Senin pagi, pasar membuka dengan kabut tipis di atas indeks. Raka memantau layar di ruang CEO sambil minum kopi yang sudah dingin. Harga saham Santara Holding stabil, tidak naik tapi juga tidak jatuh. Itu cukup untuk minggu pertama pasca-perjanjian. Stabilitas adalah kemenangan kecil yang sering tidak dihargai.
Maya masuk tanpa mengetuk, membawa tablet. 'Ada gerakan.'
Raka meletakkan cangkir. 'Jelaskan.'
'Tiga pemasok kunci di Jawa Tengah dan Jawa Timur menerima penawaran informal dari perusahaan bayangan. Harga di atas pasar lima belas persen untuk kontrak eksklusivitas jangka panjang. Mereka tidak menyebut nama, tapi struktur penawaran mirip dengan cara Nathan bernegosiasi — termin pendek, bonus volume, klausul ganti rugi yang agresif.'
Raka merasa otot di rahangnya menegang. Nathan kalah di meja makan, tapi Nathan bukan tipe yang menyerah dengan tangan kosong. Kalau tidak bisa menyerang dari depan, ia akan menyerang dari samping.
'Dia mencoba merusak rantai pasok kita,' kata Raka. 'Kalau pemasok pindah, proyek ekspansi gudang tertunda. Kalau proyek tertunda, pasar mulai bertanya. Kalau pasar bertanya, rumor lama hidup lagi.'
'Tepat,' kata Maya. 'Tapi ada celah. Dia tidak punya modal besar setelah pelepasan klaim. Penawarannya kemungkinan didukung pinjaman dari keluarga istrinya atau investor kecil. Kalau kita bisa buat pemasok ragu, dia akan kehabisan napas.'
Raka berdiri, berjalan ke kaca jendela. 'Kita tidak membalas dengan harga lebih tinggi. Itu perang yang tidak pernah menang. Kita membalas dengan kepastian.'
Ia memerintahkan Maya untuk menyiapkan tiga hal. Pertama, surat jaminan perpanjangan kontrak dari Santara Holding untuk pemasok yang tetap setia, dengan uang muka yang lebih lunak. Kedua, audit cepat pada kualitas dan kapasitas perusahaan bayangan Nathan — jika ada kelemahan, pemasok harus tahu bahwa mitra baru mereka mungkin tidak sanggup memenuhi janji. Ketiga, kunjungan langsung dari tim operasional ke lokasi pemasok untuk mendengarkan kekhawatiran mereka.
'Bukan uang yang dibawa,' kata Raka. 'Tapi stabilitas. Pemasok kecil lebih takut pada ketidakpastian daripada tertarik pada harga tinggi.'
Maya mencatat. 'Saya kerjakan hari ini. Ada lagi?'
'Ada. Cek apakah Nathan juga mendekati karyawan kita. Bagian keuangan, bagian logistik, siapa saja yang punya akses data sensitif. Kalau dia bisa merusak dari luar, dia bisa juga merusak dari dalam.'
'Anda pikir dia masih punya orang dalam?'
'Saya pikir dia tidak punya pilihan selain mencoba.'
Sore itu, Raka menerima telepon dari salah satu pemasok lama, Bapak Sutanto, pria berusia enam puluhan yang sudah bekerja sama dengan Santara sejak ayah Raka masih aktif. Suaranya tegang tapi sopan.
'Pak Raka, ada yang menghubungi kantor saya. Penawaran bagus. Saya tidak mau ambil, tapi saya juga tidak mau rugi. Bapak mengerti?'
'Saya mengerti, Pak Sutanto. Besok tim saya ke sana. Kita bicara kontrak jangka panjang dengan uang muka yang lebih baik. Bukan tawar-menawar. Kita perpanjang ikatan.'
'Terima kasih, Pak. Saya hanya ingin tenang. Bapak dan ayah Bapak selalu bikin saya tenang.'
Telepon itu mengingatkan Raka pada sesuatu yang hampir ia lupakan: bisnis ini bukan hanya angka. Ada orang-orang di dalamnya yang sudah mengikat nasib mereka dengan nama keluarganya. Kalau ia gagal, yang jatuh bukan hanya saham. Ada ratusan keluarga yang bergantung pada keputusannya.
Malam itu, Raka pulang lebih lambat dari biasa. Keenan sudah tidur. Pengasuh menyampaikan bahwa anak itu menunggu sampai pukul sembilan sebelum akhirnya mengantuk. Raka merasa bersalah, tapi ia tahu bahwa membiarkan Nathan merusak rantai pasok tanpa tanggapan akan membuatnya pulang lebih sering larut di masa depan.
Ia masuk ke ruang kerja, membuka laptop, dan meninjau laporan Maya. Tiga pemasok kunci sudah setuju perpanjang kontrak. Dua pemasok lain masih ragu. Satu perusahaan bayangan Nathan ternyata belum punya izin lengkap untuk gudang besar — sesuatu yang bisa membuat pemasok berpikir dua kali.
Raka membalas email Maya: Gunakan informasi izin dengan hati-hati. Jangan sebar langsung. Biarkan pemasok yang ragu menemukan sendiri saat mereka due diligence.
Ini adalah strategi diam versi bisnis: tidak menyerang, hanya memastikan bahwa kebenaran tersedia pada waktu yang tepat.
Pukul sebelas malam, ponselnya bergetar. Nomor tidak dikenal. Raka mengangkat dengan hati-hati.
'Raka,' suara Nathan di seberang. 'Kau pikir kau menang?'
Raka tidak terkejut. 'Saya pikir saya sedang membersihkan kekacauan, Nathan. Kau punya bagian di dalamnya.'
'Pemasok-pemasokmu akan pergi. Investor akan dengar cerita yang lebih menarik. Kau tidak bisa membungkam semua orang dengan perjanjian kertas.'
'Saya tidak membungkam siapa-siapa. Saya hanya memastikan bahwa orang yang mau bicara punya fakta, bukan hanya amarah.'
Nathan tertawa pendek, getir. 'Larissa sudah tidak berguna bagimu. Tapi dia masih berguna bagiku. Ingat itu.'
Raka menutup telepon. Ia tidak membalas. Tidak ada yang perlu dibalas. Ancaman seperti itu hanya berarti Nathan kehabisan kartu bagus.
Tapi di keheningan yang menyusul, Raka menyadari bahwa ancaman itu bukan tentang Larissa — itu tentang dirinya. Nathan ingin Raka mengira bahwa pintu yang sudah ia tutup bisa dibuka kembali dari luar. Ia ingin Raka cemburu, marah, atau lebih buruk: ia ingin Raka bergerak melawan Larissa dan menciptakan konflik baru di depan publik. Raka tidak akan memberikan Nathan kemudahan itu. Larissa adalah masalahnya sendiri, dan sudah ia tangani dengan perjanjian. Nathan adalah masalah yang berbeda, dan tidak akan ia campur dengan luka lama yang sudah mulai mengering.
Tapi malam itu, setelah menyimpan laptop, Raka tidak langsung tidur. Ia naik ke kamar Keenan, melihat anaknya tertidur dengan mulut sedikit terbuka, seprai setengah terlepas. Ia merapikan selimut, menurunkan lampu tidur, dan berdiri di samping tempat tidur beberapa menit.
Nathan bisa merusak perusahaan. Nathan bisa merusak citra. Tapi yang paling berbahaya adalah jika Nathan menemukan cara untuk merusak hubungan Raka dengan Keenan. Itu satu medan yang tidak boleh Raka kalah.
Ia turun ke dapur, membuat teh hangat, dan duduk sendiri di meja yang terlalu besar. Di tengah malam, rumah Menteng terasa seperti istana kosong. Kemenangan di dewan, kemenangan di meja makan, kemenangan di pasar — semuanya terasa ringan di tengah kesunyian ini. Raka minum tehnya perlahan, merasakan hangat menuruni tenggorokan, dan berjanji pada diri sendiri: besok, setelah mengamankan pemasok, ia akan pulang lebih awal. Satu hari penuh untuk Keenan. Itu janji yang lebih penting dari setiap kontrak.