Mereka berkumpul di meja makan Menteng pukul sepuluh pagi — meja yang sama tempat sarapan Keenan, tempat mertua tertawa di dinner, tempat perang pernah disembunyikan di balik sop hangat.
Pagi itu tidak ada yang menawarkan kopi. Gelas-gelas air berdiri berbaris, dingin, tanpa embun karena belum ada yang menyentuhnya. Cahaya masuk lewat jendela besar, jatuh di permukaan marmer, memantul ke wajah orang-orang yang tidak ingin saling menatap.
Raka di ujung. Maya di sisi kanannya dengan folder tebal. Notaris keluarga di sisi kiri, pena siap. Larissa duduk jauh dari Nathan, seolah jarak fisik bisa mengoreksi sejarah. Nathan datang terakhir, jas rapi, senyum tipu yang sudah aus.
Keenan di sekolah. Itu syarat Raka. Anak itu tidak boleh melihat lapangan eksekusi.
Kursi anak itu dibiarkan kosong di sisi meja, bantalannya masih sedikit penyok bekas sarapan tadi. Asisten rumah tangga sudah dipulangkan sejak pukul sembilan. Tidak ada telinga tambahan di rumah ini pagi ini.
Raka membuka folder pertama, meletakkan bukti berlapis di marmer: chat dan foto, log unduhan, laporan forensik yayasan, foto Singapura, ringkasan klausul prenup yang sudah dijalankan. Tidak ada teriakan. Hanya kertas yang berbicara lebih keras dari siapa pun di ruangan.
Setiap berkas ia letakkan dengan jarak yang sama, seperti orang menata kartu. Bunyi kertas menyentuh marmer terdengar terlalu jelas di ruangan sebesar itu. Maya menyebut nomor lampiran dengan suara datar, tanpa satu pun kata sifat.
'Nathan,' kata Raka tenang, 'dua pintu. Pintu satu: kamu mundur dari seluruh deal Santara, tandatangani pelepasan klaim, kembalikan dana yang bisa dilacak ke pihakmu, dan bungkam soal rumah tangga saya. Pintu dua: saya kirim berkas ke otoritas terkait, ke dewan, dan ke redaksi yang sudah menunggu terlalu lama. Pilih.'
Nathan tertawa pendek. 'Kamu bluffing. Skandal cerai juga menjatuhkan sahammu.'
Raka tidak tertawa balik. Ia hanya menggeser satu lembar ke tengah meja, memutarnya agar bisa dibaca dari sisi seberang. Gerakan itu memakan waktu dua detik dan menghabiskan sisa keberanian orang di depannya.
'Saham saya sudah diuji kemarin,' sahut Raka. 'Dewan melihat log-mu. Mereka lebih takut pada pengkhianat di dalam daripada suami yang membersihkan rumah. Soft landing untukmu tinggal hari ini.'
Maya menyodorkan draf perjanjian. Nathan membaca, rahang mengeras. Ia mencoba menawar: 'Hapus nama saudara saya dari laporan.'
'Tidak,' kata Maya. 'Kami bisa menunda laporan pidana jika restitusi berjalan. Menghapus fakta bukan layanan yang kami jual.'
Lima menit. Sepuluh. Nathan menyeka dahi. Lalu ia menandatangani — kasar, cepat, seperti orang menandatangani kekalahan yang sudah ia rasakan di lidah sejak panggilan video dewan putus.
Pena notaris berpindah tangan tanpa upacara. Larissa menonton dari tempatnya, jari-jarinya saling menekan di bawah meja. Selama tanda tangan itu berlangsung, tidak ada yang menawarkan Nathan air, dan tidak ada yang berdiri mengantar.
'Kamu akan menyesal,' gumamnya ke Raka.
'Saya sudah menyesal menamai anak saya di depan orang sepertimu,' jawab Raka. 'Keluar dari rumah saya.'
Nathan berdiri, melirik Larissa. Larissa tidak menatapnya. Pintu depan menutup. Langkahnya di kerikil halaman terdengar seperti titik terakhir.
Selama beberapa detik tidak ada yang bicara. Pendingin ruangan berdesir. Di luar, suara mesin mobil menjauh, lalu hilang di ujung jalan yang teduh.
Giliran Larissa. Tangannya gemetar saat Maya menjelaskan pasal demi pasal: pisah ranjang menuju cerai terkontrol dalam jangka waktu yang disepakati; pengembalian dan pembekuan saham hadiah sesuai audit; restitusi bertahap atas dana yayasan yang terbukti lewat otorisasinya; hak asuh utama Keenan pada Raka; hak kunjungan Larissa teratur, diawasi kesepakatan, tanpa media.
Ia bertanya satu kali soal jadwal akhir pekan, suaranya nyaris tidak terdengar, dan Maya menjawab dengan menunjuk pasal yang bersangkutan. Setelah itu Larissa tidak bertanya lagi. Ia membaca sampai halaman terakhir, pelan, seperti orang yang ingin memastikan sendiri isi hukumannya.
'Saya bukan malaikat,' kata Raka padanya, suara lebih rendah. 'Keputusan dermaga dulu tetap saya anggap benar. Cara saya tidak pernah duduk dengan ayahmu sebagai keluarga — itu utang saya pada rumah ini. Tapi utang itu tidak membayar pengkhianatanmu. Kita tutup dengan pena, bukan dengan drama.'
Larissa menandatangani. Air matanya jatuh di tepi kertas; notaris menyodorkan tisu tanpa komentar. Maya menutup folder, mengecek paraf, mengangguk pada Raka.
Tanda tangannya lebih kecil dari biasanya, seolah pena kehabisan tenaga di tengah jalan. Cincin di jarinya berdenting pelan menyentuh meja saat ia meletakkan pena. Tidak ada yang berkomentar soal itu.
'Secara hukum, fase perang rumah tangga ini selesai,' kata Maya. 'Sisa pekerjaan: pemulihan reputasi dan monitoring restitusi.'
Notaris pamit. Maya tertinggal sebentar di ambang, meletakkan folder tipis di meja konsol. Labelnya rapi: *Fase dua — pemulihan reputasi*.
'Buka kalau Anda siap,' katanya. 'Jangan hari ini jika kepala masih penuh.'
Raka mengangguk. Maya pergi. Rumah kembali pada keheningan yang mahal.
Sore harinya Keenan pulang. Raka memasak nasi goreng — tidak sempurna, asin sedikit, tapi asapnya mengisi dapur yang tadi jadi ruang pengadilan. Dua piring. Dua gelas. Kursi Larissa kosong; ia sudah pindah sementara ke apartemen orang tuanya sesuai pasal pisah ranjang, dengan jadwal jemput Keenan di akhir pekan.
Minyaknya terlalu panas di awal, bawangnya sedikit gosong di pinggir. Raka mengaduk dengan tangan yang lebih terbiasa memegang pulpen rapat daripada spatula. Keenan berdiri di ambang dapur, menonton, tidak mengomentari asap yang naik terlalu tinggi.
'Mama ke mana?' tanya Keenan.
'Mama tinggal di rumah Nenek dulu,' kata Raka jujur, sederhana. 'Papa Mama sedang beres-beres janji baru. Kamu tetap punya Papa dan Mama. Cuma rumahnya agak beda.'
Keenan mengunyah, berpikir. 'Janji perang selesai?'
'Janji perang selesai,' kata Raka.
Anak itu mengangguk, menerima bahasa itu seperti menerima obat pahit yang sudah dijanjikan manjur. Mereka makan. Sendok beradu. Di dinding, foto lama masih tersenyum — artefak dari zaman sebelum flashdisk.
Setelah piring kosong, Keenan membawa gelasnya sendiri ke wastafel tanpa disuruh. Raka mencuci berdua dengan anak itu, siku bersentuhan di depan keran. Air mengalir cukup lama untuk menutupi bahwa keduanya sedang tidak tahu harus bicara apa.
Malam itu Raka tidak tidur di sofa ruang kerja. Ia tidur di kamar utama yang kosong sebelah, bukan sebagai kemenangan erotis, melainkan sebagai orang yang merebut kembali ruang tanpa merayakan tubuh. To black. Hanya napas. Hanya plafon. Hanya kesadaran bahwa kemenangan di meja makan terasa dingin di dada.
Di meja konsol, folder Maya menunggu.
Raka belum membukanya. Ia tahu isinya nanti: narasi media, timeline klarifikasi, strategi diam yang lebih panjang dari dendam. Luka belum selesai. Perusahaan belum selesai. Ayah mertua yang bangkrut dulu masih jadi bayang di sudut nurani.
Tapi untuk malam ini, di rumah Menteng yang terlalu besar, seorang ayah dan anaknya selesai makan tanpa suara bentak dari dapur.
Perang di rumah mereka, setidaknya bab ini, ditutup tanpa ledakan — dengan pena, dengan kursi kosong, dan dengan dingin yang jujur.
TAMAT