Senin pagi, notifikasi bank investasi Larissa berbunyi seperti alarm kebakaran yang sopan: *Status kepemilikan saham hadiah pernikahan — dibatasi sementara sesuai klausul 7.2 perjanjian pra-nikah.*
Notifikasi kedua masuk delapan detik kemudian, dari bank yang berbeda, dengan kalimat yang hampir sama persis. Lalu email sekretaris trust keluarga, subjeknya rapi tanpa emosi: *Konfirmasi penerimaan pemberitahuan pembatasan.*
Sistem tidak pernah marah. Sistem hanya menutup pintu satu per satu, dan mencatat jamnya.
Larissa membaca tiga kali. Klausul itu ia tanda tangani sepuluh tahun lalu di ruang notaris, tangan masih berbunga-bunga, kepala penuh gaun pengantin. Ia tidak pernah benar-benar membacanya. Raka membacanya. Tentu saja Raka membacanya.
Ia ingat ruang notaris itu terlalu dingin dan pena yang disodorkan terlalu berat. Ia ingat pendingin ruangan yang berdengung dan tumpukan map biru di sudut meja. Ia tidak ingat satu pun kalimat di halaman sebelas.
Klausul 7.2: pembatasan hak voting dan transfer atas saham hadiah jika terdapat dugaan pelanggaran fiduciary terhadap aset keluarga atau yayasan terkait, menunggu hasil audit independen.
Dugaan. Audit. Kata-kata yang tidak berteriak, tapi mengunci.
Larissa membaca klausul itu sekali lagi, pelan, kata per kata, seperti murid yang ketinggalan pelajaran. *Dugaan.* Bukan tuduhan. Cukup untuk mengunci, terlalu sedikit untuk dibantah. Ia meletakkan ponselnya telungkup di meja, lalu membaliknya lagi tiga detik kemudian. Kalimat di layar tidak berubah.
Larissa pulang siang, membatalkan dua janji spa, dan menunggu Raka di dapur dengan dokumen cetak di tangan. Keenan masih di sekolah. Rumah terlalu sunyi untuk menahan ledakan.
Marmer dapur dingin di bawah telapak tangannya. Kulkas berdengung. Di rak, gelas-gelas berdiri rapi seperti barisan yang tidak tahu apa-apa. Larissa menyusun ulang dokumen itu tiga kali, mengurutkan halamannya, seolah urutan yang benar bisa mengubah isinya.
'Sebutkan ini bukan perang,' katanya saat Raka masuk, masih membawa tas kerja. 'Sebutkan.'
Raka melepas jam tangan, meletakkannya di meja marmer. 'Ini prosedur. Bukan perang.'
Jam itu diletakkan menghadap ke atas, sisinya sejajar betul dengan tepi meja. Raka selalu begitu, bahkan sekarang. Entah itu ejekan, entah itu disiplin. Belakangan Larissa tidak bisa lagi membedakan keduanya.
'Jangan main kata denganku!' Suara Larissa naik. 'Kamu mengunci saham saya. Kamu mengunci rekening. Kamu menyuruh saya pulang dari Singapura seperti anak kecil. Kamu—kau tahu sesuatu, dan kau menyiksa saya pelan-pelan.'
Raka membuka lemari, mengambil gelas, mengisi air. Tenangnya membuat Larissa makin panas. 'Saya tahu cukup. Saya menyiksa lebih sedikit dari yang saya bisa.'
Larissa mendengar suaranya sendiri masih menggantung di dapur, terlalu tinggi, terlalu telanjang. Ia sudah menyusun kalimat-kalimat itu sepanjang jalan pulang, di lampu merah, di lift parkir, dan tidak satu pun keluar seperti yang ia latih.
Larissa melempar dokumen ke dadanya. Kertas jatuh berserakan di lantai. 'Aku istri kamu. Bukan musuh di board!'
Satu lembar berhenti di dekat kakinya, halaman dengan angka yang dilingkari merah. Raka tidak memungutnya. Ia hanya melihat ke arah kertas itu, seperti orang melihat bukti yang sudah ia hafal nomor barisnya.
'Istri saya tidak mentransfer dana yayasan ke vendor fiktif milik keluarga selingkuhannya,' kata Raka datar. 'Istri saya tidak duduk di Marina Bay membicarakan valuasi anak usaha seolah suami mereka sudah mayat bisnis.'
Darah Larissa turun dari wajah. 'Kamu... menyuruh orang mengawasi saya.'
Suaranya keluar setengah. Bukan tuduhan, lebih seperti orang yang baru sadar rumahnya punya jendela yang selama ini terbuka.
'Saya menyuruh orang mengaudit. Publik. Legal. Beda.'
Ia mengambil satu foto dari saku dalam jas — bukan transfer kali ini. Foto restoran Singapura: Larissa dan Nathan, gelas terangkat, wajah terlalu dekat. Ia letakkan di meja dapur, tepat di samping pisau roti.
Kertas foto itu dingin dan licin. Di sudut kanan bawah tercetak tanggal dan jam, 21.47, seperti berkas yang memang disiapkan untuk dibaca orang lain, bukan untuk diperlihatkan kepada istri.
'Ini yang kedua,' kata Raka. 'Yang pertama minggu lalu. Saya punya yang ketiga sampai yang kesepuluh di brankas legal. Saya tidak menggugat hari ini. Keenan masih demam kemarin. Sekolahnya masih aman dari gosip. Tapi mulai detik ini, setiap langkahmu ke Nathan adalah langkahmu ke laporan otoritas dan ke meja redaksi yang sudah saya tahan.'
Nama Keenan disebut di tengah kalimat itu, diselipkan di antara brankas legal dan meja redaksi. Larissa ingin protes soal urutan itu. Ia tidak sempat, dan ia tahu ia tidak punya tempat berdiri untuk protes.
Larissa gemetar. 'Kamu kejam.'
'Saya akurat.' Raka menatapnya. 'Pilih: potong hubungan dengan Nathan total, kerja sama dalam audit, kembalikan yang bisa dikembalikan — atau lanjutkan, dan saya buka semuanya tanpa sisakan nama baikmu.'
Larissa mencari celah di kalimat itu, kebiasaan lama dari ruang rapat: temukan kata yang bisa ditafsir dua arah, lalu masuk lewat situ. Tidak ada. Kalimatnya disusun orang yang sudah tahu akan dicari celahnya.
'Itu bukan pilihan. Itu ancaman.'
'Di rumah ini, itu bahasa yang sama dengan yang kalian pakai saat membicarakan buyout di belakang saya.'
Kata 'kalian' menggantung di udara dapur lebih lama daripada kalimatnya.
Larissa terduduk di kursi dapur. Air matanya jatuh tanpa suara film. 'Aku bisa jelaskan—'
Kursi itu kursi yang biasa diduduki Keenan waktu sarapan. Larissa baru sadar setelah ia duduk, dan tetap tidak berdiri.
'Nanti,' potong Raka. 'Sekarang saya jemput Keenan. Jangan telepon Nathan dari rumah. Kalau dia menelepon, biarkan berdering.'
Ia pergi. Pintu garasi turun.
Suara mesin mobil menjauh, lalu hilang di ujung jalan kompleks. Rumah kembali diam, dan diamnya terasa seperti ruang tunggu.
Sepuluh menit kemudian ponsel Larissa menyala — Nathan. Ia menolak dua kali. Di kali ketiga, karena takut Nathan datang ke rumah, ia mengangkat.
Nada deringnya terdengar terlalu keras di dapur yang kosong. Larissa menatap nama di layar itu seperti menatap sesuatu yang bisa menggigit.
'Sahammu dikunci, kan?' langsung Nathan. 'Dia bergerak. Kalau kau mundur sekarang, aku yang buka skandal duluan. Saya punya cerita: CEO Santara menekan istri, memanipulasi prenup, menyalahgunakan audit. Pasar lebih suka narasi suami tiran daripada istri yang tersesat.'
Di seberang telepon terdengar sendok beradu dengan cangkir, dan suara ruangan yang ramai. Larissa menempelkan punggungnya ke lemari dapur yang dingin.
'Kamu akan menghancurkan Keenan,' bisik Larissa.
'Saya akan menghancurkan Raka. Kau pilih di sisi mana.'
Larissa mematikan ponsel. Di dapur yang sama tempat mereka pernah memasak bersama di tahun-tahun awal, dua ultimatum duduk di meja: milik suami, dan milik selingkuhan.
Layar padam. Wajahnya sendiri memantul di kaca hitam itu, dan ia tidak suka apa yang ia lihat.
Ia memandang foto Singapura sampai sudutnya basah.
Di foto itu ia sedang tertawa. Larissa berusaha mengingat apa yang lucu malam itu, dan tidak berhasil.
Untuk pertama kali, Larissa mengerti bahwa perselingkuhan bukan pintu keluar.
Ia adalah ruangan tanpa jendela — dan kedua pria di luar sana sedang memegang kunci yang berbeda.