Bagas dan Mira tiba kembali di kota dua hari kemudian, lelah, terluka, dan berlapis debu jalan. Lengan Bagas dibalut dengan rapi oleh Mira, tapi denyutnya masih mengingatkannya pada satu kenyataan yang tak mungkin ia lupakan lagi: di dunia ini, ia bisa mati.
Yang membuatnya tak bisa tidur sepanjang perjalanan pulang adalah pertanyaan tentang serangan itu. Karena serangan pembunuh bayaran di penginapan hutan sama sekali tidak ada dalam Crown of Ashes. Tidak di babak mana pun. Tidak di alur cerita mana pun yang ia hafal. Game yang ia mainkan ratusan jam tak pernah menampilkan adegan ini.
Dunia telah benar-benar menyimpang dari naskah yang ia tahu. Dan kini, untuk pertama kalinya, Bagas berada di wilayah yang sepenuhnya gelap—tanpa walkthrough, tanpa panduan, tanpa cheat code. Sama butanya dengan orang lain.
Itu membuatnya takut. Tapi anehnya, juga membuatnya merasa hidup.
Penyelidikan dimulai diam-diam. Mira, dengan jaringan para pelayan yang sering diremehkan bangsawan, mengumpulkan kepingan informasi. Para pelayan mendengar segalanya—mereka tak terlihat, maka mereka melihat semua. Dalam tiga hari, sebuah pola muncul.
Pembunuh bayaran itu dibayar lewat perantara di kota bawah. Pembayarannya dalam koin emas dengan cetakan lama, jenis yang hanya beredar di kalangan keluarga bangsawan tua. Dan jadwal perjalanan Bagas ke Renwick—rute, penginapan, waktu—hanya diketahui oleh segelintir orang di dalam istana Aurelheart.
Semua tanda mengarah ke satu tempat: rumahnya sendiri.
Awalnya Bagas mencurigai ayahnya. Adipati Roderick punya motif—putranya yang membangkang, yang membuat kekacauan dengan istana, yang mungkin terlihat lebih sebagai beban daripada pewaris. Tapi sesuatu tak cocok. Jika Roderick ingin Valdric mati, ia tak perlu pembunuh bayaran dari kota bawah. Ia bisa melakukannya dengan racun di meja makan, atau "kecelakaan berburu", bersih dan tanpa jejak. Mengirim pembunuh kasar ke penginapan umum justru berisiko menyeret nama keluarga—sesuatu yang sangat dihindari Roderick.
Berarti ada orang lain. Seseorang yang ingin Valdric mati, tapi tidak punya akses sehalus Adipati.
Kecurigaan pertama Bagas, tentu saja, jatuh pada Hester. Saudagar itu punya dendam pada keluarga Aurelheart, punya jaringan di kota bawah, dan koin emas cetakan lama bisa saja mengalir lewat tangan pedagang gelap. Selama dua hari, Bagas dan Mira mengejar jejak itu dengan yakin. Mereka melacak perantara di kota bawah, menyuap seorang penadah, dan menemukan bahwa koin pembayaran memang sempat melewati salah satu gudang Hester.
Tapi jejak itu buntu—dan lebih buruk, ia menyesatkan. Saat Mira berhasil menyusup ke salah satu juru hitung Hester, kebenaran yang muncul justru membalik segalanya. Hester memang membenci Aurelheart, tapi rencananya sama sekali bukan membunuh Valdric. Ia menginginkan Valdric tetap hidup—hidup, terpojok, dan menjadi aib yang perlahan meruntuhkan nama keluarga dari dalam. Seorang Valdric yang mati sebagai korban pembunuhan justru akan membangkitkan simpati dan menutup skandal penyelundupan. Koin yang lewat gudangnya? Itu pembayaran lama untuk urusan dagang gelap yang tak ada kaitannya dengan penginapan terbakar. Seseorang sengaja memilih koin jenis itu, tahu persis bahwa jejaknya akan mengarah ke Hester dan membuat Bagas membuang waktu mengejar bayangan.
Bagas duduk berjam-jam menyusun ulang semua yang ia ketahui, dan kebuntuan itu justru menajamkan pikirannya. Petunjuk pertama palsu. Dipasang dengan sengaja. Itu berarti dalangnya bukan hanya ingin Valdric mati—ia juga cukup mengenal seluk-beluk istana dan kebencian Hester untuk menjadikan keduanya umpan. Ia membuka panel statusnya yang kini menampilkan baris baru lagi—PERINGATAN: Aktor Tak Dikenal Memasuki Garis Takdir Anda. Frasa itu membuat tengkuknya dingin. Sistem dunia ini, apa pun ia sebenarnya, terus mengingatkannya bahwa ada pemain lain di papan catur ini yang tak pernah ia perhitungkan—dan pemain itu tahu cara bermain dengan rapi.
Jawaban sejatinya baru datang beberapa malam kemudian, dari arah yang tak terduga, lewat seorang juru tulis tua bernama Fendrel yang telah mengabdi pada keluarga Aurelheart selama empat puluh tahun. Mira membawanya menghadap Bagas diam-diam. Orang tua itu gemetar, jelas ketakutan, tapi rasa bersalahnya lebih besar daripada rasa takutnya.
"Tuan Muda," kata Fendrel dengan suara serak, "saya tak bisa diam lagi. Saya melihat sesuatu yang seharusnya tidak saya lihat. Surat-surat di ruang arsip. Surat yang ditulis dengan tangan... yang seharusnya sudah lama mati."
Bagas mengernyit. "Apa maksudmu?"
"Keluarga ini," Fendrel menelan ludah, "punya rahasia, Tuan. Tentang kakak Anda. Kakak kandung Anda."
Bagas membeku. Di seluruh Crown of Ashes, dari awal sampai akhir, Valdric Aurelheart digambarkan sebagai anak tunggal. Tidak pernah ada kakak. Tidak pernah disebut, tidak pernah ditampilkan, tidak ada satu baris dialog pun yang menyinggungnya.
"Aku tidak punya kakak," kata Bagas pelan, lebih kepada dirinya sendiri.
"Itulah yang mereka ingin semua orang percaya," bisik Fendrel. "Tapi dia ada, Tuan. Dulu. Pewaris pertama keluarga ini. Lalu dia... menghilang. Disingkirkan oleh Adipati saat masih muda karena suatu alasan yang tak pernah saya ketahui. Dianggap mati. Namanya dihapus dari catatan keluarga." Mata tua itu menatap Bagas dengan ngeri. "Tapi surat-surat baru di arsip itu, Tuan... ditulis dengan tangannya. Dia masih hidup. Dan saya rasa... dialah yang ingin Anda mati. Koin lama itu, jejak yang mengarah ke Hester—semua itu terlalu rapi untuk orang yang tidak mengenal keluarga ini sampai ke tulangnya."
Ruangan terasa berputar di sekeliling Bagas. Bukan hanya karena pengkhianatan keluarga yang baru saja tersingkap. Tapi karena seluruh fondasi pengetahuannya runtuh dalam satu kalimat. Seorang kakak yang tak ada di game. Seorang aktor yang tak pernah muncul di layar mana pun. Sebuah cerita yang berjalan jauh sebelum game dimulai, di bawah permukaan naskah yang ia kira ia kuasai. Dan kebuntuan yang sempat ia alami kini masuk akal—dalangnya memang seseorang yang tahu persis cara menyembunyikan diri di balik nama orang lain.
Dunia ini bukan sekadar game yang ia hafal. Dunia ini punya sejarah, rahasia, dan kedalaman yang tak pernah sampai ke layarnya sebagai pemain. Dan di kedalaman itu, sesuatu yang tak ia ketahui telah lama menunggu.
"Siapa namanya?" tanya Bagas, suaranya nyaris berbisik.
Fendrel ragu sejenak, lalu menjawab. "Kael. Kael Aurelheart. Putra sulung yang seharusnya tidak pernah ada."