Larissa meminta bicara semalam sebelum batas yang Maya berikan untuk 'kerja sama sukarela'. Mereka duduk di ruang kerja Raka — bukan kamar tidur, bukan dapur. Tempat angka dan kontrak. Tempat yang tepat untuk pengakuan yang tidak indah.
Hanya lampu meja yang menyala. Di luar, hujan tipis menempel di kaca tanpa niat benar-benar turun. Raka tidak menawarkan minum. Larissa tidak meminta. Sepuluh tahun pernikahan menyusut jadi dua kursi dan satu meja kayu.
'Nathan punya folder tentang Papa,' kata Larissa, suara serak. 'Tentangmu.'
Raka tidak bergerak. 'Jelaskan.' Satu kata, tanpa nada. Cara yang sama ia pakai di ruang rapat untuk membuat orang menumpahkan lebih banyak daripada yang mereka rencanakan.
'Enam tahun lalu. Proyek dermaga di Jawa Tengah. Papa meminjam besar lewat perusahaan keluarganya, masuk sebagai subkontraktor di rantai yang bersinggungan dengan anak usaha Santara. Kamu memutuskan memutus kontrak induk karena temuan audit — mark-up, suap kecil di perizinan lokal. Sah. Benar. Profesional.' Larissa tertawa pahit. 'Papa bangkrut dalam empat belas bulan. Mama sakit. Rumah lama dijual. Di pemakaman bisnis itu, Nathan datang sebagai penolong. Memberi pinjaman. Memberi telinga. Memberi saya versi cerita bahwa kamu memilih angka daripada mertua.'
Raka merasa lantai bergeser. Ia ingat proyek itu. Ia ingat rapat yang panjang. Ia ingat tanda tangannya sendiri di halaman terakhir, rapi, tanpa ragu, pukul dua pagi. Ia ingat Larissa waktu itu bilang, 'Lakukan yang benar. Papa akan mengerti.' Rupanya pengertian itu tidak pernah sampai, atau tidak pernah cukup.
Enam tahun. Selama enam tahun ia tidur di sebelah perempuan yang diam-diam menghitung kerugian ayahnya, dan ia menyebut rumah tangganya stabil hanya karena tidak ada yang berteriak.
'Kamu selingkuh karena dendam,' katanya. Kalimat itu keluar datar, seperti membaca satu poin dari notulen.
'Aku selingkuh karena marah yang tidak pernah aku omongkan,' jawab Larissa. 'Nathan merawat marah itu. Lalu marah itu jadi berhutang. Lalu hutang jadi tekanan. Lalu tekanan jadi transfer yayasan — "pinjaman sementara", katanya. "Papa akan tertolong, namamu tidak akan ikut kotor". Aku percaya di bulan-bulan awal. Lalu tidak percaya, tapi sudah terlalu dalam.'
Raka menghitung di kepalanya, refleks lama: berapa bulan, berapa transfer, berapa tanda tangan yang dibutuhkan untuk sampai ke angka sebesar itu. Lalu ia berhenti menghitung. Angka tidak pernah menjelaskan kenapa istrinya memilih diam.
Raka menyandarkan punggung ke kursi. Untuk pertama kali sejak flashdisk, dinginnya retak. Bukan karena ia ingin memaafkan. Melainkan karena sebagian akar cerita ini tumbuh dari keputusannya sendiri — keputusan yang benar di papan bisnis, dan buta di papan rumah. Ia tidak pernah menganggap keduanya papan yang berbeda. Itu kesalahannya, dan tidak ada auditor yang pernah menandainya.
'Kenapa tidak bilang dulu?' tanyanya.
'Karena kamu menang di setiap argumen dengan data,' kata Larissa. 'Dan saya lelah kalah sebelum mulai.'
Raka tidak membantah. Ia bisa. Ia bahkan punya tiga contoh siap pakai tentang argumen yang ia kalah. Tapi menyodorkannya sekarang hanya akan membuktikan poin perempuan itu.
Keheningan mengisi ruangan. Di luar jendela, Menteng berkilau seperti biasa. Lampu taman tetangga, pagar tinggi, jalan yang selalu bersih. Dari luar, rumah ini masih terlihat seperti jawaban yang benar. Di dalam, dua orang dewasa melihat puing yang sama dari sudut berbeda. Pendingin ruangan berdengung. Jarum jam lewat tengah malam tanpa ada yang menoleh.
Maya mengetuk, masuk karena dipanggil Raka sebelumnya untuk mendampingi — dan berhenti di ambang saat melihat wajah bosnya. 'Saya bisa keluar.'
'Tinggal,' kata Raka. 'Saya butuh orang yang tidak ikut tenggelam.'
Maya menutup pintu di belakangnya. Bunyi daun pintu bertemu kusen terdengar kecil, dan sesudah itu ruangan terasa lebih rapat daripada sebelumnya.
Maya berdiri di dekat rak buku, tangan di belakang punggung. 'Secara hukum, motif dendam tidak menghapus penggelapan. Secara strategi, emosi Anda sekarang adalah celah. Nathan menunggu celah itu.' Kalimat Maya bukan penghiburan. Justru karena itu Raka mempekerjakannya.
Raka menatap Larissa. 'Saya tidak bilang keputusan dermaga itu salah. Saya bilang saya menyesal tidak duduk dengan ayahmu sebagai keluarga, bukan hanya sebagai CEO. Itu dua perkara berbeda.'
Ia sadar, sambil mengucapkannya, ini pertama kalinya dalam enam tahun ia menyebut kata menyesal di rumah ini.
Larissa mengangguk, air mata jatuh lagi. 'Aku tidak minta dibebaskan. Aku minta... Keenan tidak melihat saya sebagai monster sepenuhnya.'
Ia menyebut nama anaknya dengan hati-hati, seperti orang yang memegang barang pecah dan tahu tangannya sendiri sedang tidak stabil.
Sebelum Raka menjawab, pintu ruang kerja terbuka kecil. Keenan berdiri di sana, piyama, mata merah. Ia tidak seharusnya terbangun. Ia tidak seharusnya mendengar. Tapi anak sekecil itu punya telinga yang tidak mengenal jam kerja.
'Papa Mama berhenti,' bisiknya. 'Tolong berhenti.'
Raka berdiri seketika, mengangkat anak itu. Keenan menangis di bahunya — bukan tangis manja, melainkan tangis orang kecil yang kehabisan bahasa. Larissa menutup mulut dengan dua tangan, tubuh gemetar. Ia tidak berdiri. Ia tahu, kalau ia mendekat sekarang, anak itu bisa memilih menghindar — dan ia tidak sanggup melihat pilihan itu terjadi.
Raka menggoyangkan Keenan pelan, berjalan ke koridor, menjauh dari kata-kata dewasa. 'Ssh. Papa Mama sedang beres-beres masalah. Bukan salah kamu.' Punggung kecil itu naik turun di dadanya. Raka menghitung napas anaknya sampai iramanya melambat, cara paling sederhana yang pernah ia pelajari untuk menenangkan siapa pun.
'Tidak mau kalian perang,' isak Keenan.
'Perangnya segera selesai,' janji Raka — dan kali ini ia memutuskan arti janji itu. Bukan kemenangan yang berlarut. Bukan siksaan yang diperpanjang demi ego. Selesai, bersih, terkendali.
Setelah Keenan tertidur lagi, Raka kembali. Larissa masih di kursi, hancur. Maya masih di rak buku, setia pada fungsi. Tidak ada yang menanyakan Keenan. Semua orang di ruangan itu sudah tahu jawabannya.
'Besok,' kata Raka. 'Saya panggil Nathan ke sini. Notaris. Maya. Kamu. Meja makan. Saya tutup perang ini sebelum anak saya belajar bahwa rumah adalah medan tempur abadi.'
'Kamu akan menyerahkan saya ke polisi?' tanya Larissa. Suaranya sudah tidak menawar. Ia hanya ingin tahu bentuk hukumannya.
'Saya akan memberi dua pintu,' jawab Raka. 'Seperti bisnis. Mundur dengan kerugian terukur — atau dihancurkan di tempat terbuka. Nathan memilih dulu. Kamu menyusul dengan pena di tangan.'
Maya menghela napas pendek. 'Dingin diterima — asal tetap legal.'
Raka menatap foto keluarga di meja kerjanya. Senyum lama. Bingkai utuh. Isi di belakang kaca sudah retak sejak lama. Ia tidak membalik bingkai itu. Membalikkannya berarti mengakui foto itu sudah selesai, dan besok ia masih butuh percaya bahwa belum.
Ia mematikan lampu ruang kerja. Layar laptopnya menyala sebentar sebelum ikut padam, sempat memantulkan wajahnya sendiri: tenang, rapi, dan lelah yang tidak boleh ia tunjukkan besok pagi.
Di gelap itu, rasa bersalah dan balas dendam duduk berdampingan tanpa berdamai — hanya sepakat pada satu hal: Keenan tidak boleh jadi korban berikutnya.