Serangan Nathan datang lewat jalur yang Raka prediksi, hanya lebih cepat dari perkiraan.
Bukan lewat pengadilan. Bukan lewat konferensi pers. Lewat bisik-bisik, jalur paling murah dan paling sulit dilacak.
Selasa siang, grup investor di aplikasi pesan mulai ramai: rumor bahwa Raka Santara 'tidak stabil secara emosional', bahwa ada 'krisis rumah tangga yang memengaruhi keputusan ekspansi', bahwa audit mendadak di yayasan adalah 'asap penutupi masalah likuiditas pribadi'. Tidak ada nama pengirim yang berani. Hanya layar yang bergerak seperti api di rumput kering.
Raka membaca tangkapan layar itu satu per satu tanpa mengubah ekspresi. Pola kalimatnya rapi. Terlalu rapi untuk gosip yang lahir sendiri.
Harga saham anak usaha publik Santara turun 4,2 persen dalam satu jam.
Empat koma dua persen bukan angka besar. Yang penting arahnya: turun, dan turun karena cerita, bukan karena neraca.
Maya masuk tanpa mengetuk. 'Saya sudah lacak tiga akun burner yang meneruskan narasi yang sama. Bahasa uniknya mirip memo internal Nathan bulan lalu — gaya orang yang suka kata 'alignment' dan 'optics'.'
Ia meletakkan tablet di meja, layarnya masih menyala. 'Tiga akun itu dibuat di minggu yang sama. Itu bukan kebetulan, Pak.'
'Rapat darurat dewan jam empat,' kata Raka. 'Siapkan data mirror log, ringkasan audit forensik tahap satu, dan timeline akses Nathan. Saya tidak akan sebut nama istri saya di ruang itu kecuali terpaksa.'
Maya mencatat tanpa bertanya kenapa. Ia sudah cukup lama bekerja untuk Raka untuk tahu bahwa nama yang tidak disebut biasanya nama yang paling dijaga.
'Dan humas?'
'Tahan. Jangan klarifikasi rumor dengan emosi. Klarifikasi dengan angka.'
Maya keluar. Pintu menutup pelan. Raka tinggal sendiri dengan layar harga yang masih merah, dan untuk beberapa detik ia membiarkan dirinya lelah.
Di ruang dewan, udara berat. Beberapa komisaris senior sudah memakai wajah 'kami khawatir'. Nathan hadir via video call — berani, atau nekat — dengan latar kantor yang rapi, ekspresi prihatin palsu.
'Saya hanya ingin memastikan joint venture tidak terdampak isu personal,' kata Nathan di layar. 'Teman lama saya. Saya peduli.'
Ada dua tiga kepala yang mengangguk. Nathan selalu pandai memilih kalimat yang terdengar seperti pembelaan padahal isinya tuduhan.
Raka tersenyum tipis. 'Terima kasih kepeduliannya. Karena itu saya akan tampilkan sesuatu yang lebih relevan dari rumor: jejak unduhan file harga pemasok dari akun mitra, pada pukul 01.14 dini hari, tiga hari setelah akses diperluas. File itu belum beredar ke publik — kami cegah. Tapi niat membacanya di luar jadwal kerja, berulang, sudah cukup untuk meninjau ulang kemitraan.'
Raka hanya memberi kode pada Maya, dan Maya menekan satu tombol.
Layar menampilkan log. Waktu. Hash file. IP. Senyap di ruangan itu berubah jenis: dari ragu pada Raka menjadi ragu pada Nathan.
Tidak ada yang menyentuh gelas. Tidak ada yang membuka ponsel.
Seorang komisaris batuk. 'Ini tuduhan serius.'
'Ini data,' sahut Maya. 'Tuduhan baru lahir jika Anda memilih menutup mata.'
Komisaris itu tidak batuk lagi.
Nathan di layar memucat, lalu tersenyum dipaksakan. 'Log bisa dimanipulasi.'
'Bisa,' kata Raka. 'Oleh orang yang punya akses admin penuh. Anda tidak punya. Saya punya — dan saya tidak bunuh diri di depan dewan dengan memalsukan bukti yang bisa diverifikasi firma eksternal. Audit forensik yayasan juga menemukan aliran ke vendor terkait saudara ipar Anda. Laporan awal sudah saya bagikan ke ketua dewan.'
Kalimat itu jatuh rata, tanpa kemenangan di dalamnya. Justru itu yang membuatnya sulit dibantah.
Panggilan video terputus dari sisi Nathan — 'masalah jaringan', katanya sebelum hitam. Tidak ada yang percaya.
Saham berhenti jatuh sebelum penutupan. Belum naik drastis, tapi pendarahan tertahan. Raka keluar dari ruang dewan dengan kemeja yang sama, keringat dingin di punggung yang tidak ia tunjukkan.
Di lift ia melonggarkan dasinya satu senti. Hanya satu senti. Di gedung ini bahkan kelelahan pun punya batas yang boleh terlihat.
Malam itu Larissa menunggu di ruang keluarga, tanpa makeup, mata bengkak. Keenan sudah tidur.
Televisi menyala tanpa suara. Di meja ada dua cangkir, satu sudah dingin, satu belum disentuh. Rumah itu wangi seperti biasa, dan justru keteraturannya yang terasa paling palsu.
'Aku mau cerai diam-diam,' katanya tanpa basa-basi. 'Bagi harta. Joint custody. Tidak ada media. Nathan aku tinggalkan. Tolong.'
Raka duduk di sofa seberang, jarak satu meja kopi. 'Tidak.'
Larissa terkesiap. 'Kamu ingin saya hancur?'
Suaranya pecah di kata terakhir. Raka menunggu sampai ruangan diam lagi sebelum menjawab.
'Saya ingin pengakuan tertulis tentang penggelapan yayasan — peranmu, peran Nathan, timeline. Dan saya ingin Nathan keluar dari semua deal Santara tanpa hak klaim. Cerai bisa menyusul setelah itu, terkontrol, dengan Keenan utama di sini. Bukan tawar menawar di tengah api.'
'Itu pemerasan.'
Larissa menekan bantal sofa dengan kedua tangan sampai jari-jarinya tenggelam di dalamnya.
'Itu konsekuensi,' kata Raka. 'Kamu menawarkan damai tanpa menyerahkan senjata. Saya bukan orang bodoh di film yang langsung menangis bahagia karena istri bilang maaf.'
Larissa berdiri, mondar-mandir. 'Nathan ancam buka cerita suami tiran. Dia bisa—'
'Biarkan dia coba,' potong Raka. 'Hari ini dia sudah kalah di dewan. Besok dia lebih lapar, lebih ceroboh. Saya lebih suka lawan yang lapar di luar rumah daripada di dalam ranjang saya.'
Kata 'ranjang' jatuh tanpa adegan — hanya batas yang sudah lama retak.
Di luar jendela, lampu taman menyala sendiri sesuai jadwal, memotong ruang keluarga jadi dua bidang: yang terang dan yang tidak.
Larissa berhenti. 'Kamu benar-benar tidak mencintai saya lagi.'
Raka memandanginya lama. Ada gema sepuluh tahun di sana: pelaminan, malam Keenan lahir, tawa di dapur. Lalu flashdisk. Lalu Singapura. Lalu uang yayasan.
'Cinta yang saya punya sekarang,' katanya pelan, 'bentuknya menjaga anak kita dari kalian berdua. Kalau itu tidak cukup romantis, saya tidak meminta maaf.'
Jam dinding di ruang keluarga terdengar jelas sekali malam itu. Detiknya mengisi jarak satu meja kopi yang memisahkan mereka berdua.
Larissa menangis lagi — bukan untuk mengundang belas, melainkan karena pintu negosiasi yang ia bayangkan tertutup. Di luar rumah, Nathan adalah musuh. Di dalam rumah, suami yang tidak pergi adalah musuh yang lebih tenang.
Dan di antara keduanya, ia sendiri tidak punya tentara.