Ruang board Santara Holding selalu berbau kopi mahal dan ketegangan yang disembunyikan di balik sapaan. Pagi Rabu itu, Nathan Kenzie masuk dengan jas abu-abu dan senyum sahabat lama — senyum orang yang tahu di mana toilet eksekutif tanpa ditunjuk.
Raka bangkit tepat waktu, tidak lebih cepat dan tidak lebih lambat. Dulu Nathan yang mengatur malam terakhir masa bujangnya, dulu juga Nathan yang menulis namanya paling besar di buku tamu. Ingatan itu datang tanpa diundang. Raka menyimpannya kembali seperti dokumen yang belum waktunya dibuka.
'Raka,' sapa Nathan, menjabat tangannya agak lama. 'Kau kelihatan lebih segar. Istrimu merawatmu dengan baik, rupanya.'
'Larissa memang ahli menjaga citra,' jawab Raka ringan. Kursi di sisi kanannya sengaja ia biarkan kosong untuk Nathan. 'Duduk. Kita bahas ekspansi tahap dua.'
Ruangan menyesuaikan diri seperti biasa: layar menyala, tirai turun setengah, pendingin udara mendengung di angka dua puluh satu. Raka menekan tombol presentasi dan merasakan sesuatu yang justru tenang di dadanya — perasaan orang yang sudah tahu akhir cerita dan tinggal menunggu pemainnya naik panggung.
Slide demi slide. Angka. Proyeksi. Nathan bertanya cerdas — terlalu cerdas di beberapa titik, seolah ia sudah membaca ringkasan sebelum dibagikan. Raka mencatat itu tanpa mengubah ekspresi. Di ujung meja, Maya duduk diam, pena bergerak hanya saat klausul risiko muncul.
Pertanyaan tentang margin distribusi wilayah timur datang terlalu presisi. Angka itu baru dikunci Senin malam dan belum pernah keluar dari ruangan ini. Raka menuang air untuk dirinya sendiri, pelan, supaya tangannya punya pekerjaan dan wajahnya punya waktu.
Di tengah rapat, Raka melakukan sesuatu yang membuat dua direktur saling pandang: ia menawarkan Nathan akses data gudang dan rantai pasok yang selama ini terbatas.
Salah satu direktur membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Di layar, peta gudang Cikarang dan Surabaya terbuka lebar seperti pintu yang sengaja tidak dikunci.
'Saya ingin mitra kita melihat utuh,' kata Raka. 'Kalau joint venture ini gagal karena kita pelit informasi, itu kesalahan saya.'
Nathan tersenyum lebar. 'Kau selalu lebih berani dari yang kukira.'
Kalimat itu diucapkan seperti pujian. Raka menerimanya seperti pujian. Di bawah meja, ibu jarinya menggosok pelan sisi ponsel yang layarnya sengaja ia telungkupkan.
'Keberanian tanpa jaring pengaman namanya bodoh,' sahut Raka. 'Maya akan menyiapkan protokol akses. Semua tercatat. Standar compliance.'
Nathan mengangguk. Ia tidak mendengar peringatan di kalimat itu — atau pura-pura tidak. Bagi Raka, jaring pengaman justru ada pada pencatatan itu: setiap unduhan, setiap jam login, setiap file yang disentuh akan meninggalkan jejak yang sah di pengadilan maupun di dewan.
Ia menutup map dengan gerakan yang sama seperti biasa. Tidak ada yang perlu tahu bahwa isi protokol itu sudah selesai di kepalanya sejak tiga malam lalu, dan bahwa satu-satunya nama yang benar-benar ia awasi di dalamnya adalah nama sahabat lamanya.
Rapat usai. Orang-orang bubar. Raka tidak langsung turun. Ia berdiri di balik kaca atrium lantai dua puluh, mengamati lobi utama yang seperti akuarium manusia.
Dari atas, orang terlihat lebih jujur. Mereka lupa mendongak. Marmer lobi memantulkan siang, dan langkah-langkah kecil di bawah sana bergerak seperti angka di layar yang belum dijumlahkan.
Nathan keluar dari lift. Lima menit kemudian, Larissa muncul dari pintu putar — 'kebetulan' datang membawa dokumen yayasan untuk ditandatangani di legal. Mereka bertemu di dekat pot kelapa hias. Jarak tubuh mereka sopan. Senyum mereka tidak.
Raka tidak mendengar percakapan. Ia tidak perlu. Ia melihat Nathan menyentuh siku Larissa terlalu sebentar, dan Larissa menunduk seperti perempuan yang menahan tawa. Gestur itu lebih jujur daripada seribu chat.
Ada dingin yang naik dari perut ke tenggorokan. Raka membiarkannya lewat tanpa dilawan; marah itu mahal kalau dibelanjakan di tempat yang salah. Ia menurunkan pandangan ke pantulan dirinya di kaca: kemeja putih, rahang tenang, wajah yang tidak memberi apa pun kepada siapa pun.
Ponsel Raka bergetar. Pesan dari Maya: *Protokol akses Nathan aktif. Mirror log sudah jalan.*
Raka membalas: *Bagus. Jangan hubungi saya soal ini di grup.*
Malam itu di rumah, perang pindah ke meja makan.
Meja panjang itu ditata seperti biasa — sup jagung, ayam bakar, gelas yang hanya diisi setengah. Keenan duduk di tengah, mengayunkan kaki yang belum sampai lantai. Rumah ini punya satu aturan yang tidak pernah ditulis: tidak ada suara keras di depan anak itu.
Larissa meletakkan ponsel dengan keras di samping piring. 'Aku ke bank sore ini. Dua produk investasi saya statusnya ditahan. Petugas bilang instruksi dari pihak perusahaan.'
'Benar,' kata Raka, menyendok nasi untuk Keenan dulu. 'Saya sudah bilang: review.'
'Review yang memalukan saya di depan teller, Raka. Mereka mengira saya bermasalah.'
Keenan melirik mereka bergantian. Raka mengusap rambut anak itu. 'Makan dulu, Nak. Mama Papa lagi bahas kerjaan.'
Piring Keenan berdenting pelan. Anak itu menunduk ke lauknya, tapi bahunya masih naik sedikit — tanda bahwa ia mendengar lebih banyak daripada yang orang dewasa kira.
Setelah Keenan fokus ke lauknya, Larissa menurunkan suara. 'Kamu marah sama saya? Ada apa?'
Raka menatap istrinya lama — cukup lama untuk membuat orang bersalah gelisah, cukup pendek untuk belum menjadi tuduhan. 'Saya marah pada risiko. Bukan pada kamu. Belum.'
Kata 'belum' jatuh di antara mereka seperti sendok yang jatuh ke marmer.
Tidak ada yang memungutnya. Di dapur, keran mengalir sebentar lalu berhenti.
Larissa memucat tipis, lalu tertawa dipaksakan. 'Kamu aneh akhir-akhir ini.'
'Saya CEO yang sedang mengamankan rumah dan perusahaan di saat yang sama,' kata Raka. 'Kalau itu aneh, mungkin selama ini saya terlalu longgar.'
Larissa mengaduk sup yang tidak ia makan. Jari-jarinya rapi, kukunya baru, dan cincin di jari manisnya memantulkan lampu gantung setiap kali tangannya bergerak.
Nathan menelepon Larissa dua jam kemudian — Raka tahu karena nama itu sempat muncul di layar ponsel yang terbuka di meja rias, sebelum Larissa sempat putar layar. Ia tidak menghadang. Ia membiarkan. Ikan yang merasa laut masih luas akan berenang lebih dalam ke jaring.
Raka mendengar pintu kamar rias tertutup, lalu suara yang ditahan di balik pintu itu. Ia tidak mendekat. Kalimat semacam itu selalu kembali sendiri: lewat log, lewat tagihan, lewat jam yang tidak cocok dengan cerita.
Di sofa ruang kerja, Raka membuka catatan barunya. Judul halaman: *Sahabat*. Di bawahnya ia menulis satu kalimat.
Tintanya biru, hurufnya kecil dan rapat, seperti tulisan orang yang sudah memutuskan untuk tidak berteriak.
*Ia makan di mejaku. Ia tidur dengan istri saya. Ia akan keluar dari kedua tempat itu tanpa pintu depan.*
Ia membacanya sekali, lalu menutup buku itu tanpa merobek halamannya. Yang ditulis dengan tangan tidak meninggalkan jejak di server siapa pun.
Raka mematikan lampu. Di luar, Menteng sunyi. Di dalam, rumah itu tetap utuh — dan justru karena itu, perang bisa berlangsung lebih lama daripada ledakan.