Maya datang ke ruang CEO tanpa janji resmi, hanya pesan singkat: *Saya punya lapisan kedua. Bukan hanya ranjang.*
Pesan itu masuk pukul sembilan lewat empat menit, saat Raka masih membaca ringkasan produksi. Maya tidak pernah mengirim kalimat yang lebih panjang dari yang dibutuhkan, dan tidak pernah memakai tanda seru. Justru itu yang membuat kalimat itu terasa berat.
Raka menyuruh asisten menunda panggilan London. Pintu dikunci. Maya membuka laptop, layar menghadap ke meja kaca. Ia menurunkan tirai vertikal di sisi timur lebih dulu, tanpa diminta — kebiasaan orang yang terbiasa bekerja di ruangan berdinding kaca.
'Yayasan Santara Peduli,' katanya tanpa dramatisi. 'Dalam delapan bulan terakhir, ada transfer berkala ke vendor event yang tidak pernah benar-benar mengadakan event. Vendor itu milik PT bayangan. Beneficial owner-nya berujung ke saudara ipar Nathan Kenzie — lewat dua lapisan nominee.'
Angkanya rapi. Itu yang paling mengganggu. Tidak ada satu pun nominal yang cukup besar untuk memicu pertanyaan bendahara: puluhan juta, di tanggal yang berbeda-beda, dengan keterangan yang selalu masuk akal. Orang yang menyusunnya tahu persis di mana batas perhatian seorang auditor internal berhenti.
Raka memandang angka-angka itu sampai matanya perih. Perselingkuhan menyakitkan. Mencuri dari yayasan yang memakai nama keluarganya — dan sering dibawa Larissa ke panggung amal — adalah penghinaan lain. Ia ingat brosur yayasan itu, foto anak-anak di halaman depan, dan kalimat yang dibacakan Larissa di setiap gala: bahwa uang ini tidak pernah berhenti di meja siapa pun.
'Larissa tahu?' tanyanya.
'Masih kami petakan. Tanda tangan otorisasi beberapa transfer ada namanya. Beberapa hanya inisial staf yang melapor kepadanya. Cukup untuk dugaan keterlibatan; belum cukup untuk vonis publik tanpa audit forensik penuh.'
Ia menahan diri untuk tidak bertanya lebih jauh. Ada pertanyaan yang jawabannya lebih baik datang dari dokumen daripada dari mulut orang lain — karena dokumen tidak bisa ia tuduh berlebihan.
'Lakukan audit forensik. Vendor independen. Saya bayar dari kantong pribadi jika perlu, asal tidak bisa dituduh konflik kepentingan murahan.'
Maya mengangguk. 'Dan Nathan? Akses yang Anda berikan sudah membuahkan hasil. Dia mengunduh file harga pemasok. Belum diedarkan — masih di perangkat yang kami mirror.'
'Biarkan dia merasa menang,' kata Raka pelan. 'Orang yang merasa menang ceroboh.'
Maya mencatat satu baris di buku kecilnya, dengan pena, bukan di ponsel. Ia pernah bilang alasannya sekali: catatan kertas tidak pernah tersinkronisasi ke mana-mana.
Maya menutup laptop. Sebelum keluar, ia berhenti. 'Pak Raka. Saya wajib bilang: strategi ini sah selama kita di jalur bukti dan kontrak. Kalau Anda mulai bergerak di luar itu — emosional, ilegal — saya mundur.'
'Saya tidak bayar Anda untuk ikut marah,' jawab Raka. 'Saya bayar Anda untuk menjaga saya tetap dingin.'
Maya hampir tersenyum. 'Baik. Dingin diterima.'
Pintu tertutup. Raka duduk sendirian beberapa menit sebelum menyuruh asisten menyambungkan kembali panggilan London, dan berbicara tentang kuota pengiriman kuartal depan dengan suara yang tidak berubah satu nada pun. Di layar kecil di sudut ruangan, harga saham Santara Holding naik tiga poin sepanjang pagi itu. Tidak ada satu pun orang di gedung itu yang tahu bahwa pemiliknya sedang menghitung angka yang lain.
Malam Jumat, Raka mengadakan dinner keluarga di rumah. Mertuanya datang — ayah dan ibu Larissa — membawa kue dan pertanyaan tentang cucu. Keenan diberi izin ikut sampai jam delapan, duduk di antara neneknya dan piring yang tidak ia habiskan, bercerita tentang gambar yang dibuatnya di sekolah sampai semua orang tertawa. Ibu Larissa bertanya dua kali kapan anak itu akan punya adik, dan dua kali Larissa menjawab dengan tawa yang datang sedikit terlalu cepat. Larissa bercahaya di peran anak sempurna. Raka menuangkan wine, menyuapkan cerita tentang wawancara power couple, memuji istrinya di depan orang tuanya.
'Larissa menjaga nama baik keluarga ini lebih baik dari saya menjaga saham,' katanya, mengangkat gelas. 'Tanpa dia, yayasan tidak akan dipercaya donor.'
Larissa tersipu, mata berkilau. Ayahnya menepuk bahu Raka. 'Menantu yang tahu berterima kasih. Langka.'
Di bawah meja, jari kaki Raka menekan lantai marmer sampai sendi terasa. Pujian itu adalah umpan. Ia ingin Larissa tenang. Orang yang tenang tidak buru-buru menghancurkan bukti. Ia menghitung tanpa sadar: berapa kali kata 'yayasan' disebut di meja itu malam ini, dan berapa kali istrinya menoleh ke arah ponselnya yang tertelungkup di dekat gelas.
Setelah mertua pulang dan Keenan tidur, Larissa menghampiri Raka di dapur dengan wajah lembut. 'Terima kasih sudah bilang itu di depan Papa. Akhir-akhir ini aku merasa kamu... jauh.'
'Saya sedang membersihkan beberapa kotoran di perusahaan,' kata Raka, mencuci gelas. 'Kalau selesai, rumah ini akan lebih tenang.'
Air keran mengalir terlalu keras di dapur yang sudah sunyi. Ia tidak mengecilkannya.
'Kotoran apa?'
Dia menatap Larissa. Satu detik terlalu lama. 'Yang pura-pura jadi mitra.'
Larissa menelan. 'Nathan?'
'Antara lain.'
Ia mengeringkan tangan, lalu dari saku jas yang masih di kursi, mengeluarkan selembar foto — bukan foto mesra, melainkan tangkapan layar transfer yayasan ke rekening vendor, dengan highlight kuning di kolom keterangan. Ia letakkan di meja dapur, jauh dari jangkauan mata anak. Kertasnya dicetak di rumah, di printer ruang kerjanya, supaya tidak ada satu pun staf kantor yang pernah melihatnya. Kertas itu sudah ada di saku jas sejak sore — sepanjang makan malam tadi ia tergeletak dua meter dari kursi mertuanya, dan tidak ada yang tahu.
'Ini belum saya tunjukkan ke siapa-siapa kecuali legal,' kata Raka tenang. 'Saya bisa membuatnya hilang dari hidup kita — atau menjadi berita utama. Pilihannya belum saya tutup.'
Larissa memegang tepi meja. 'Raka—'
'Tidur di kamar utama malam ini, jika mau,' potongnya. 'Saya tetap di sofa. Jangan telepon Nathan dari rumah. Jangan hapus apa pun. Setiap hapusan akan saya anggap pengakuan.'
Larissa gemetar. 'Kamu sudah lama tahu.'
'Cukup lama untuk tidak bertindak bodoh,' kata Raka. 'Mulai sekarang, kau tidak bermain di papan bebas. Kau bermain di papan yang saya buat.'
Ia naik ke ruang kerja, meninggalkan foto itu di meja dapur seperti kartu yang sudah dibuka di permainan yang belum selesai. Di hard disknya, folder bukti bertambah satu subfolder baru: *Yayasan*.
Di meja makan yang tadi penuh tawa mertua, dua kursi masih bergeser — bekas Keenan dan neneknya. Raka menatap ruang itu dari atas tangga dan memahami ironi perang rumah tangganya: semakin sempurna wajah luarnya, semakin dalam ia bisa menusuk tanpa membuat dinding runtuh terlalu cepat.
Nathan masih mengira akses data adalah kemenangan.
Larissa masih mengira satu foto adalah seluruh peluru Raka.
Mereka salah berdua.
Dan di sofa ruang kerja, CEO Santara Holding menutup mata dengan tenang seorang pria yang baru saja memindahkan perang ke babak berikutnya — tanpa sempat, tanpa seks, tanpa ledakan. Hanya strategi. Hanya dingin. Hanya rumah yang sama, yang perlahan berhenti menjadi milik pengkhianat.