Untuk membersihkan kekacauan yang ia buat, Bagas harus pergi ke sumbernya: Desa Renwick.
Secara resmi, ia melakukan perjalanan untuk "memeriksa gudang dan menertibkan wilayah"—alasan yang cukup masuk akal untuk meredakan kecurigaan ayahnya, sekaligus memberinya kesempatan menyelidiki kebocoran si saudagar Hester. Mira bersikeras ikut. Bagas tak menolak; ia mulai merasa lebih aman dengan gadis itu di dekatnya daripada dengan pengawal mana pun di istana.
Renwick ternyata berbeda dari bayangannya. Di game, desa ini hanya muncul sebagai latar yang terbakar—reruntuhan berasap dengan tangisan di mana-mana. Tapi Renwick yang nyata adalah desa hidup yang sederhana: rumah-rumah kayu beratap jerami, ladang gandum keemasan, anak-anak berlarian, asap dapur yang harum. Tempat yang dalam naskah aslinya seharusnya sudah jadi abu sebulan lalu, kini ramai oleh kehidupan yang ia selamatkan.
Bagas merasakan sesuatu menghangat di dadanya. Untuk pertama kalinya sejak terbangun di dunia ini, ia merasa bahwa keputusannya berarti. Bukan demi menyelamatkan dirinya sendiri dari pedang Aldo, tapi demi orang-orang ini yang bahkan tak tahu betapa dekatnya mereka dengan kematian.
Ia berkeliling dengan menyamar—jubah sederhana, tanpa lambang keluarga—agar bisa mengamati tanpa membuat orang ketakutan. Wajah Valdric memang tak dikenal di desa terpencil ini, sebuah keberuntungan kecil.
Di dekat sumur desa, terjadi keributan. Sekelompok pengawal upahan—jelas anak buah Hester dari pakaian mereka—sedang memeras seorang petani tua, menuntut "pajak perlindungan". Penduduk lain menonton ketakutan, tak berani campur tangan. Bagas mengepalkan tangan; jadi begini cara Hester memperluas pengaruhnya, mengisi kekosongan setelah operasi Garron berhenti.
Sebelum Bagas sempat memutuskan apa yang harus dilakukan, seorang pemuda melangkah maju dari kerumunan.
Ia bertubuh kurus tapi tegap, rambut cokelat berantakan, wajah penuh tekad polos seorang anak desa. Tangannya kapalan oleh kerja ladang, bukan oleh pedang. Tapi cara ia berdiri—di antara petani tua dan para penindas—punya keberanian yang tak bisa dipalsukan.
"Lepaskan dia," kata pemuda itu. "Dia sudah membayar bagiannya bulan lalu. Kalian tidak punya hak."
Bagas membeku. Ia mengenali wajah itu. Ia sudah melihatnya ratusan kali di poster game, di artwork resmi, di layar judul Crown of Ashes.
Aldo.
Sang pahlawan. Orang yang ditakdirkan membunuhnya. Berdiri di sana, di hadapannya, sebagai pemuda desa biasa yang bahkan belum tahu pedang suci pun ada—apalagi bahwa dirinya adalah pahlawan terpilih.
Para pengawal upahan tertawa dan mendorong Aldo hingga jatuh. Salah satu dari mereka menghunus belati. Insting Bagas bergerak lebih cepat dari pikirannya. Ini tidak ada di naskah. Jika Aldo terluka—atau lebih buruk—segala kemungkinan akan berubah lagi dengan cara yang tak bisa ia hitung.
"Cukup."
Suara Bagas, bariton dingin milik Valdric, memotong udara. Semua mata berpaling padanya. Ia melangkah maju, jubahnya tersibak, dan untuk efek dramatis ia membiarkan cincin segel keluarganya terlihat sekilas. Para pengawal upahan memucat. Mereka mungkin tak mengenal wajahnya, tapi mereka mengenal lambang Aurelheart.
"Aku tidak suka melihat orang menyalahgunakan nama tuannya untuk memeras rakyat di wilayahku," kata Bagas, suaranya tenang tapi mengandung ancaman yang ia tiru dari nada ayahnya. "Kembalilah ke Hester. Katakan, Valdric Aurelheart mengetahui apa yang dia lakukan. Dan aku tidak senang."
Para pengawal itu kabur seperti tikus. Kerumunan terdiam, menatap bangsawan misterius yang baru saja menyelamatkan mereka.
Aldo bangkit, mengusap debu dari celananya, lalu menatap Bagas dengan mata cokelat yang jernih dan penuh rasa ingin tahu. "Terima kasih, Tuan. Tapi... kenapa seorang bangsawan peduli pada desa kecil seperti kami?"
Pertanyaan itu sederhana, tapi menusuk Bagas tepat di hati. Karena dalam takdir yang ia tahu, bangsawan dari keluarga Aurelheart tidak peduli. Bangsawan itu membakar desa ini. Dan pemuda di hadapannya inilah yang kelak akan datang membalas dendam.
Bagas menatap Aldo—musuh masa depannya, algojonya yang ditakdirkan—dan merasakan sesuatu yang sama sekali tak ia duga. Bukan kebencian. Bukan ketakutan. Tapi semacam ironi pahit yang nyaris membuatnya tertawa.
"Anggap saja," jawab Bagas pelan, "aku sedang berusaha jadi orang yang berbeda dari seharusnya."
Aldo tak mengerti maksudnya, tapi ia tersenyum lebar dan polos. "Kalau begitu, Tuan adalah bangsawan terbaik yang pernah kutemui."
Dan di situlah, di tengah desa yang seharusnya sudah jadi abu, sang penjahat dan sang pahlawan saling berjabat tangan—tanpa salah satu pun benar-benar tahu betapa terbeliknya momen itu.