Sabtu pagi tiba dengan langit biru yang terlalu cerah untuk suasihat rumah. Raka sudah bangun pukul enam, lebih awal dari biasa. Ia berjalan mondar-mandir di ruang tamu, memeriksa barang-barang yang mungkin perlu dibawa Keenan: jaket, topi, botol minum, obat demam cadangan, dan satu buku tentang tata surya yang baru dibeli kemarin. Semua dimasukkan ke tas ransel kecil.
Keenan bangun pukul tujuh lewat lima belas. Raka membantunya mandi dan memakai pakaian yang sudah disiapkan: kaus biru, celana jeans, dan sepatu kets putih. Pakaian santai, tidak seperti hari-hari sekolah. Sesuatu yang menandakan hari ini berbeda.
'Mama jemput di sini?' tanya Keenan, mengamati jendela.
'Di depan gerbang,' jawab Raka. 'Seperti janji.'
Keenan mengangguk, tapi tangannya tidak berhenti memainkan resleting tas. Raka mengenali gerakan itu: anaknya cemas. Ia duduk di tepi tempat tidur, menatap mata Keenan yang sama-sama warnanya dengan mata Larissa.
'Nak, hari ini kamu main sama Mama. Tidak ada tes, tidak ada pertanyaan sulit. Kalau Mama tanya apa kabar, kamu bilang apa adanya. Kalau Mama tanya apa yang kamu mau, kamu bilang.'
'Tapi apa yang tidak boleh saya bilang?'
Raka terdiam. Pertanyaan itu menusuk. Anaknya sudah belajar bahwa ada kata-kata yang harus difilter. 'Kamu boleh bilang apa saja yang kamu rasakan. Yang tidak boleh kamu lakukan adalah menyimpan sesuatu yang berat sendirian. Kalau ada yang membuat kamu sedih, bilang ke Papa nanti malam. Janji?'
'Janji,' kata Keenan pelan.
Pukul sepuluh kurang lima menit, bel gerbang berbunyi. Raka membuka dari panel di dinding. Di layar kecil, Larissa terlihat berdiri di samping mobil kecil berwarna putih. Pakaiannya sederhana: blus putih, celana panjang abu-abu, rambut dikuncir. Tidak ada perhiasan berlebihan. Tidak ada makeup tebal. Ia terlihat lebih muda dan lebih kecil dari yang Raka ingat. Atau mungkin Raka yang baru melihatnya tanpa lapisan citra.
Raka membuka gerbang dari dalam. Larissa masuk dengan langkah hati-hati, seolah lantai marmer bisa menyerapnya kapan saja. Ia membawa satu kotak kecil di tangan kiri.
'Ini kue kesukaan Keenan,' katanya. 'Dari toko lama di dekat rumah Papa.'
'Terima kasih,' kata Raka. Ia mengambil kotak itu, meletakkannya di meja konsol. 'Keenan siap.'
Keenan muncul dari tangga. Ia berhenti di anak tangga terakhir, seolah jarak antara dia dan ibunya tiba-tiba lebih jauh dari yang diperkirakan. Larissa tersenyum, tapi senyumnya goyah.
'Halo, sayang,' katanya.
'Halo, Mama,' jawab Keenan. Suaranya datar, sopan, seperti anak yang sedang berlatih menjadi tamu di rumah sendiri.
Raka merasakan sesuatu di dadanya — bukan amarah, melainkan rasa sesak yang lebih sulit diobati. Ia ingin memeluk anaknya dan mengatakan bahwa semua ini akan kembali seperti semula. Tapi ia tidak bisa berjanji pada kebohongan.
'Mama bawa kamu ke kebun binatang,' kata Larissa. 'Kamu masih suka, kan?'
Keenan mengangguk. 'Suka. Tapi... apa Papa ikut?'
'Tidak, Nak,' kata Raka lembut. 'Papa ada urusan kantor. Mama yang ajak.'
Keenan menatap ayahnya, mencari sesuatu. Raka memberikan anggukan kecil, sebanyak mungkin tanpa berbohong. Anak itu kemudian melangkah mendekati ibunya, tapi tidak memeluknya seperti biasa. Ia berdiri di samping Larissa, jarak setengah langkah.
Larissa menunduk, rambutnya menutupi sebagian wajah. 'Saya pulang sebelum makan malam,' katanya kepada Raka. 'Sesuai kesepakatan.'
'Sebelum makan malam,' ulang Raka. 'Telepon kalau ada apa-apa.'
'Tentu.' Larissa meraih tangan Keenan. Anak itu membiarkannya dipegang, tapi jari-jarinya tidak menggenggam balik dengan erat.
Raka mengantar mereka sampai gerbang. Ia melihat mobil putih itu melaju pelan, menghilang di tikungan jalan. Di dalam dada, perasaan yang ia coba tahan semalaman akhirnya naik ke tenggorokan. Bukan karena ia kehilangan. Bukan karena ia menang. Melainkan karena untuk pertama kali, ia melihat anaknya menjadi medan bagi dua orang dewasa yang gagal menjaga rumah.
Ia kembali ke dalam. Rumah terasa lebih sunyi dari sebelumnya. Kotak kue di meja konsol terlihat seperti barang asing yang tidak diminta. Raka membukanya sebentar, mencicipi potongan brownies. Manis, sedikit pahit di ujung lidah. Sama seperti pagi ini.
Ponselnya bergetar. Pesan dari Maya: Ada wartawan yang tanya soal kehadiran Ibu Larissa dan anak di kebun binatang. Mungkin ada yang bocor dari jadwal.
Raka merasa tangan dingin. Ia membalas: Siapa yang bocor?
Maya: Belum tahu. Tapi saya sudah hubungi humas yayasan untuk standby di lokasi kalau diperlukan. Tidak perlu panik.
Raka tidak panik. Ia sudah lewat dari fase itu. Tapi ia kesal karena hari pertama hak kunjungan sudah tidak murni.
Ia menekan nomor Maya. 'Jangan kirim siapa-siapa dulu. Biarkan mereka pergi sebagai ibu dan anak. Jika wartawan muncul, baru kita tanggap dengan sopan. Kehadiran humas justru membuatnya terlihat seperti acara.'
'Baik,' kata Maya. 'Anda yakin?'
'Saya yakin. Anak saya tidak butuh pengawal di hari pertamanya dengan ibunya.'
Setelah mematikan ponsel, Raka duduk di sofa dan menatap foto keluarga di dinding — foto yang diambil dua tahun lalu, di ulang tahun Keenan yang keenam. Tiga orang yang pernah menjadi keluarga. Ia tidak menghapus foto itu. Menghapus foto bukan strategi. Menghapus foto adalah luka yang terlihat.
Pukul satu siang, Larissa mengirim satu foto: Keenan di depan kandang gajah, tersenyum tipis. Raka menatapnya lama. Senyum anaknya tidak lebar seperti biasa, tapi setidaknya ada. Itu hanya bukti bahwa anaknya masih bisa tersenyum meskipun dunianya berubah.
Raka membalas: Terima kasih.
Tidak ada jawaban.
Sore itu, Raka menyempatkan diri merapikan ruang kerja. Ia membuang kertas-kertas lama dan menutup folder bukti yang sudah tidak perlu dibuka setiap hari. Anaknya butuh ayah yang tidak terus terjebak di ruang kerja.
Pukul enam sore, mobil putih itu kembali. Keenan turun dengan mata lelah tapi pipi merah karena panas. Di tangannya ada boneka jerapah kecil.
'Papa, Mama beliin ini,' katanya.
'Bagus,' kata Raka. 'Kamu berterima kasih?'
'Berterima kasih.'
Larissa keluar dari mobil, tapi tidak masuk ke dalam. Ia berdiri di gerbang, menatap Raka dengan mata yang sama seperti di meja makan saat menandatangani perjanjian. 'Dia baik-baik saja. Agak diam di perjalanan pulang, tapi tidak menangis.'
'Terima kasih,' kata Raka.
'Besok?'
'Sesuai kesepakatan. Kamu bisa telepon malam ini kalau dia mau bicara.'
Larissa mengangguk. Sejenak ia terlihat ingin mengatakan sesuatu — maaf, atau sesuatu yang lebih rumit. Tapi ia hanya berkata: 'Selamat malam, Raka.'
'Selamat malam.'
Mobil itu pergi. Raka mengantar Keenan masuk, membantunya melepas sepatu. Di tangga, anak itu berhenti dan berkata pelan: 'Mama terlihat sedih, Papa.'
Raka berjongkok, menatap mata anaknya. 'Kadang orang dewasa sedih. Itu bukan tanggung jawab kamu.'
'Kamu juga sedih, kan?'
Raka tidak menjawab langsung. Ia menarik Keenan ke pelukan, membiarkan anak itu bersandar di bahunya. 'Papa sedang belajar tidak sedih. Itu butuh waktu.'
Keenan mengangguk, seolah itu masuk akal. Mereka naik ke kamar, membaca dua halaman buku tata surya, lalu Raka menunggu sampai anaknya tertidur.
Di luar jendela, Menteng gelap dan sunyi. Raka berdiri di sana beberapa saat, memikirkan hari pertama hak kunjungan. Tidak ada ledakan. Tidak ada skandal. Hanya sebuah hari yang berjalan dengan hati-hati, seperti orang sakit yang baru belajar berjalan lagi. Dan di suatu tempat di apartemen orang tua Larissa, seorang ibu mungkin juga sedang menatap kekosongan, bertanya-tanya apakah hari ini adalah awal atau akhir.