan. Ia tidak tahu apakah itu kabar baik atau pertanda bahaya. Tapi satu hal pasti—dunia ini sedang menanggapi perbuatannya. Dan dunia, ternyata, sedang memperhatikan.