Keenan mengetuk pintu ruang kerja Raka pukul sembilan malam, masih berpiyama, rambut ikal berantakan. Raka menutup laptop sebelum anak itu sempat melihat grafik yang bukan untuk mata kecil.
'Papa tidur di sini lagi,' kata Keenan, bukan bertanya.
Raka mengangkatnya ke sofa, membiarkan kepala anak itu bersandar di bahunya. Anaknya berbau sabun dan sedikit pasta gigi. Berat tubuhnya bertambah lagi sejak terakhir kali Raka menggendongnya seperti ini — dan Raka sempat berpikir, dengan cara berpikir yang tidak pernah bisa dimatikannya, berapa banyak malam seperti ini yang tersisa sebelum anak itu terlalu besar untuk sofa yang sama. 'Sofa ini nyaman. Kadang Papa harus kerja sampai larut, biar tidak ganggu Mama.'
Keenan diam sebentar. Jarinya memainkan kancing kemeja ayahnya, memutar-mutarnya, cara anak itu menunda kalimat yang sudah disiapkannya sejak di kamar. 'Teman saya bilang, kalau orang tua tidur beda kamar, mereka mau cerai.'
Kalimat itu menusuk lebih dalam daripada chat Larissa–Nathan. Raka menarik napas pelan. 'Temanmu terlalu banyak nonton sinetron. Papa Mama sedang sibuk. Itu saja.'
'Janji tidak cerai?'
Raka menatap mata anaknya. Ia tidak bisa berjanji pada kebohongan absolut. Ia bisa berjanji pada perlindungan. Di ruang rapat, ia terbiasa menolak menandatangani apa pun yang tidak bisa ia jamin. Aturan itu tidak berubah hanya karena yang meminta tanda tangan kali ini setinggi pinggangnya. 'Janji: apa pun yang terjadi antara Papa dan Mama, kamu tidak akan jadi bahan omongan orang. Papa jaga itu. Dengan hidup Papa.'
Keenan mengangguk, puas dengan bahasa orang dewasa yang disederhanakan. Raka mengantarnya kembali ke kamar, membacakan dua halaman buku tentang pesawat, menunggu napasnya rata. Halaman yang sama dengan tiga malam lalu; anak itu belum pernah membiarkannya lewat dari bab pendaratan. Di ambang pintu, ia berdiri lebih lama dari biasanya — menghafal damai yang masih ada.
Di koridor, Larissa menunggu dengan gaun tidur sutra, rambut terurai. Parfumnya samar. Senyumnya mengajak. Lampu koridor sengaja diredupkan; istrinya tidak pernah melakukan apa pun tanpa penataan. Dulu Raka menyukai itu. Sekarang ia hanya membacanya seperti membaca slide presentasi yang disiapkan terlalu rapi.
'Keenan sudah tidur?' tanyanya.
'Sudah.'
Larissa melangkah mendekat, jari-jari menyentuh dasi yang masih di leher Raka, menariknya pelan ke arah kamar utama. 'Kamu sudah seminggu di sofa. Orang bilang suami istri butuh... dekat. Biar rumah tidak dingin.'
Raka menahan pergelangan tangannya — lembut, tegas. Tidak ada sentakan. Sentakan akan menjadi cerita; genggaman yang tenang tidak akan pernah bisa diceritakan ulang sebagai kekasaran. 'Tidak malam ini.'
Larissa memandanginya, terluka yang dipoles jadi godaan. 'Kamu tidak mau saya?'
'Saya mau kejelasan,' kata Raka. 'Dan tidur. Besok board call pagi.'
Ia melepas genggamannya, berbalik ke ruang kerja. Di belakangnya, napas Larissa berubah — dari rayuan ke curiga. Pintu kamar utama tertutup lebih keras dari biasanya.
To black. Tidak ada yang terjadi di balik pintu itu malam itu, selain jarak yang makin jujur.
Larissa tidak langsung tidur. Raka mendengar langkahnya ke dapur, lalu suara ponsel, lalu bisikan yang dipotong. Rumah Menteng ini dibangun dengan langit-langit tinggi dan lantai marmer; suara di dalamnya berjalan lebih jauh daripada yang dikira penghuninya. Ia tidak menyusul. Ia membuka folder bukti, menambah catatan waktu: *00.17 — dugaan kontak Nathan setelah penolakan.*
Ia menatap satu baris itu agak lama. Bukan karena marah. Karena baris itu rapi — dan kerapian adalah satu-satunya hal yang masih bisa ia kendalikan di rumah ini.
Keesokan siangnya, di kafe hotel dekat kantor — tempat yang dipilih Nathan karena 'netral' — Larissa duduk gelisah di depan pria itu. Raka tidak ada di sana. Yang ada adalah laporan singkat dari auditor lapangan yang Maya sewa lewat jalur resmi vendor due diligence: foto dari area publik, jarak aman, tanpa masuk kamar. Fotonya buram di tepi, diambil dari meja seberang lobi. Cukup untuk menunjukkan dua orang, satu meja, dan dua cangkir yang tidak pernah disentuh sampai pertemuan itu selesai.
Nathan mencondongkan badan. 'Dia mulai curiga. Kamu bilang dia sibuk.'
'Dia sibuk,' kata Larissa. 'Tapi sibuk dan buta beda. Saham hadiah pernikahan saya ikut di-review. Aku tidak bisa gerak.'
Jarinya memutar cincin kawinnya di bawah meja, berulang-ulang, gerakan yang tidak masuk ke dalam foto mana pun.
'Makanya percepat,' desak Nathan. 'Blok minoritas itu kunci voting di anak usaha logistik. Kalau kau timing-nya benar, kita bisa dorong valuasi joint venture ke arah yang menguntungkan saya — kita. Setelah itu, cerai tinggal formalitas. Kau tidak akan keluar dengan tangan kosong.'
Larissa menggigit bibir. 'Keenan—'
'Anak bisa diatur. Hak asuh bukan akhir dunia.'
Kalimat itu, nanti, akan sampai ke Raka dalam ringkasan Maya — dan akan menjadi paku tambahan di peti kesabaran Nathan.
Malam harinya Larissa pulang membawa bunga untuk meja makan, pura-pura cerah. 'Nathan kirim bunga ke yayasan. Bilang terima kasih sudah bantu donor. Manis, kan?'
'Sangat manis,' kata Raka, menata batang mawar di vas. Duri menusuk jempolnya. Ia tidak mengaduh. Ia melanjutkan menata, dan satu titik merah menempel di bibir vas tanpa ada yang melihatnya. 'Bilang Nathan: akses data tahap dua sudah saya setujui. Besok dia bisa unduh.'
Larissa tersenyum, lega terlalu cepat. Orang yang bersalah selalu lega terlalu cepat; itu satu-satunya kebiasaan yang tidak bisa dilatih hilang. 'Kamu baik sama dia.'
'Saya baik pada mitra yang masih berguna,' jawab Raka.
Ia mengucapkannya sambil tetap menata bunga, tanpa menoleh, dengan nada orang yang sedang membicarakan cuaca. Larissa tidak menangkap apa pun di dalamnya. Itu memang bukan kalimat untuk dia.
Di kamar Keenan, lampu tidur masih menyala kuning. Raka masuk sebentar, merapikan selimut, dan mengulang janji dalam hati — bukan janji pada keutuhan pernikahan, melainkan pada anak yang tidak memilih perang ini. Buku pesawat itu masih terbuka di halaman pendaratan, tertelungkup di lantai. Ia menutupnya, menaruhnya di meja kecil, dan mematikan lampu besar.
Di luar kamar itu, rumah Menteng tetap megah.
Di dalamnya, dua orang dewasa sudah berhenti pura-pura tidur di sisi yang sama.