Perjalanan pulang dari Renwick seharusnya tenang. Ternyata tidak.
Mereka berhenti bermalam di sebuah penginapan di tepi jalan hutan, setengah hari perjalanan dari kota. Bagas tak bisa tidur, pikirannya penuh oleh wajah Aldo dan ironi pertemuan mereka. Mira tidur di kamar sebelah. Malam itu hening, hanya ada suara jangkrik dan derak kayu penginapan tua.
Lalu hening itu pecah oleh jeritan.
Bagas terlonjak bangun. Bau asap—nyata, menyengat—menyusup ke kamarnya. Penginapan terbakar. Tapi ini bukan kecelakaan. Saat ia membuka pintu, ia melihat tiga sosok bertopeng di lorong, pedang terhunus, api menjalar di belakang mereka. Mereka bukan perampok biasa. Gerakan mereka terlatih, terkoordinasi. Pembunuh bayaran.
"Mira!" Bagas berteriak, panik melonjak ke tenggorokannya.
Salah satu pembunuh berbalik ke arah suaranya dan menerjang. Bagas mundur. Tubuh Valdric memang punya otot dan refleks dasar bangsawan yang biasa berburu—cukup untuk membuatnya menyambar pedang yang tersandar di dinding kamar dan menangkis tebasan pertama secara naluriah. Tapi di situlah batas tubuh ini berakhir. Stat di panel boleh tinggi, level boleh sembilan, namun semua itu hanya potensi mentah yang tak pernah ditempa lewat latihan. Valdric yang lama menghabiskan hidupnya minum dan bermalas-malasan, bukan mengasah pedang. Benturan logam menggetarkan lengannya, dan Bagas langsung sadar tubuhnya tak tahu apa yang harus dilakukan setelah tangkisan pertama. Ini bukan animasi. Ini bukan tombol yang ia tekan dari sofa empuk. Otot lengannya benar-benar menjerit, jantungnya benar-benar memompa teror ke seluruh tubuhnya.
Mereka bertarung di lorong yang dipenuhi asap. Bagas tak punya keahlian bertarung sungguhan—pengetahuannya tentang game tak membantu mengayunkan pedang, dan angka-angka di panel statusnya sama sekali tak menerjemahkan diri jadi gerakan tangan yang terlatih. Potensi tinggi tanpa keringat latihan hanyalah janji kosong di tengah pertarungan nyata. Ia hanya bertahan, mundur, menangkis dengan canggung, sementara panas api menjilati punggungnya. Pembunuh itu lebih cepat, lebih kuat, lebih berpengalaman—seseorang yang stat-nya mungkin lebih rendah, tapi telah membayarnya lunas dengan tahun-tahun pertempuran sungguhan.
Sebuah tebasan lolos dari pertahanannya dan merobek lengan kirinya.
Rasa sakit itu—Tuhan, rasa sakit itu. Tajam, membakar, nyata sampai ke sumsum tulang. Darah hangat mengalir membasahi lengan bajunya, menetes ke lantai kayu. Bagas terhuyung, napasnya tersengal, dan untuk satu detik penuh kengerian ia hanya menatap darahnya sendiri yang merembes di antara jari-jarinya.
Ini nyata.
Selama ini, di sudut terdalam benaknya, masih ada bagian dari Bagas yang memperlakukan dunia ini seperti game. Seperti sesuatu yang punya save point, punya respawn, punya jarak aman antara dirinya dan konsekuensi. Tapi darah yang menetes dari lengannya menghancurkan ilusi itu sepenuhnya. Ia tidak menonton dari balik layar. Ia ada di dalam. Setiap pedang bisa membunuhnya. Setiap luka adalah luka sungguhan. Jika ia mati di sini, tak ada layar game over yang ramah—hanya kegelapan, seperti di koridor kos itu, kali ini selamanya.
Ketakutan itu, anehnya, menjernihkan pikirannya.
Ia berhenti mencoba bertarung seperti pendekar. Ia mulai berpikir seperti pemain yang putus asa. Lingkungan. Manfaatkan lingkungan. Di belakang pembunuh itu ada balok kayu penyangga yang sudah dijilat api, hampir runtuh. Bagas memancing, sengaja mundur ke arahnya, membiarkan pembunuh mengejar. Lalu dengan sisa tenaganya ia menendang tong minyak lampu di dekat dinding. Tong itu pecah, minyak tumpah, api melonjak—dan balok yang terbakar itu runtuh tepat di antara mereka, memisahkan Bagas dari penyerangnya dengan dinding api.
"MIRA!" Bagas berteriak lagi, menerobos asap menuju kamar gadis itu.
Ia menemukan Mira terjebak, pintunya macet oleh reruntuhan. Bagas menghantam pintu itu dengan bahunya berkali-kali, mengabaikan rasa sakit di lengannya yang terluka, sampai akhirnya pintu jebol. Mira batuk-batuk, wajahnya penuh jelaga, tapi hidup. Bagas menariknya keluar, melindunginya dengan tubuhnya saat mereka menerobos kobaran api menuju jendela, lalu melompat keluar ke tanah basah berembun.
Mereka berguling menjauh dari penginapan yang kini menjadi obor raksasa di tengah malam. Bagas terbaring di rumput, dadanya naik turun, lengannya berdenyut hebat, mata perih oleh asap. Mira merangkak ke sisinya, menekan kain ke luka di lengannya, air mata mengalir di pipinya yang kotor.
"Tuan, Tuan bertahanlah, jangan—"
"Aku tidak apa-apa," Bagas terbatuk, meski ia tidak yakin itu benar. Ia menatap langit malam berbintang asing dengan dua bulan kembar di atasnya, dan untuk pertama kalinya menangis—bukan karena luka, tapi karena beratnya kesadaran.
Dunia ini nyata. Setiap orang di sini nyata. Mira yang menangis di sisinya nyata. Aldo yang tersenyum polos di Renwick nyata. Dan dirinya—Bagas, Valdric, siapa pun ia sekarang—bisa benar-benar mati, kapan saja, oleh tangan yang bahkan tak ia kenal. Angka di panel takkan menyelamatkannya; kalau ia ingin hidup di dunia ini, ia harus benar-benar belajar bertarung, dari nol, dengan keringat dan darah.
"Siapa," bisiknya di antara napas yang tersengal, menatap api yang melahap penginapan, "yang mengirim mereka?"
Karena satu hal sudah pasti. Pembunuh bayaran itu tahu ia akan menginap di sini. Dan tak banyak orang yang tahu perjalanannya. Bahaya tidak lagi menunggunya di akhir cerita. Bahaya sudah duduk di meja makan keluarganya sendiri.