Nathan mengusulkan 'rapat investor' di Singapura dengan nada seolah itu ide paling masuk akal di dunia. Larissa menyampaikannya ke Raka di pagi hari, suara hati-hati — sejak foto transfer di meja dapur, setiap kalimatnya seperti orang berjalan di atas kaca.
Raka mencatat itu tanpa mengangkat kepala. Orang yang tidak menyembunyikan apa pun tidak menimbang berat setiap kata sebelum melepasnya.
'Nathan bilang ada dana family office dari Eropa yang hanya mau ketemu di Marina Bay,' katanya. 'Dua malam. Aku... boleh ikut? Sebagai wajah yayasan.'
Raka menyeduh kopi, tidak menatapnya terlalu lama. 'Boleh. Saya bahkan yang pesan suite.'
Larissa terkejut. 'Kamu tidak marah?'
'Saya marah pada angka yang bocor, bukan pada penerbangan,' jawab Raka. 'Pergi. Bawa gaun yang bagus. Keenan saya urus.'
Larissa berdiri terlalu cepat, seperti takut kalimat itu ditarik kembali. Cangkirnya tertinggal setengah penuh di meja. Raka mendengar langkah kakinya naik tangga: ringan, lega. Lega adalah hal pertama yang salah pagi itu.
Ia memesan dua kamar di hotel yang sama — satu atas nama Nathan, satu atas nama Larissa — lewat sekretaris, transparan, tercatat. Di permukaan: suami yang mendukung istri berbisnis. Di bawah permukaan: jejak yang tidak bisa dibantah di kemudian hari.
Tagihan atas nama perusahaan. Nomor kamar tercatat di sistem hotel. Siapa pun yang kelak membuka berkas itu akan melihat suami yang membiayai, bukan suami yang mencurigai. Raka sudah lama berhenti percaya pada bukti yang tidak punya tanggal.
Setelah pesawat mereka lepas landas, Maya masuk ke ruang Raka dengan dua auditor forensik dari firma independen. Tidak ada penyadapan gelap. Tidak ada drama agen murahan. Yang ada: surat kuasa audit yayasan, mirror log akses Nathan yang sudah menggemuk, dan permintaan legal kepada hotel untuk mengamankan CCTV area publik jika kelak diperlukan sebagai bukti perdata.
Maya meletakkan map-map itu satu per satu, rapi, seperti membagi kartu. Kedua auditor duduk tanpa banyak bicara. Di ruangan itu tidak ada yang menyebut kata perselingkuhan; semuanya berbicara dalam kosakata angka.
'Foto di restoran cukup,' kata Maya. 'Publik. Tanpa masuk kamar. Kita tidak bermain kotor.'
'Dan wartawan?' tanya Raka.
'Masih saya tahan. Satu orang di desk bisnis yang biasanya agresif. Saya kasih embargo informal: kalau dia rilis sekarang tanpa konfirmasi lengkap, dia kehilangan scoop yang lebih besar minggu depan. Dia setuju menunggu.'
Raka mengangguk. 'Bagus sampai saya bilang lepas.'
Maya menutup mapnya. Ia sudah cukup lama bekerja untuk Raka dan tahu kalimat itu bukan basa-basi. Yang ditahan hari ini akan dilepas persis pada hari yang paling merugikan orang lain.
Di Singapura, malam pertama, Nathan memesan meja di restoran dengan dinding kaca menghadap teluk. Larissa mengenakan gaun hitam yang Raka pernah belikan di anniversary keenam. Ironi itu tidak lolos dari kamera jarak jauh auditor: dua sosok terlalu akrab untuk mitra bisnis, terlalu santai untuk orang yang takut ketahuan.
Hanya dua orang dewasa yang lupa bahwa dinding kaca bekerja dua arah.
Nathan mengangkat gelas. 'Besok kita closing. Begitu valuasi anak usaha logistik digeser, blok sahammu jadi kunci. Raka akan sibuk memadamkan api di dewan, dan kita—'
'Jangan sebut nama anak saya di meja ini,' potong Larissa pelan.
Nathan tertawa. 'Sentimentil. Baiklah. Kita bicara uang saja.'
Larissa memutar gelasnya tanpa minum. Ada bagian dari dirinya yang baru saja sadar bahwa di mulut Nathan, anaknya berbunyi seperti variabel, bukan seperti anak. Ia menyimpan kesadaran itu, dan tidak melakukan apa-apa dengannya.
Di Jakarta, pukul sembilan malam, Keenan memang demam — bukan tipuan. Suhu 38,2. Pengasuh menelepon Raka dari rumah. Raka menyeka kening anaknya dengan kompres, memberi obat sesuai dosis dokter keluarga, lalu duduk di tepi ranjang sampai Keenan tertidur dengan napas berat.
Lampu tidur menyala kuning di sudut kamar. Raka menghitung jeda napas anaknya, satu-satu, sampai ritmenya melonggar. Untuk beberapa menit itu ia bukan siapa-siapa selain seorang ayah yang capek.
Baru setelah itu ia menekan nomor Larissa.
Tiga dering. Larissa mengangkat dengan suara yang terlalu cerah untuk zona waktu dan konteks. 'Sayang? Kami baru selesai dinner investor—'
'Pulanglah,' kata Raka lembut. Hampir sayang. 'Keenan demam. Saya tidak minta kamu panik di depan orang. Saya minta kamu ada di rumah sebelum siang.'
Keheningan. Di latar, samar suara Nathan: 'Siapa?'
'Aku... aku di tengah—'
'Suite sudah saya perpanjang sampai pagi jika kamu butuh tidur. Tiket pagi pertama sudah saya kirim ke email. Pilih.'
Larissa memilih pulang. Ia selalu memilih Keenan ketika dipaksa ke sudut — dan Raka tahu itu. Itu bukan kelemahan rencana; itu tuas.
Nathan menyusulnya ke lift hotel dengan wajah yang retak. 'Kamu bohong soal demam.'
'Atau kamu yang tidak punya anak,' tuding Larissa, suara bergetar. 'Buyout bisa ditunda sehari. Keenan tidak.'
'Setiap hari penundaan, Raka makin menutup celah,' desis Nathan. 'Kamu mulai takut padanya.'
Larissa tidak menjawab. Di pesawat kembali, ia menatap awan dan menyadari sesuatu yang lebih mengerikan daripada demam anak: suaminya tidak menelepon dengan marah. Ia menelepon dengan kendali. Orang yang marah masih bisa diajak tawar. Orang yang terkendali sedang bermain permainan yang lebih panjang.
Ia mencoba mengingat kapan terakhir kali suaminya meninggikan suara, dan tidak berhasil. Sabuk pengaman terasa terlalu ketat di pangkuannya. Di bawah sana, teluk yang semalam berkilau sudah berganti jadi hamparan awan yang rata.
Siang hari Larissa tiba di Menteng. Keenan memang hangat, pipinya merah, tapi sudah bermain puzzle di tempat tidur. Raka menyambut di pintu dengan wajah suami yang lelah dan peduli.
'Suhu sudah turun,' katanya. 'Dokter bilang virus ringan. Terima kasih sudah pulang.'
Larissa mencari tipu daya di matanya, dan tidak menemukan yang bisa digenggam. Itu yang paling menakutkan.
Raka mengambil koper dari tangannya seperti biasa. Menanyakan penerbangan seperti biasa. Setiap gerakan berada persis di tempat yang seharusnya, dan justru kerapian itu yang membuat Larissa ingin berteriak.
Di ponselnya, pesan Nathan menumpuk: *Kita lanjut malam ini via call. Jangan cium tangan dia.*
Larissa menghapus notifikasi tanpa membalas — lalu, karena takut, membalas singkat: *Nanti.*
Raka melihat gerakan jempol itu dari cermin di ruang tamu. Ia tidak menyita ponsel. Belum.
Menyita berarti memberi tahu. Membiarkan berarti mengumpulkan. Setiap pesan yang Nathan kirim malam ini menambah satu baris di berkas yang Larissa tidak tahu keberadaannya. Raka membiarkan cermin itu memantulkan apa yang perlu ia lihat, lalu berpaling seolah tidak melihat apa-apa.
Ia hanya masuk ke ruang kerja, menelepon Maya, dan berkata, 'Foto restoran Singapura masukkan ke berkas. Wartawan tetap ditahan. Nathan sudah marah — biarkan marahnya bekerja untuk kita.'
Di kamar atas, Keenan memanggil, 'Papa, Mama pulang.'
'Ya,' jawab Raka dari bawah. 'Mama pulang.'
Kalimat itu benar secara geografis.
Secara perang, Larissa baru saja kehilangan satu langkah tanpa sadar ia dikalahkan.