Sebulan berlalu, dan Bagas mulai berpikir mungkin ia terlalu khawatir. Desa Renwick aman. Garron menepati janji. Barang bukti penyelundupan tersimpan rapi di gudang pribadinya. Tidak ada api, tidak ada kematian, tidak ada pahlawan pendendam yang lahir.
Tapi ketenangan itu tidak bertahan lama.
Kabar pertama datang dari ibu kota lewat surat pengurus rumah tangga. Raja Aldwin mengadakan sidang darurat. Penyebabnya: laporan tentang penyelundupan senjata di wilayah Aurelheart telah sampai ke telinga istana. Bagas membaca surat itu dan tubuhnya membeku.
Itu tidak ada di game.
Dalam cerita asli, penyelundupan Renwick tak pernah terungkap di tingkat kerajaan karena bukti-buktinya musnah dalam kebakaran. Tapi Bagas justru menyelamatkan bukti itu. Dan entah bagaimana—lewat mulut yang bocor, lewat mata-mata, lewat seseorang—kabar itu kini menyebar.
Ia mengubah satu kejadian, dan kejadian itu melahirkan kejadian baru yang tak pernah ia ketahui.
"Garron," gumam Bagas. Tapi saat ia menyelidiki, ternyata bukan Garron yang bocor. Pengawas itu justru ketakutan setengah mati, karena keterlibatannya bisa membuatnya digantung. Sumber kebocorannya, setelah ditelusuri Mira selama beberapa hari, mengarah ke seseorang yang sama sekali tak ada dalam perhitungan Bagas: seorang saudagar bernama Hester, yang dalam game adalah karakter latar tak bernama, hanya muncul sebagai penjual di pasar.
Di dunia nyata ini, Hester punya jaringan, ambisi, dan dendam pribadi pada keluarga Aurelheart. Saat Mira menggali lebih dalam, akar dendam itu mulai tersingkap: bertahun-tahun lalu, gudang dan armada dagang milik ayah Hester ikut "diamankan" dalam salah satu operasi penyelundupan Garron yang mengatasnamakan keluarga Aurelheart. Ayah Hester bangkrut, dituduh sebagai komplotan, lalu mati dalam tahanan tanpa pernah diadili. Hester muda menyaksikan semuanya, dan sejak itu ia membangun jaringan dagang gelapnya dengan satu tujuan: membalas dendam pada nama Aurelheart. Maka begitu ia mengendus penyelundupan yang gagal dibakar itu, ia tidak sekadar menjualnya ke istana demi keuntungan—ia menjualnya untuk mulai merobohkan keluarga yang dulu menghancurkan ayahnya.
Bagas duduk di kamarnya, menatap catatan walkthrough-nya, dan menyadari kebenaran yang dingin. Catatan ini, panduan yang ia banggakan sebagai cheat code-nya, hanya mencakup tokoh-tokoh dan kejadian penting yang ia lihat sebagai pemain. Tapi dunia ini penuh dengan ribuan orang yang tak pernah punya nama di layar—saudagar, pelayan, pengawal, petani—dan mereka semua hidup, berpikir, dan menyimpan luka serta dendam mereka sendiri. Hester bukan tokoh yang tiba-tiba muncul dari kekosongan untuk menggerakkan plot; ia adalah korban lama yang selama ini menunggu di pinggir layar, di luar bingkai yang pernah Bagas lihat. Begitu Bagas mengubah alur, orang-orang "tak penting" seperti ini bisa melangkah maju dan mengubah segalanya.
Ia mengubah cerita, dan cerita membalas dengan tokoh-tokoh yang tak ada di naskahnya—tapi yang sebenarnya selalu ada di sana, hanya tak pernah ia perhatikan.
Yang lebih mengkhawatirkan: sidang darurat itu menyeret nama Adipati Roderick. Dan Adipati bukan tipe orang yang membiarkan dirinya disudutkan. Bagas tahu, jika ayahnya merasa terancam, ia akan mencari kambing hitam. Dan kambing hitam paling mudah adalah putranya sendiri—Valdric—yang akhir-akhir ini berperilaku aneh, ikut campur urusan wilayah, dan mengeluarkan perintah tanpa restu.
Benar saja. Tiga hari kemudian, Bagas dipanggil menghadap ayahnya.
Ruang kerja Adipati Roderick dingin meski perapian menyala. Pria itu duduk di balik meja kayu hitam, wajahnya keras seperti pahatan batu, mata abu-abu yang sama dengan milik Valdric tapi tanpa secuil pun kehangatan. Ia tidak mempersilakan putranya duduk.
"Aku dengar," kata Roderick pelan, dan suara pelan itu jauh lebih menakutkan daripada teriakan, "kau telah sibuk, Valdric. Mengurus gudang. Berkirim surat dengan pengawasku. Mengeluarkan perintah atas namaku tanpa izinku."
Bagas menjaga wajahnya tetap tenang, meski jantungnya berpacu. "Aku hanya berusaha melindungi kepentingan keluarga, Ayahanda."
"Kepentingan keluarga." Roderick mengulangnya dengan nada datar yang menusuk. Ia berdiri, berjalan mengitari meja, dan berhenti tepat di depan Bagas. "Penyelundupan itu seharusnya tidak pernah terungkap. Sekarang istana mengendusnya, dan jejaknya mengarah ke rumah kita. Karena ulahmu."
"Aku menyelamatkan buktinya untuk melindungi kita—"
"Kau menyelamatkan buktinya," potong Roderick, "yang seharusnya menjadi abu." Matanya menyipit. "Sejak kapan kau jadi begitu... lunak? Putraku yang dulu akan membakar desa itu beserta seluruh penghuninya tanpa berkedip, lalu tidur nyenyak malamnya."
Bagas menahan diri untuk tidak gemetar. Inilah momen berbahaya yang ia takutkan. Ayahnya mulai curiga bahwa putranya bukan lagi orang yang sama.
"Mungkin," kata Bagas hati-hati, memilih setiap kata seperti melangkah di atas pecahan kaca, "aku hanya belajar bahwa abu tidak menyembunyikan apa pun—ia hanya menarik perhatian pada apa yang dibakar."
Roderick menatapnya lama. Sangat lama. Lalu, perlahan, sudut bibirnya naik dalam sesuatu yang bukan senyuman.
"Kita lihat saja," katanya, "apakah kau cukup pintar untuk membersihkan kekacauan yang kau buat. Karena jika tidak, Valdric—aku akan membersihkanmu."
Bagas keluar dari ruang itu dengan punggung basah keringat. Alur cerita telah bergeser jauh dari yang ia tahu. Dan untuk pertama kalinya, ia menyadari bahwa musuh paling berbahaya mungkin bukan sang pahlawan yang akan datang nanti—tapi orang-orang di sekelilingnya sekarang.